
Mendengar itu semua Bagas menjadi panik sendiri sebab ia tahu obat pe rang sang yang dimaksud oleh Feni itu jenisnya seperti apa. Membuat laki-laki itu bergegas menghampiri Ranum.
"Kamu pasti sudah mengerti apa yang dimaksud oleh wanita yang tadi, jadi aku mohon selamatkan Tuan Al," ucap Bagas yang melihat Al sudah membuka seluruh pakaian yang dikenakan oleh laki-laki itu.
Ranum yang benar-benar tidak mengerti menatap Bagas. "Aku harus menolong Tuan Al dengan cara apa Bagas? Sungguh aku tidak tahu." Ranum lalu mendengar kalimat Al yang terus-menerus mengucapkan kata panas berulang kali. "Katakan Bagas, apa yang harus aku lakukan?" tanya Ranum yang merasa kasihan pada sang suami.
Bagas menghela nafas sebelum menjawab, "Kamu harus menolong Tuan Al dengan cara membuat adik untuk Nona muda Agna."
Saat Ranum mendengar itu detik itu juga wanita itu kesulitan menelan salivanya. "Kenapa harus dengan cara begini lagi Bagas, tidak adakah cara lain?" Ranum bertanya sambil meremas ujung baju yang ia kenakan saat ini. "Jawab aku, Bagas, tidak adakah jalan lain?"
"Dengan sangat berat hati saya mengatakan, kalau itu hanya satu-satunya cara untuk menyelamatkan Tuan Al jika tidak maka, Tuan Al akan ...." Bagas menjeda kalimatnya.
"Akan apa Bagas? Kalau kamu ngomong jangan setengah-tengah seperti ini. Karena kamu membuatku merasa semakin taut saja."
"Akan ... akan, kehilangan nyawanya karena kali ini obat pe rang sang itu bisa merusak saraf-saraf otak Tuan Al jika saja apa yang harus dikeluarkan tidak bisa keluar, saya harap kamu bisa mengerti sampai di sini," jawab Bagas dengan raut wajah yang semakin terlihat sangat panik. "Ayo pikirkan matang-matang Ranum, karena jika kamu tidak mau saya bisa mencari wanita malam yang masih tersegal. Namun, saya tidak yakin kalau bisa menemukan wanita malam itu dengan cepat," kara Bagas.
Sehingga membuat Ranum memelototi laki-laki itu. "Apa yang kamu katakan Bagas? Apa kamu ingin melihat Ayahnya Agna bermain di atas ranjang bersama wanita kain? Dimana letak otakmu? Apa kamu pikir aku akan membiarkan itu semua akan terjadi? Kamu salah besar Bagas!"
__ADS_1
"Jangan berdebat seperti ini, lihatlah Tuan Al sudah kehilangan kendali," ujar Sonia yang juga merasa khawatir dengan keadaan Al. "Keputusan ada pada tanganmu Ranum, bersedia atau tidak?"
"Keluarlah, dan kunci pintu itu sebelum aku meminta kalian untuk membukanya maka jangan di buka." Pada akhirnya wanita itu bersedia melayani suaminya sendiri. Karena ibunya Agna itu tidak mau sesuatu terjadi kepada Al. "Sana kalian keluarlah, biarkan aku menyelesaikan ini semua. Meskipun selalu saja dalam pengaruh obat pe rang sang aku bisa melayani Tuan Al," ucap Ranum pelan.
"Semoga ini belum terlambat," kata Bagas sambil mengajak Sonia keluar dari ruang VVIP itu. "Kalau terjadi sesuatu segara ketuk pintu ini," lanjut Bagas sebelum laki-laki itu benar-benar keluar dari sana.
"Bagas, apa kamu yakin membiarkan Ranum sendi–" Kalimat Sonia terputus gara-gara Bagas menutup mulut gadis itu.
"Apa kamu mau menonton adegan dewasa itu, secara langsung?" tanya Bagas sesaat setelah ia menutup pintu itu.
Bagas menggeleng. "Jangan ngadi-ngadi, sekarang ayo kita tunggu di sana."
*Ketika Al melihat Ranum mendekat pikiran laki-laki itu langsung liar di saat melihat lekuk tubuh sang istri. Meski ia dalam pengaruh obat pe rang sang dan juga minuman keras, tapi Al masih bisa mengenali wanita itu meskipun kesadaran laki-laki itu hanya tinggal beberapa persen saja.
"Ranum ...," panggilnya lirih sambil mencoba berdiri dari sofa. "Kenapa kamu malah datang ke sini? Bukankah kamu sedang bersenang-senang dengan laki-laki yang kamu cintai itu?" tanya Al sambil berjalan sempoyongan. Dan dengan suara yang tidak terlalu terdengar begitu jelas. Karena efek obat per rang sang itu sepertinya sudah bekerja. Karena Al terlihat sudah mulai membuka celananya.
Sedangkan Ranum terlihat mulai mendekati Al dengan tubuh yang gemetaran. Karena meskipun ini bukan yang pertama kali, tapi wanita itu merasa gugup dan begitu gerogi. Sebab kali ini ia dengan suka rela memberikan tubuhnya pada sang suami, tanpa dasar paksaan seperti seblum-sebelumnya.
__ADS_1
"Mas Al ...." Kini Ranum yang memanggil Al. Sehingga membuat laki-laki itu menyungkingkan senyum simpul. "Mas Al, maafkan aku," ucapnya pelan. Sambil membuka seluruh pakiannya. Dan membuat Al semakin terlihat seperti singa yang sedang kelaparan. Ranum yang melihat itu semua membuat bulu kuduk ibunya Agna itu berdiri, karena ia baru kali ini melihat tatapan Al yang penuh memuja dan penuh gelora serta na fsu. "Ini semua hanya demi menyelamatkan Mas Al," kata Ranum yang kemudian memejamkan mata saat Al meraih tubuh berisinya dan laki-laki itu dengan cepat menggendong Ranum, dan segera membawa wanita itu ke atas sofa. Dengan tubuh mereka yang sekarang sama-sama polos tanpa menggunakan benang sehelaipun.
Detik berikutnya ketika Ranum sudah di baringkan di atas sofa. Al dengan rakusnya menyesap kedua benda kenyal milik wanita itu. Tanpa melihat wajah sang istri yang sekarang sedang menggigit bibir supaya suara de sa hannya tidak keluar. Sebab Ranum benar-benar merasa cairan di dalam rahimnya akan tumpah ketika sang suami juga memainkan dua jarinya di bawah pusar wanita itu.
Namun, ketika di tengah-tengah permainan yang sebantar lagi akan mencetak gol, tiba-tiba saja Al berbisik pada daun telinga sang istri dan berkata, "Aku mencintai kamu, aku mohon, jangan tinggalkan aku dan putri kecil kita Agna." Setelah mengatakan itu Al tanpa perlu berlama-lama langsung saja memasukkan pusakanya ke dalam goa sempit milik sang istri. Membuat Ranum tidak tahan lagi dan pada saat itu juga suara de sa han wanita itu terdengar bersamaan dengan hentakan laki-laki yang sudah sangat haus dengan bau-bau air pandan.
**
Di luar Bagas dan Sonia merasa cemas karena ini sudah hampir satu jam tapi Ranum tidak kunjung keluar dari ruangan VVIP itu.
"Apa kita dobrak saja pintu ini?" tanya Bagas pada Sonia. Yang saat ini terlihat sedang memegang dagu, karena gadis itu saat ini sedang berpikir. "Kalau aku dobrak terus mereka masih anu, bagaimana?"
"Kita tunggu saja dulu sampai beberapa menit, kalau tidak keluar kita dob–" Kalimat Sonia menggantung di udara karena ia melihat pintu ruangan VVIP itu mulai terbuka. Dan terlihatlah Ranum dengan rambut yang sangat berantakan juga terlihat jelas bekas ikan ****** di lehar ibunya Agna itu.
...****************...
__ADS_1