
"Tuan kata Sonia, Ry ternyata kuliah di sana juga," ucap Bagas memberitahu Al ketika ia melihat laki-laki itu sedang
menandatangani beberapa berkas. "Apa sebaiknya Ranum pindah saja?"
Al yang mendengar itu langsung saja mengangkat wajahnya, dan meletakkan bolpoin yang ia pegang. "Kenapa laki-laki itu terus saja mengikuti, Ranum?" Al malah mengabaikan pertanyaan Bagas. Dan ia malah bertanya balik. "Apa laki-laki itu benar-benar mencintai Ranum? Sampai-sampai dia rela kembali ke Indonesia demi bertemu dengan Ranum dan membatalkan niatnya untuk ikut tinggal bersama dengan ibunya."
"Yang saya tahu, papanya Ryder memenangkan hak asuh anak. Oleh sebab itu Ry kembali ke sini Tuan. Jadi, bukan karena Ranum," jawab Bagas yang tidak mau membuat tuannya itu akan salah paham. "Intinya Ryder kembali, karena papanya memenangkan hak asuhnya," lanjut Bagas.
"Tapi tidak masuk akal sekali, dia bisa kuliah disana juga Bagas, apa kamu tidak bisa berpikir? Bahwa dia kuliah disana karena Ranum." Al merasa ini sesuatu yang sangat aneh. "Pokoknya ini bukan suatu hal yang kebetulan, Bagas. Pokoknya kamu harus mengurus surat pindahnya Ranum. Bila perlu kamu ikut memindahkan Sonia juga."
"Saya tadi niatnya begitu Tuan, tapi Universitas terbaik di jakarta ini hanya kuliah yang itu saja. Jadi, apa yang harus saya lakukan? Dan apa keputusan Tuan?"
Al terdiam karena apa yang dikatakan oleh Bagas memang benar kalau Universitas tempatnya Ranum kuliah itu adalah Universitas terbaik di Jakarta. Jadi, Al saat ini sedang dilanda kebimbangan. Sebab ia tidak tahu harus memindahkan Ranum atau tidak. "Begini saja Bagas, suruh salah satu anak buahmu untuk memata-matainya, kalau dia kuliah hanya untuk berpacaran saja. Maka dari itu kamu boleh memindahkannya."
"Berpacaran seperti apa maksud Anda Tuan? Bukankah Ranum sudah tahu status Anda dengan dirinya adalah pasangan suami istri dan itu tidak mungkin akan membuatnya berani macam-macam. Di belakang Anda Tuan." Bagas saat ini sedang berusaha menenangkan hati tuannya itu. Karena ia tahu kali ini Al benar-benar merasa cemburu. Dapat dilihat dari raut wajah laki-laki yang saat ini terlihat sedikit masam itu.
"Sudahlah Bagas, jangan bahas Ranum lagi, lakukan apa yang ingin kamu kerjakan. Dan jangan ganggu konsentrasiku saat dalam bekerja begini," ucap Al yang merasa moodnya tiba-tiba saja berubah. "Sana, duduk kembali bekerja, supaya hari ini kita cepat pulang karena, semenjak ada Agna aku tidak betah berlama-lama ada di kantor."
"Baiklah Tuan, kalau begitu saya akan melanjutkan pekerjaan saya," kata Bagas yang kemudian kembali akan duduk di kursi kerjanya. "Supaya hari ini cepat pulang," sambung Bagas.
***
Pulang kuliah Ranum tersenyum di saat melihat Agna sedang digendong oleh Flora. "Siang Agna sayang, Bunda sudah pulang kuliah," kata Ranum dengan senyum yang semakin mengembang di bibirnya. "Siang juga buat suster Flo, terima kasih karena sudah mau menjaga Agna dan juga mama." Sekarang giliran Flora yang di sapa Ranum.
__ADS_1
"Hei Bunda Agna, saat ini Agna sudah bobok tadi habis minum susu." Flora terlihat menjauh dari Ranum karena suster itu tahu kalau Ranum tidak boleh menyentuh bayi itu ketika habis bepergian atau dari luar seperti saat ini. "Bunda mandi dulu, habis itu baru boleh gendong Agan," kata Flora yang terlihat membawa Agna masuk ke kamar tempat Anggun masih terbaring koma.
Ranum mengangguk. "Kalau begitu tunggu Bunda mandi dulu Agna, setelah itu baru Bunda gendong." Ranum lalu seperti biasa akan berjalan ke arah lemari pendingin dulu untuk menaruh botol asi yang telah ia pompa. Waktu jam istirahat di saat ia kuliah.
"Sekalian ambilkan aku air dingin," ucap gadis cempreng yang tadi membuat Ranum sedikit kesal di saat mereka ada di dalam mobil.
"Lho, kamu nggak pulang yang tadi?" tanya Ranum karena tadi kata Sonia, gadis itu tidak mau hampir tapi sekarang si gesrek itu sudah ada di sofa dan sedang merebahkan tubuh di sana.
"Aku lupa, kalau aku ini mau melihat Agna. Mungkin juga keponakanku itu mau melihat Auntynya yang cantik ini," balas Sonia menjawab Ranum. "Sekarang dimana Agna?"
"Mandi dulu, habis itu baru boleh ketemu sama Agna. Mengingat tubuh bayi itu masih sangat rentan."
"Siap nanti aku mandi di kamar mandimu, kamu saja yang duluan gih," ujar Sonia yang menyuruh Ranum duluan yang mandi.
"Aku taruh asiku dulu, setelah itu baru aku mandi."
"Nanti aku kasih tahu di dalam kamar, disini ada cctv nggak enak di dengar oleh Tuan Al," sahut Ranum dengan suara yang sangat pelan. Sehingga Sonia saja tidak bisa mendengarnya.
"Hah, kamu ngomong apa, aku yang tuli atau suaramu yang kekecilan, sih?!"
Ranum menutup bibirnya sendiri menggunakan jari telunjuknya, mengisyaratkan bahwa Sonia tidak usah berbicara terlalu keras.
***
__ADS_1
Sore menjelang ketika Ranum dan Sonia sedang bercanda gurau di dalam kamar. Tiba-tiba saja Al masuk ke dalam kamar itu dan seperti biasa laki-laki itu tidak mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Sonia, bisa keluar sebentar. Karena aku ingin berbicara empat mata dengan Ranum," ucap Al.
Sonia dan Ranum sama-sama menoleh ketika Al mengatakan itu. Dua gadis yang beda status itu sama-sama saling pandang.
"Sonia," panggil Bagas yang ada di belakang Al. "Ayo, keluar dulu."
Sonia menyipitkan mata sambil berkata, "Ada apa? Kenapa aku harus keluar, belum juga aku puas melihat Agna." Sonia menatap Al dan Bagas secara bergantian. "Oke, aku keluar." Gadis itu lalu terlihat turun dari ranjang. "Dadah Agna, Aunty keluar dulu. Baik-baik sama bunda dan ayah kamu." Ia lalu berjalan ke arah pintu di mana Bagas menunggunya juga di sana.
*
Hening, beberapa menit hingga detik berikutnya Al membuka suara.
"Ranum, apa kamu akan tetap seperti ini?" tanya Al.
Ranum yang tidak paham maksud Al menatap laki-laki itu untuk meminta penjelasan. "Tetap seperti ini, yang Anda maksud apa Tuan?"
"Aku ingin kepastian darimu," jawab Al lalu memberikan Ranum surat perceraian. "Pasti setelah kamu melihat ini, kamu akan mengerti kepastian seperti apa yang aku maksud."
"Apa Anda ingin menceraikan aku, Tuan?" Kini sudut mata Ranum mulai terlihat berembun.
"Aku butuh kepastian Ranum, karena tidak mungkin kita akan begini terus. Mengingat aku adalah laki-laki normal yang rindu akan belaian seorang istri. Tidakkah kamu mengerti sampai di sini?"
__ADS_1
...****************...