Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 128


__ADS_3

"Tadi katanya lapar, tapi kenapa sekarang nasi sama lauknya, cuma di aduk-aduk saja?" tanya Al pada sang istri yang benar saat ini Ranum cuma terlihat mengaduk-ngaduk makanannya saja, yang dihidangkan di atas meja tepat di depan ibunya Agna itu.


Ranum tidak menjawab sang suami, karena saat ini pikiran wanita itu terus saja mengarah pada ayah mertuanya. Sehingga membuat Ranum mengabaikan dan menghiraukan pertanyaan Al. Sebab wanita itu sampai sekarang masih saja berusaha menebak-nebak apa yang sebenarnya telah terjadi.


Al yang terlihat sedang menaruh Agna di pangkuannya, merasa kalau Ranum saat ini pasti sedang melamun membuat laki-laki itu mencolek tangan Ranum beberapa kali. Sambil memanggil nama ibunya Agna itu berulang kali. "Ranum, Ranum ... Ranum ... Num," panggil Al dan pada detik itu juga. Ranum terlihat langsung saja menatap sang suami. "Lagi mikirin apa dari tadi? Dan apa makanannya tidak enak, sehingga kamu tidak berselera untuk memakan semua makanan ini?" Al bertanya lagi, karena ia tahu sejak memberikan Agna asi Ranum menjadi super lahap dalam makan. Tapi lihatlah kali ini wanita itu terlihat tidak berselera makan sama sekali.


"Aku tidak memikirkan apapun dari tadi Mas Al, dan makanan ini sangatlah enak, tapi ...." Setelah lama terdiam akhirnya Ranum menjawab sang suami. Namun, kalimatnya ia sengaja menjedanya.


"Tapi apa?"


"Ah, lupakan saja Mas, gimana kalau semua makanan ini di bungkus saja, karena entah mengapa perutku mendadak sakit," ucap Ranum berbohong.


Al mengerutkan dahi. "Baiklah, tidak masalah, kalau begitu aku suruh pelayan itu dulu membungkusnya," kata Al membalas ucapan sang istri yang setuju untuk membungkus semua makanan yang ada di atas meja itu.


Ranum lalu terlihat berdiri. "Mas siniin Agna, aku sama dia nunggu Mas di parkiran saja. Enggak apa-apa 'kan, nanti Mas yang bawa semua makanan ini?"


"Iya nggak apa-apa, ini kunci mobilnya kamu sama Agna tunggu aku di dalam mobil saja," timpal Al yang kini terlihat meraih kunci mobil itu di atas meja. "Ini ...." Al kemudian memberikannya pada Ranum. "Ingat kamu harus langsung masuk ke dalam mobil, karena aku tidak mau ada sesuatu hal yang terjadi sama kamu dan Agna," ujar Al memperingati sang istri. "Karena kita tidak pernah tahu, Morea masih mengincarmu dan Agna atau tidak," sambung Al.

__ADS_1


Ranum mengangguk. "Baik Mas, aku dan Agna akan langsung masuk ke dalam mobil. Seperti yang Mas katakan tadi." Ranum memang penurut itu yang membuat Al semakin jatuh hati pada wanita itu. "Kalau begitu aku sama Agna keluar dulu, Mas."


Al terlihat mengangguk kecil tanda merespon sang istri, karena kebetulan Al saat ini terlihat sedang mengetik sesuatu pada benda pipihnya itu.


*


Setiba Ranum di parkiran ia terlihat langsung saja menuju mobil sang suami. Namun, saat ia terus saja berjalan tiba-tiba saja ada sebuah tangan keriput dan sangat kotor memegang tangan putri kecilnya itu. Membuat Ranum refleks menoleh ke sampingnya, dan pada saat itu juga Ranum sangat terkejut, karena ternyata yang memegang tangan Agna adalah kakeknya sendiri, yaitu Daniel pria paruh baya yang kini terlihat sangatlah menyedihkan.


"Ranum, maafkan papa," kata Daniel tiba-tiba sambil terus saja memegang tangan cucunya yang terlihat menatapnya dengan tatapan biasa saja dan bayi 8 bulan itu sama sekali tidak terlihat takut. "Ranum, inilah ayah mertuamu sekarang, yang begitu menjijikkan dan sangat kotor ini lebih tepat disebut sebagai gembel," ucap Daniel dengan cara terus-menerus menunjuk dirinya sendiri. "Mungkin kamu akan malu mengakui papa mertuamu ini, sama seperti Al yang malu mengakui papa," lanjut pria paruh baya itu.


Sedangkan Ranum merasa lidahnya seolah kelu, karena ia tidak pernah menyangka kalau pengemis yang ia lihat di lampu merah tadi, benar-benar Daniel, ayah mertuanya yang dulu sangat jahat. Dan tanpa Ranum tahu ternyata pria paruh baya itu mengikuti mobil Al dari lampu merah saat ia memanggilnya beberapa jam yang lalu. Sehingga Daniel sampai menemukan keberadaannya dengan Al di sebuah restoran tempatnya saat ini berada.


Ranum segera meraih tangan Daniel dan mengajak mertuanya itu untuk duduk di sebuah kursi yang terletak tidak terlalu jauh dari parkiran itu. "Pa, kita duduk di sana dulu, karena cuaca di siang ini sangat panas," kata Ranum dengan bibir yang bergetar. Karena wanita itu terlihat sedang menahan rasa sesak di da danya. Sebab ia baru kali ini ia melihat sang mertua yang selalu berpakaian rapi kini terlihat menyedihkan dengan pakaian compang-camping dan begitu sangat kotor. Membuat Ranum mengingat kalau dirinya dulu pernah berpakaian seperti itu juga belum ia kenal dengan Al. Sehingga membuatnya menjadi bercermin pada ayah mertuanya itu.


"Cucu papa umurnya sudah berapa?" tanya Daniel pada Ranum saat mereka berdua kini sudah duduk.


"Agna baru umur 8 bulan pa, apa papa mau menggendong Agna?"

__ADS_1


Daniel mantap penampilan dirinya dari atas hingga bawah. "Papa sebenarnya mau sekali menggendong Agna, tapi ... papa takut nanti pakaian Agna ikut menjadi kotor seperti papa dan juga papa takut kalau nanti cucu papa ini terkena penyakit karena papa membawa bakteri serta virus."


Mendengar itu air mata Ranum tidak bisa dibendung lagi, saat itu juga air mata wanita itu mengalir bak air hujan. Ketika ia mendengar jawaban ayah mertuanya itu. "Pa, papa tidak pernah membawa virus dan bakteri," timpal Ranum dengan suara yang serak. "Gendong saja cucu papa, mungkin Agna juga mau di gendong oleh papa," ujar Ranum yang akan menyerahkan Agna tapi tiba-tiba saja Al malah datang dan langsung mengambil bayi 8 bulan itu.


"Jangan harap! Gembel sepertimu bisa menggendong anakku!" seru Al dengan tatapan sinis pada sang ayah. "Ayo Ranum, kita pulang. Dan jangan sekali-kali kamu meladeni pengemis ini!" sambung Al ketus.


"Mas, ini papa apa Mas tidak bisa mengenali papa?"


"Aku sudah tidak punya Papa lagi Ranum, semenjak dia mem ba karku secara hidup-hidup, tepat 5 bulan yang lalu," jawab Al tanpa mau melihat sang ayah. "Sekarang lebih baik kita pulang," ajak Al sambil memegang pergelangan tangan istrinya.


"Mas, jangan seperti ini. Karena tidak ada manusia yang tidak memiliki dosa." Ranum berharap Al mau memaafkan Daniel. "Maafkan papa, dan kita ajak papa ikut pulang bersama kita, supaya keluarga kita lengkap," ucap Ranum meski ia tahu Al tidak mungkin akan setuju.


"Tidak akan pernah Ranum, karena dia sudah terlalu banyak menyakiti perasaan Mama." Al membuang muka karena laki-laki itu benar-benar tidak sudi melihat sang ayah. Sebab, apa yang ia katakan tadi memang benar kalau Daniel sudah terlalu banyak menggores luka di hati Anggun dan juga hatinya.


"Pulanglah Ranum, karena apa yang dikatakan oleh Al memang benar," ucap Daniel tiba-tiba.


......................

__ADS_1



__ADS_2