
"Aku juga titip Agna, ya. Flo," ucap Al sambil terus melangkahkan kakinya menuju ke pintu utama. "Semoga kamu betah juga bekerja di sini," sambung Al.
"Pasti Tuan, saya akan betah bekerja disini," balas Flora menimpali Al.
"Panggil aku dengan namaku saja Flo, karena aku agak sedikit risih mendengarmu memanggilku tuan." Al tersenyum saat laki-laki itu terlihat menatap Flora. "Nanti kalau ada apa-apa kamu harus cepat menghubungiku."
Flora hanya merespon Al dengan anggukan kecil.
"Aku berangkat kerja dulu," pamit Al sekali lagi, ketika laki-laki itu sudah sampai di teras depan.
Ranum yang menyaksikan itu merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. "Ada apa dengan hatiku? Kenapa aku merasa sedikit risih melihat tatapan Tuan Al ke suster Flo?" Saat Ranum masih saja bertanya di dalam benaknya tiba-tiba saja suara Agna menangis di dalam inkubator. Sehingga membuat Ranum bergegas ingin menghampiri putrinya itu. Akan tetapi, tanpa ia duga Flora malah membuka pintu kamarnya dan dengan cepat suster itu berlari ke arah inkubator.
"Jangan dibuka, biarkan Agna meminum dotnya di dalam saja," ucap Ranum ketika ia melihat Flora ingin membuka inkubator tempat Agna menangis saat ini.
"Tidak apa-apa Nyonya, dedek bayi Agna bisa minum dotnya sambil saya gendong, percayalah tidak akan ada yang terjadi." Flora lalu tanpa ragu mengangkat bayi yang prematur dengan berat badan hanya 2 kilo itu. "Cup, cup, … cup, dedek Agna haus sini sama suster Flo, ya. Suster akan memberikan dedek dot-nya. Supaya tidak haus dan lapar lagi." Suster itu kini terlihat sudah memberikan Agna supor. "Di habisin ya dedek, supaya kenyang dan juga supaya cepat gede." Flora terlihat menimang-nimang bayi yang masih berwarna merah itu dengan penuh rasa sayang.
Ranum yang melihat itu merasa sedikit tidak terima jika Agna dikeluarkan dari inkubator. Karena pesan Erika, bayi itu hanya bisa dikeluarkan dari inkubator dengan jarak 3 sampai 5 jam sekali. Dan ia baru saja merasa meletakkan putrinya itu, tapi sekarang Flora dengan sangat berani dan tanpa meminta persetujuannya malah mengeluarkan Agna sambil memberikan bayi itu minum sufor.
"Suster Flo, bisakah letakkan kembali Agna, karena dia bukan bayi yang lahir dengan normal. Dia bayi prema–"
"Iya, Nyonya. Saya tahu Agna bayi yang berbeda dari anak yang lain. Saya juga tahu mana yang baik dan tidak buat dedek Agna. Jadi, saya minta Anda cukup melihat saya cara merawat bayi dengan baik dan benar," potong Flora tanpa membiarkan kalimat Ranum selesai diucapkan oleh gadis yang sudah memiliki anak itu. "Saya akan membantu Anda dalam mengurus dedek Agna, saya juga akan mengurus Nyonya besar." Flora terlihat menggendong Agna tanpa kesusahan meski bayi itu sangat kecil.
"Maaf, Sus, bukannya Anda cuma disuruh untuk menjaga serta merawat mama. Lalu kenapa sekarang Anda malah mau mengurus Agna? Yang sebenarnya itu adalah tugas dan kewajibanku sebagai seorang ibu," celetus Ranum yang tidak bisa membiarkan Flora seenaknya sendiri. Padahal suster itu baru saja datang ke kediamannya. "Aku minta dengan sangat, tolong baringkan lagi Agna di dalam inkubator ini." Ranum memegang kotak persegi empat yang panjang itu.
__ADS_1
"Tunggu dedek Agna bobok dulu Nyonya, dan pasti saya akan menaruhnya kembali untuk tidur di dalam kotak ini." Flora rupanya tidak mau mendengar apa yang dikatakan oleh Ranum. "Anda boleh melakukan apa saja Nyonya, karena saya yang akan menjaga Agna." Seulas senyum tipis terukir di sudut bibir Flora.
Ranum baru saja akan membuka suara lagi tapi tiba-tiba saja ponselnya berdering. Sehingga membuatnya segera mengambil ponselnya di atas nakas.
"Halo, Sonia. Ada apa? Kok tumben kamu meneleponku sepagi ini." Ternyata yang menelepon Ranum adalah Sonia. Gadis yang agak sedikit gesrek itu.
"Siap-siap, aku akan menjemputmu nanti pvkul 09:00. Karena kita harus pergi mendaftar kuliah," jawab Sonia sambil terdengar sedang mengunyah makanan di seberang telepon. "Nanti Agna akan di jaga sama suster yang Tuan Al sewa, itu kata Baga," ucap Sonia yang tidak tahu kalau Flora sudah datang ke kediaman Ranum dan Al.
"Kenapa kamu mendadak sekali memberitahuku? Dan sekarang ini sudah pvkvl 08:20." Ranum menatap jam yang ada di dinding.
"Sorry, aku lupa tadi."
"Kebiasaan, ya sudah aku mau mandi dulu."
"Dasar Sonia," balas Ranum yang kini terlihat menatap Flora yang masih saja menggendong Agna.
"Anda boleh pergi Nyonya, karena Tuan Al sudah memberitahu saya tadi," kata Flora tiba-tiba.
Ranum mengangguk dan segera menuju kamar mandi, karena untuk saat ini ia harus bisa mengendalikan perasaannya yang merasa ada yang tidak beres dengan Flora.
"Jangan berpikiran buruk terhadap orang lain Ranum, karena itu bisa membuat pola pikirmu sendiri menjadi terusik," ucapan Rita tiba-tiba saja terngiang-ngiang di telinga Ranum.
"Sepertinya aku harus membuang fikiran burukku ini," gumam Ranum membatin setelah tadi sempat mengingat kata-kata sang ibu.
__ADS_1
***
"Tumben-tumbenan aku melihat suster seprti … siapa tadi namanya?" tanya Sonia ketika ia dan Ranum saat ini sudah ada di dalam mobil.
"Suster Flora," jawab Ranum singkat sambil menahan rasa nyeri pada kedua pa yu da ranya.
Sonia mengangguk-ngangguk. "Iya, suster Flora. Tumben aku melihat suster seseksi dan secantik dia," ucap Sonia yang juga ternyata ia merasa ada yang aneh dengan Flora. "Kira-kira nemu di mana Tuan Al?"
Ranum menggeleng tanda tidak tahu.
"Sepertinya aku harus tahu asal usulnya dari Bagas, jangan sampai suster tumbuhan itu menjadi benalu di antara rumah tanggamu dengan Tuan Al," kata Sonia, sehingga membuat Ranum menatapnya.
"Benalu? Bukankah aku adalah benalu itu, Sonia? Yang tiba-tiba saja datang dalam keadaan yang sudah hamil ke kehidupan Tual Al."
"Kamu bukan benalu, justru kamu adalah gadis pembawa keberuntungan bagi Tuan Al," balas Sonia menjawab Ranum. "Jika bukan karena kehadiranmu maka Tuan Al akan masih saja menyandang gelar sebagai duda si cassnova," lanjut Sonia.
"Tidak, justru dengan kehadiranku dan Agna. Tuan Al sekarang malah sering terkena sial bukan malah keberuntungan." Ranum terlihat mulai menatap lurus ke depan lagi saat ia baru saja mengatakan itu kepada Sonia. "Agna akan lahir dan saat itu juga mama mengalmi kecelakaan. Itu yang kamu sebut membawa keberuntungan Sonia?"
Sonia menepuk pa ha Ranum. "Itu sudah takdir namanya, intinya kamu dan Agna membawa keberuntungan," ucap Sonia bersungguh-sungguh.
...****************...
__ADS_1