Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 79


__ADS_3

Al yang mendengar kabar itu, tanpa berpikir panjang langsung saja menyambar kunci mobil. Sambil berkata, "Urusan kita belum selesai, Pa!" Setelah mengatakan itu Al pergi begitu saja.


Bagas menunduk hormat kepada Daniel. "Saya permisi dulu Tuan besar, karena saya mau menemani Tuan Al." Bagas saat itu juga segera menyusul Al. Meninggalkan Daniel dan Morea di sana.


"Kurang ajar! Kapan anak itu akan berubah? Jika begini terus namaku lama-lama akan menjadi rusak di hadapan bublik." Daniel terlihat mengusap wajahnya dengan kasar. "Ayo Sayang, kita pergi ke rumah sakit saja, untuk mengobati lebam pada wajahmu ini." Laki-laki paruh baya itu terlihat melilitkan tangannya di pinggang Morea. "Aku akan buat peritungan dengan bocah itu, kamu tidak usah khawatir." Daniel lalu mengecup pucuk kepala Morea.


"Kita pulang saja Mas, karena aku mau beristirahat saja. Supaya badanku kembali fit melayanimu di atas ranjang," balas Morea dengan cara berbisik sambil menggigit kecil daun telinga Daniel. "Karena aku tahu Mas tidak bisa menahan untuk tidak menjamah tubuhku ini," sambung Morea dengan senyum yang ia paksakan.


Daniel yang mendengar itu mengangguk. "Baiklah Sayang, kalau begitu kita pulang saja."


"Andai saja aku tidak menginginkan hartamu, aku tidak akan sudi menjadi seperti ini. Cih! Dasar tua bangka, tunggu saja tanggal mainnya aku akan menyingkirkanmu dan juga semua keluargamu yang hanya menjadi benalu itu," gerutu Morea membatin.


***


Di rumah sakit, satu jam sebelum Rudy menghembuskan nafas terakhir.


"Bolehkah Ayah meminta untuk menyapa calon cucu Ayah sebelum ajal itu datang?" tanya Rudy dengan suara bergetar dan lirih.


Ranum dengan cepat membawa tangan Rudy ke perut buncitnya. "Ayah bisa menyapa calon cucu Ayah kapanpun itu, tanpa perlu Ayah mengatakan ajal akan datang." Ranum menggeleng kuat dengan air mata yang semakin deras mengalir. "Ayah akan sembuh, aku yakin itu," ucap Ranum yang mulai merasakan tepak tangan sang ayah dingin sedingin es batu. "Tulung ekor Ayah, akan segera di operasi malam ini juga. Jadi, aku harap Ayah tenangkan pikiran Ayah dan terus berdoa untuk kesembuhan Ayah. Karena aku juga selalu berdoa untuk kesembuhan Ayah, supaya Ayah bisa melihat cucu Ayah lahir ke dunia ini."

__ADS_1


Rudy mengangguk lemah mendengar ucapan putrinya, karena saat ini tidak ada yang bisa ia katakan sebeb ia mulai merasa kesulitan untuk bernafas, apalagi sangat sulit untuk mengelurkan suaranya. Dan tidak lama tiba-tiba saja laki-laki paruh baya itu terlihat melotot menghadap ke atas sambil membuka mulutnya lebar-bebar dengan nafas yang tidak beraturan. Detik itu juga tangan Rudy yang mengelus perut Ranum lemas bersamaan dengan itu mata Rudy yang melotot tadi tertutup sempurna serta hembusan nafasnya sudah tidak terdengar dan detak nadinya sudah tidak ada.


Ranum yang menyadari kalau Ayahnya telah tiada langsung berterik histeris. "Ayah, Ayah … Ayah bangun!" Ranum terlihat menepuk pelan pipi Rudy. "Ayah, jangan tinggalkan aku sendiri! Ayah bangun …!" Ranum semakin berteriak histeris di saat beberapa perawat datang dan melepaskan alat bantu Rudy untuk bernafas. "Ayahku masih hidup, jangan lepaskan itu!" Ranum menahan tangan perawat itu. "Kalian panggil dokter saja!" seru Ranum setengah berteriak. Dan ia terus saja menghalangi perawat itu.


Sonia yang melihat itu segera masuk dan memeluk Ranum. "Ikhlaskan, karena jika kamu tidak ikhlas ayahmu akan berat meninggalkan dunia ini," kata Sonia sambil menahan air matanya supaya tidak jatuh. "Ranum, kita semua akan mengalami hal seperti ini, tapi entah itu kapan. Karena ini semua rahasia Sang pemilik alam semesta dan seluruh isinya ini."


"Ayahku masih hidup Sonia, tidakkah kamu melihatnya!" bentak Ranum yang masih tidak terima kalau Sonia mengatakan Rudy sudah meninggal dunia. "Tolong, yakinkan perawat ini kalau Ayahku masih hidup Sonia. Dan jangan biarkan mereka melepas oksigen dari hidung Ayahku." Ranum berusaha memberontak dari dalam dekapan Sonia.


Akan tetapi lama-kelamaan gadis yang sedang hamil itu tidak mampu memerima kenyataan pahit untuk yang ketiga kalinya. Pada akhirnya gadis yang tidak mampu memutar balikkan perasaanya itu pingsan di dalam pelukan Sonia.


"Tolong bantu saya, saya tidak bisa menahan berat tubuhnya," ucap Sonia yang meminta bantuan kepada perawat yang masih ada di sana.


***


"Kamu urus acara pemakamannya, Bagas. Supaya Pak Rudy di makamkan dekat kuburan ibu Rita dan Aish," ujar Al membuka suara setelah lama terdiam memperhatikan wajah Ranum.


"Baik Tuan, kalau begitu saya permisi dulu," pamit Bagas yang mendengar ucapan Al yang memintanya untuk mengurus pemakaman Rudy.


"Jangan lupa, hubungi istrinya juga," kata Al sebelum Bagas benar-benar pergi.

__ADS_1


"Apa maksud Anda Nyonya Angel?" tanya Bagas langsung. Karena sepertinya laki-laki itu tahu sesuatu tentang Angel.


"Siapa lagi istrinya?" Al malah bertanya balik.


Bagas yang sudah ada di ambang pintu kembali lagi mendekari Al. "Begini Tuan, Nyonya Angel dan anaknya Bianca baru tadi pagi pergi liburan ke Negara tetangga. Jadi, apa saya perlu menyusulnya kesana untuk memberitahunya tentang Pak Rudy yang sudah meninggal dunia?"


Al tiba-tiba saja mengeraskan rahangnya. "Mereka benar-benar sangat keterlaluan, mereka juga benar-benar mengikuti kata-kata yang berbunyi, sehatnya Pak Rudy untuk mereka dan sakitnya untuk Ranum." Al mengatakan itu sambil mengepalkan tangannya dengan kuat di bawah sana. "Urus mereka Bagas! Karena aku benar-benar sudah sangat muak! Tanpa aku beritahu pasti kamu sudah mengetahui apa maksudku ini."


"Saya akan melakukan apa yang Anda minta Tuan, secepatnya perusahaannya akan saya buat menjadi bangkrut. Dan saya pastikan mereka akan menjadi gelendangan," sahut Bagas membalas ucapan Al.


"Bagus! Lakukan tugasmu secepatnya. Karena sudah terlalu banyak kesalahan yang mereka harus bayar." Al menyungkingkan senyum simpul. "Mereka juga harus membusuk di penjara, karena telah menghilangkan nyawa balita yang tidak berdosa dan tidak pernah memiliki salah kepada mereka." Al benar-benar ingin melihat Angel dan Bianca mendapat hukuman yang setimpal. "Cari bukti sebanyak mungkin, supaya wanita yang licik itu tidak bisa menggindar atau mengekak lagi," sambung Al.


"Saya akan berusaha mencari bukti Tuan, tapi sebelum itu. Apa saya perlu meyusul mereka ke Negara tetangga?"


"Jangan b*doh, Bagas! Mereka akan kembali tanpa perlu kamu susul!" desis Al menjawab. "Lama-lama kamu bisa membuat tensiku melonjak drastis Bagas," lanjut Al yang enggan menatap Bagas.


...----------------...


__ADS_1


__ADS_2