
"Aku sangat mengenal Ry," jawab Ranum tanpa melihat raut wajah sang suami.
"Oh ya, lo kenal Ry dimana?" tanya Vira dengan antusias karena gadis itu merasa senang, sebab Ranum mengenal laki-laki yang saat ini tempatnya menaruh rasa.
"Aku kenal dengan Ry, karena aku SMA dulu bersamanya dan sekarang kuliah juga kita di tempat yang sama." Ranum menjawab dengan mata yang terus saja menatap Ryder yang saat ini laki-laki itu sedang berdiri di belakang Vira yang sedang duduk. "Kalau kamu kenal dengan Ry, di mana?"
Vira menarik satu kursi untuk Ry, sebelum gadis itu menjawab pertanyaan Ranum. "Duduk dulu Ry, nanti kaki lo kesemutan. Dan untuk pertanyaan lo itu Num, lo bisa tanya sendiri dengan Ry."
Al yang merasa benar-benar cemburu saat ini karena laki-laki itu diam-diam memperhatikan Ranum yang menatap Ryder. Laki-laki itu berkata, "Aku ke toilet sebentar dulu, kamu bisa mengobrol-ngobrol dengan temanmu." Setelah mengatakan itu Al pergi begitu saja tanpa mendengar jawaban sang istri.
Sesaat setelah Al pergi akhirnya Ryder mau duduk di kursi yang tadi tarik oleh Vira. "Senang bertemu denganmu, Ranum," ucap Ruder sambil tersenyum sehingga memperlihatkan lesung pipi laki-laki itu.
"Aku juga senang bertemu denganmu," sahut Ranum membalas kalimat Ryder.
Vira melihat Ranum dan Ryder secara bergantian. "Apa kalian saling menyukai?" tanya gadis itu secara tiba-tiba. Sehingga membuat Ranum menggeleng kuat.
"Kamu ini ngomong apaan, yang tadi itu suamiku, dan aku sudah melahirkan. Coba kamu lihat perutku sudah tidak buncit lagi," jawab Ranum sambil memperlihatkan perutnya yang sudah datar lagi. Membuat Vira membuka mulutnya lebar-lebar. "Sudah jangan kaget begitu, dan tutup mulutmu nanti lalat malah masuk," ucap Ranum yang pura-pura terkekeh, supaya Vira tidak curiga kalau dia ternyata juga mencintai Ryder.
"Lo serius? Lo nggak ngibulin gue 'kan? Dan sekarang dimana keponakan gue itu?" Deretan pertanyaan Vira membuat Ranum mengelus da danya. "Num, lo jawab gue dong, jangan buat gue penasaran begini."
"Bagaimana bisa aku menjawab pertanyaanmu itu Vira, karena pertanyaan kamu itu sangat banyak. Kalau bisa kamu bertanya padaku satu-satu dulu napa. Jangan malah keroyokan begini."
"Oke, oke ... lo sekarang tinggal jawab pertanyaan gue yang tadi satu-satu." Vira terus sana mendesak supaya Ranum menjawab semua pertanyaannya yang tadi.
Baru saja Ranum akan menjawab sebuah notif pesan masuk ke benda pipihnya itu. Tingg .... "Tunggu dulu aku mau melihat pesan Mas Al," kata Ranum sehingga wanita itu tidak sadar kalau saat ini Ryder merasa sakit di hatinya ketika ibunya Agna itu menyebut Al dengan kata mas.
__ADS_1
Mas Al : "Aku pulang duluan, karena perutku tiba-tiba saja merasa sangat sakit. Dan kamu bisa pulang nanti jam 9 malam, saat ini kamu boleh mengobrol dulu dengan dua temanmu itu."
Ranum yang membaca isi pesan Al merasa kalau saat ini sang suami benar-benar mengalami sakit perut, sehingga gadis itu ingin pulang saja. Tapi baru saja ia akan berdiri, Vira menahan tangan wanita itu.
"Lo mau kemana? Belum juga gue puas melihat lo dan lo juga belum menjawab pertanyaan gue."
"Sorry, sepertinya aku harus pulang. Karena Mas Al katanya sudah pul—"
"Lu kenapa sih, Num. Apa sekarang lu udah nggak sayang lagi sama gue mentang-mentang sudah menikah dengan pengusaha kaya?" Vira menunduk sendu karena ia merasa Ranum tidak seperti dulu lagi. "Iya sudah, kalau lo mau pulang, pulang saja gih."
Mendengar itu Ranum mengurungkan niatnya, karena sejujurnya ia juga sangat merindukan Vira. Temannya dulu sewaktu SMA yang sering membantunya dalam keadaan susah. Dan berkat Vira juga ia di pertemuan dengan Al. Laki-laki yang telah menjadi suaminya sekarang ini.
"Hanya beberapa menit saja ya Vir, karena nanti Agna rewel di rumah," kata Ranum tiba-tiba.
"Agna, nama keponakan gue?"
"Namanya indah sekali, pasti dedek Agna cantik." Vira terlihat gemas sendiri tatkala membayangkan Agna, bayi yang lahir prematur itu. "Cantik seperti lo pasti Num," lanjut Vira.
Ranum yang mendengar itu tersenyum. Sambil berkata, "Kalau cewek pasti cantik, dan cowok pasti ganteng."
"Iya lah, masa cewek ganteng 'kan, kedengarannya aneh sekali," seloroh Vira bercanda.
"Besok kamu kalau ada waktu luang biasa datang ke rumahku." Ranum mengatakan itu karena ia merasa sudah tidak ada lagi yang harus disembunyikan dari sahabatnya itu. "Bagaimana apa kamu mau?"
"Maulah, gue besok akan datang bersama Ry. Iya 'kan Ry?" pertanyaan Vira membuat laki-laki yang sedang melamun itu terlonjak kaget.
__ADS_1
"Hah, gimana?" tanya balik.
"Nanti kita pergi main ke rumah Ranum. Apa lo setuju?"
Ryder yang masih saja menatap Ranum mengangguk. "Setuju, karena aku juga mau melihat Agna," jawab Ryder.
"Oke fix deal, nanti kalau gue libur akan langsung datang ke rumah lo, Num," ujar Vira yang merasa ia harus pergi ke rumah Ranum. Karena ia benar-benar ingin melihat Agna. "Nanti kalau gue sama Ry datang, gue akan langsung menghubungi lo. Jadi, lo bisa tahu kalau gue dan Ry datang," Sambung Vira.
***
Di klub al malam terlihat Al sedang duduk di temani oleh seorang wanita dengan pakaian yang terlihat sangat seksi sekali.
"Tuan apa Anda ingin nambah lagi?" tanya wanita itu ketika melihat gelas Al kosong dan beberapa botol minuman yang ada di depan Al juga sudah habis.
"Boleh, bawakan aku minuman yang menjadi primadona disini," jawab Al yang sudah mulai sedikit pusing. "Bila perlu 5 sampai 7 botol," sambung Al.
Membuat wanita yang bernama Feni itu mengangguk, tanda mengiyakan perintah Al. "Baik Tuan, kalau begitu saya akan mengambilkan Anda du--" Kalimat Feni terputus karena Sonia sudah berdiri di dekatnya sambil menarik baju wanita yang kekurangan bahan itu.
"Jangan berikan kepada Tuan Al, dan sekarang kau pergilah!" kata Sonia yang menatap Feni sinis. "Jangan harap kau bisa bermalam dengan Tuan Al!" ketus Sonia yang masih saja menatap Feni dengan sorot mata yang sangat tajam. "Sekarang pergi kataku, karena aku yang akan menemani Tuan Al disini."
"Kamu yang pergi Sonia, dan biarkan Feni yang menemaniku," ucap Al tiba-tiba. "Sana pergilah, karena kamu tidak punya hak menyentuh Feni pergi."
Saat itu juga Feni tersenyum penuh kemenangan. Karena Al memintanya untuk tidak pergi dan malah sebaliknya laki-laki itu mengusir Sonia.
...****************...
__ADS_1