
Ketika Al masih betah membaringkan tubuhnya di atas kasur. Tiba-tiba saja Bagas langsung masuk tanpa mengetuk pintu kamar laki-laki yang sepertinya suasana hatinya itu sedang tidak baik-baik saja, hanya karena masalah tadi malam dimana ia melihat sang istri di gendong oleh laki-laki lain.
"Tuan, Tuan besar ingin bertemu dengan Anda," ucap Bagas sedikit membungkuk sambil berbisik di telinga Al dan menggoyang-goyangkan tangan tuannya itu.
Al terlihat menggeliat dan berkata, "Hm, buat apa laki-laki tua itu mencariku, masih pagi buta begini?" tanya Al dengan suara serak.
"Saya kurang tahu Tuan, tapi yang pasti Tuan besar terlihat sangat marah," jawab Bagas pelan.
Setelah mendengar itu Al dengan cepat bangun dan langsung saja berjalan ke luar. Tanpa mencuci mukanya dulu, karena laki-laki itu penasaran sebab Daniel tidak biasanya mencari Al sampai ke hotel seperti saat ini. "Laki-laki tua itu, lama-lama membuatku muak!" gerutu Al yang terus saja melangkahkan kakinya untuk segera menghampiri sang ayah.
"Minimal cuci muka dulu Tuan," ucap Bagas yang memperingati Al. "Saya tahu Anda tampan, tapi jangan keluar dengan cara begi–"
"Kamu lebih baik diam, Bagas!" sahut Al memotong ucapan Bagas dengan cepat, dan tidak lama laki-laki yang baru saja bangun dari tidurnya itu menghilang di balik pintu.
__ADS_1
"Untung ganteng, kalau tidak mirip orang gila," gumam Bagas.
***
Tamparan keras mendarat sempurna di pipi laki-laki yang terlihat baru saja bangun tidur itu. Sehingga tamparan itu sedikit membuatnya terhuyung karena, ia mendapat tamparan secara mendadak dari sang ayah.
"Dimana otak kamu, Al? Tidakkah kamu bisa menghargai Morea sebagai ibu tirimu!" Suara Daniel tiba-tiba saja menggema.
Al memegang pipinya yang terlihat memerah dengan gambar telapak tangan yang sudah terukir sangat jelas di sana. "Apa-apaan ini, kenapa Papa datang-datang langsung menamparku?!" tanya Al dengan suara yang tidak kalah lantang.
Al yang melihat itu melotot sempurna karena ia melihat kedua pipi Morea memar, sehingga menciptakan warna kebiru-biruan. Dan terlihat di sudut bibir wanita itu sepertinya sedikit terluka.
"Ini kelakuan istri kamu Al! Atas perintah dari kamu 'kan?!"
__ADS_1
"Atas dasar apa Papa menuduh Ranum melakukan itu kepada Morea? Dan apa Papa juga punya bukti kalau aku yang menyuruh Ranum melakukan ini semua kepada Morea?" Dengan menahan rasa yang sesak di dadanya karena saat ini Al berusaha menahan amarahnya. Laki-laki itu membuka suara untuk bertanya kepada sang ayah.
"Atas dasar apa katamu? Jelas-jelas istri kamu itu merasa cemburu karena Morea mengandung benih Papa, dan buktinya ini, wajah Morea sampai begini atas kelakuan istri kamu yang tidak berpendidikan itu, yang jelas ini atas perintahmu!"
Al tersenyum sinis. "Pintar sekali wanita ular ini membolak-balikkan fakta, bukankah dia sendiri yang telah mengan–"
"Tuan Al, ayah mertua Anda sudah menghembuskan nafas terakhir," kata Bagas yang tiba-tiba saja datang dan memotong kalimat Al.
...----------------...
Bonus Visual Ranum dan Al
__ADS_1
Kalau tidak cocok komen ya kak, supaya Ayuza bisa ganti😊