
Ranum benar-benar gelisah karena Al sampai jam 8 malam lewat 20 menit, sang suami belum juga pulang. Membuat wanita itu merasa sangat khawatir saat ini.
"Ma, apa sebaiknya aku saja yang mencari Mas Al ke kantor?" tanya Ranum di saat suasana hatinya merasa kalau ada sesuatu yang terjadi dengan Al.
Anggun yang mula-mula ingin menyuruh Flora mencari Al pada akhirnya, wanita paruh baya itu memutuskan untuk membiarkan Ranum saja yang akan mencari putranya itu. Melihat raut wajah sang menantu terlihat sangat cemas sama seperti dirinya saat ini.
"Kamu akan pergi sama siapa?"
"Apa mama mengizinkan aku?" Ranum malah bertanya balik pada ibu mertuanya itu. Mengingat beberapa jam yang lalu Anggun sempat melarang Ranum untuk pergi ke kantor Al.
"Iya, kamu pergi saja karena mama rasa Agna tidak akan rewel lagi, sebab demamnya sudah turun," jawab Anggun yang benar-benar mengizinkan Ranum untuk ke kantor. "Tapi mama minta sama kamu kalau terjadi sesuatu sama Al, maka kamu harus segera menghubungi mama," ujar Anggun yang menyuruh Ranum memberitahunya nanti, jika ibunya Agna itu sudah bertemu dengan Al. "Sana kamu cepatlah pergi, karena jarum jam terus saja berputar dan feeling mama kalau Al dalam bahaya," lanjut Anggun.
Sehingga membuat Ranum dengan cepat memberikan Agna pada Flora. "Sus, kalau begitu aku harus pergi ke kantor Mas Al dengan cepat. Ini Agna, dan aku minta jaga mama juga." Setelah mengatakan itu Ranum langsung pergi.
Sedangkan Flora hanya mengangguk saja sebagai tanda mengiyakan Ranum.
"Ranum, kamu hati-hati di jalan!" seru Anggun, yang tidak henti-hentinya mengingatkan sang menantu. "Semoga Tuhan melindungi anak serta menantuku itu," gumam Anggun berdoa.
"Semua akan baik-baik saja Nyonya, Anda harus percaya pada saya," timpal Flora yang tidak mau membuat kondisi Anggun yang kian sudah membaik menjadi drop lagi. Oleh karena itu, Flora akan berusaha meyakinkan kalau Al akan baik-baik saja. "Sekarang lebih naik Nyonya makan malam, setelah itu minum obat," ujar Flora yang sekarang menyuruh Anggun untuk makan malam.
__ADS_1
"Aku akan makan malam bersama Al dan Ranum, Suster Flo, maka dari itu aku harus menunggu mereka dulu," balas Anggun, yang ternyata malah mau menunggu Al dan Ranum, supaya wanita paruh baya itu bisa makan malam bersama-sama seperti biasanya.
Flora yang mendengar itu tidak akan mungkin bisa memaksa Anggun, karena ia tahu jika Anggun sudah berkata seperti itu maka wanita paruh baya itu sangat sulit untuk diajak makan malam jika, keadaan suasana hatinya seperti ini. Membuat Flora harus bisa memaklumi tentang ini semua. Karena mau sekeras apapun suster itu memaksa Anggun untuk makan malam, dan jika Anggun tidak mau maka ajakan Flora yang tadi hanya sia-sia. Membuat suster itu hanya mengatakan iya, dari pada mood Anggun berubah karena terus-terusan di paksa.
"Baiklah Nyonya, kalau begitu saya mau menaruh Nona muda Agna di dalam kamar dulu, karena, Nona muda Agna sudah tidur," ucap Flora yang melangkahkan kakinya menuju kamar Ranum. Membiarkan Anggun duduk sendirian di ruang tamu itu.
***
Setiba di kantor Al, Ranum heran karena di pos penjaga tidak ada satupun orang, dan tidak seperti biasanya. Membuat Ranum semakin gelisah ditambah suasana kantor Al yang sangatlah sepi. "Apa Mas Al masih ada di dalam? Tapi kenapa kantor ini terlihat sangat sepi? Apa mungkin Mas Al saat ini berada di klub? Mengingat dia sering pergi kesana." Ranum terus saja bertanya pada dirinya sendiri sebab ia merasa ragu untuk masuk ke dalam kantor itu. Namun, di sisi lain benak Ranum berkata kalau dirinya harus segera masuk ke dalam. "Aku harus memastikan dulu kalau Mas Al tidak ada di dalam, dan jika benar Mas Al tidak ada di dalam. Maka aku harus pergi dari sini dan akan mencarinya ke klub itu," gumam Ranum pelan. Sambil membuka pintu yang bertulisan di geser.
"Mas Al semoga saja kamu ada di ruanganmu saat ini," kata Ranum yang berbelok ke sebelah kiri karena ia ingin naik lift supaya cepat sampai di ruangan sang suami yang terletak di lantai 16. "Meski kantor ini sangat sepi, kok aku merasa kalau Mas Al masih ada di sini. Apa itu cuma perasaan aku saja?" Ranum tidak henti-hentinya bertanya pada dirinya sendiri. Sampai wanita itu masuk ke dalam lift sambil menekan tombol satu dan enam.
*
Di ruangan Al, Ranum terlihat sudah berputus asa karena Al benar-benar tidak ada di dalam ruangannya saat ini. "Huh, sepertinya aku harus mencari Mas Al ke klub, karena di sini benar-benar tidak ada," kata Ranum yang sekarang terlihat sedang duduk di kursi kekuasaan Al. Karena ibunya Agna itu merasa feelingnya tentang keberadaan Al yang ada di kantor itu benar-benar salah.
"Feelingku rupanya tidak sekuat pasangan suami istri pada umumnya." Ranum lalu terlihat akan berdiri. Namun, saat ia akan berdiri sikunya malah tidak sengaja menekan salah satu tombol on pada layar monitor itu. Dan pada saat itu juga kedua mata wanita itu melotot sempurna. Karena ia malah melihat saat ini Daniel sedang memvkvl Al secara b rutal dengan posisi sang suami yang masih terikat. Ranum juga bisa mendengar dengan jelas apa saja yang di ucapan oleh Daniel sedangkan Al hanya bisa meringis kesakitan.
"Apa yang telah papa lakukan? Kenapa dia mengingat Mas Al? Dan kenapa juga papa memvkvlinya seperti sekarang ini?" Mata Ranum mulai berempun tatkala melihat wajah Al babak-belur. Ibunya Agna itu melihat kalau sekarang Daniel menyiram Al dengan jerigen yang pasti itu isinya adalah bensin dapat dilihat dari warnanya saat ini. "Apa-apaan ini, apa papa Daniel ingin mem ba kar Mas Al? Ini tidak bisa dibiarkan. Bisa-bisanya seorang ayah tega melakukan ini pada anaknya sendiri. Pokoknya aku harus bisa menyelamatkan Mas Al." Dengan air mata yang tiba-tiba saja menetes Ranum merasakan sesak di da danya, karena baru kali ini wanita itu melihat ada seorang ayah yang tega memvkvl anaknya sampai babak belur dan di tambah Daniel akan mem ba kar putranya itu.
__ADS_1
Sehingga membuat Ranum tidak bisa diam saja. "Jika mama tahu semua ini, maka aku yakin penyakit jantung mama akan kumat lagi," ucap Ranum yang terlihat mulai mengotak atik tombol keyboard yang terhubung pada layar monitor itu. "Aku harus bisa menemukan keberadaan Mas Al sebelum semuanya terlambat." Wanita itu terlihat terus saja mengotak-atik keyboard itu sambil mengusap lelehan air matanya beberapa kali. Dan ternyata Ranum juga pintar dalam hal komputer, sehingga wanita itu sama sekali tidak merasa kesulitan dalam hal ini, ditambah juga. Sang suami sering mengajarinya dalam hal mengotak-atik komputer ketika ia dan Al sedang ada waktu luang ataupun ketika Ranum sedang libur kuliah. "Ayolah, tunjukkan aku letak gudang ini, supaya aku bisa menyelamatkan Mas Al, Tuhan tolong aku," ucap Ranum lirih. Dan pada detik berikutnya ibunya Agna itu bisa menemukan letak gudang itu. "Akhirnya, aku tahu juga kalau gudang ini, adalah gudang yang sempat aku lewati tadi." Ranum lalu terlihat mematikan layar monitor itu lagi. Dan ia bergegas menuju gudang itu, supaya dia cepat sampai disana tepat waktu, sebelum ia benar-benar terlambat.
***
Saat Ranum akan masuk ke dalam gudang itu, dan wanita itu rupanya terlihat sedang membawa kain tebal yang ia sempat rendam di air tadi untuk berjaga-jaga. Namun, tiba-tiba saja ia mendengar suara langkah kaki dan langkah kaki itu pasti milik Daniel membuat Ranum dengan cepat bersembunyi di balik tembok. Agar Daniel tidak melihatnya.
"Kamu harus lenyap Al, karena gara-gara gadis itu calon bayiku dan Morea sudah tidak ada lagi didunia ini lagi," kata Daniel yang di dengar oleh Ranum. "Morea pasti akan merasa senang, karena aku sudah membuat perhitungan pada Al. Dan aku juga akan mele nyap kan, gadis itu beserta bayi yang lahir prematur itu," sambung Daniel sambil tertawa terbahak-bahak.
Membuat Ranum yang bersembunyi di balik tembok menutup mulutnya sendiri sebab ia tidak menyangka, kalau Daniel akan melakukan hal gila seperti saat ini. Dan setelah beberapa detik Ranum menunggu pada akhirnya Ranum keluar juga setelah melihat Daniel pergi dari sana.
Namun, detik berikutnya Ranum begitu terkejut, ketika ia melihat kepulan asap yang keluar dari celah-celah bawah pintu gudang itu. "Ya Tuhan, Mas Al." Ranum lalu dengan cepat membuka pintu gudang itu, dab untung saja pintu itu tidak tertutup sehingga membuat Ranum bisa masuk dengan sangat mudah. Akan tetapi saat ia masuk, Ranum malah melihat Al yang tergeletak di atas lantai, dan terlihat kepulan asap itu berasal dari kardus yang di bakar oleh Daniel. Dan sebentar lagi pasti api itu akan siap melahap tubuh Al yang sudah bermandikan bensin.
Tapi untung saja, Ranum dengan cepat melempar kain tebal yang tadi ia bawa, agar si jago merah itu tidak mem ba kar tubuh suaminya. "Aku harus cepat membawa Mas Al pergi dari sini," kata Ranum sambil menepuk-nepuk pipi Al karena ia merasa tidak akan mampu menyeret tubuh Al di saat laki-laki itu sudah pingsan. "Mas Al, ayolah bangun. Demi aku dan juga Agna," ucap Ranum yang terus saja menepuk-nepuk pelan pipi sang suami. Berharap supaya Al sadar. Tapi sayang, laki-laki itu terlihat sama sekali tidak merespon Ranum. Membuat wanita itu mau tidak mau harus menyeret Al meskipun ia tidak yakin kalau ia bisa.
"Kalau aku tidak melakukan ini maka, Mas Al dan aku akan ma ti ter ba kar di sini." Ranum menutup hidungnya menggunakan ujung dres yang tadi sempat ia sobek. Karena ia tidak mau ikut-ikutan pingsan di tambah api itu sudah terlihat mulai membesar, dan otomatis kepulan asapnya semakin terlihat begitu banyak seta sangat pekat sekali. "Aku harus bisa! Ayo Ranum selamatkan Al, karena jika dia tidak selamat maka tidak akan ada laki-laki yang akan mencintaimu dan Agna setulus dia." Wanita itu kemudian terlihat dengan sekuat tenaga menyeret Al keluar dari gudang itu. "Tuhan kali ini aku mohon, selamatkan kami berdua," ucap Ranum yang berdoa. "Mas Al, ayolah buka matamu, karena aku tidak akan mungkin bisa menyeret tubuhmu ini sampai ke bawah sana, menginggat kita saat ini sedang berada di lantai 16."
...****************...
__ADS_1