Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 104


__ADS_3

Setelah Bagas membawa Ranum ke dalam ruangan Al, laki-laki itu langsung saja pergi begitu saja setelah tadi. Bagas sempat memberitahu Ranum tentang apa saja yang akan dilakukan nanti ketika berada di dalam ruangan Al.


Sedangkan Al yang melihat Ranum langsung memasang senyum termanis yang dimiliki oleh laki-laki itu. "Sayang, kamu sudah datang sini, kenalan dulu sama Pak Nino dan juga anak gadisnya yang bernama Safira," kata Al sambil berdiri ingin menghampiri sang istri.


Ranum sempat diam karena ia tidak menyangka kalau Al akan memanggilnya dengan sebutan sayang seperti saat ini. "Mas Al, maaf aku terlambat karena tadi dijalan macet," ucap Ranum sebagai kalimat ber basa-basinya. Supaya gadis itu terlihat tidak terlalu grogi saat ditatap oleh Safira dan Nino. Anak serta ayah yang tadi di maksud oleh Bagas. Yang secara terang-terangan malah meminang Al untuk Safira.


"Ini istri saya Pak Nino, dan Bapak bisa tahu kalau saya ini tidak mengada-ngada," kata Al yang terlihat meraih tangan Ranum sambil men cium punggung tangan wanita yang saat ini berusaha tetap terlihat tenang itu.


"Lho, bukannya Anda seorang duda?" tanya Nino yang merasa heran. Karena laki-laki yang kira-kira seumuran dengan Daniel itu sama sekali tidak mengetahui, kalau Al sudah menikah. Oleh sebab itu, Nino tanpa ada rasa malu malah melamar Al untuk di jadikan menantunya. Karena laki-laki paruh baya itu sudah lama menginginkan Al sebagai suami untuk putrinya, Safira.


"Dulunya memang Iya, Pak Nino, tapi sekarang tidak lagi karena saya sudah menikah dengan istri saya ini, dan usia pernikahan kami ini sudah hampir 1 tahun," jawab Al yang sekarang terlihat merangkul Ranum. "Jadi, sekarang apa Pak Nino masih tidak percaya?"

__ADS_1


"Tidak Tuan Al, saya tidak percaya, karena saya tidak pernah mendengar rumor tentang pernikahan Anda ini." Rupaya Nino tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Al. "Ini pasti akal-akalan Anda saja Tuan Al, supaya Anda bisa menolak lamaran saya."


"Buat apa saya berbohong Pak Nino, itu sepertinya tidak ada gunanya." Al kemudian mengajak Ranum duduk. "Sayang, duduk dulu. Dan beritahu pada Pak Nino kalau kita sudah menikah." Al mengangkat tangan Ranum dan memperlihatkan cincin kawinnya. "Bukti kalau kami sudah menikah Pak, dan saat ini kami sudah dikaruniai seorang putri."


"Anda berdusta Tuan Al! Ini hanya alasan Anda!" Safira malah ikut-ikutan membuka suara, karena Al menolaknya untuk menjadikannya sebagai istri. "Bilang saja Anda menolak saya!" seru Safira dengan nada suara yang berapi-api, sebab gadis itu tidak terima Al menolaknya dengan cara begini. "Pokoknya Anda harus menikah dengan saya!"


Ranum yang mendengar itu tersentak karena kaget, sebab ia baru tahu kalau sekarang perempuan yang melamar laki-laki, bukan laki-laki yang melamar perempuan. Ia lalu tiba-tiba saja mengingat kalimat-kalimat Bagas, yang mengatakan kalau dirinya harus berusaha meyakinkan Nino dan juga Safira. Tentang ia dan Al sudah menikah.


"Apa maksud semua ini?" tanya Ranum yang menatap Safira dan Nino secara bergantian. Ranum berpura-pura memasang raut wajah yang masam. "Apa Pak Nino ingin melamar suami saya dan menjadikannya suami anak Anda, begitukah maksud dari apa yang saya dengar dan tangkap ini?" Ranum berdiri dan mendobrak meja. Agar aktingnya saat ini benar-benar meyakinkan ayah dan anak itu. "Kamu ...," kata Ranum menunjuk Safira. "Bisa-bisanya kamu mencintai suami orang, apa di dunia yang sangat luas ini, tidak adakah laki-laki single yang mau dengan kamu? Sehingga kamu malah merendahkan harga dirimu seperti ini dengan cara menyuruh ayahmu untuk melamar laki-laki yang sudah beristri dan memiliki anak." Ranum mendesis. "Anda juga Pak Nino yang terhormat, bisa-bisanya malah melamar laki-laki yang sudah beristri untuk putri Anda, bukankah yang seharusnya dilamar itu perempuan? Tapi kenapa Pak Nino malah melamar suami saya? Apa pola pikir Pak Nino sudah kebalik?"


"Kita batalkan kerjasamanya, mulai sekarang anggap saja Anda dan saya tidak pernah saling kenal!" geram Nino yang merasa kesal, dan malu karena kalimat yang telah dilontarkan oleh Ranum. "Ayo Safira, kita pulang saja! Masih banyak laki-laki yang lebih kaya dan tampan. Bukan Tuan Al saja!" desis Nino sambil meraih tangan putrinya.

__ADS_1


"Pa, aku cuma mau sama Tuan Al. Apa Papa tidak tahu wanita ini telah berbohong!" Safira menunjuk wajah Ranum dengan sorot mata tajam. "Mana mungkin Tuan Al mau menikah dengannya, dia sangat jelek dan dapat dilihat dari cara berpakaiannya yang sangat norak dan katrok seperti ini." Safna malah menghina Ranum sekarang.


"Berhenti mempermalukan dirimu Safna, Mas Al mencintaiku apa adanya bukan karena ada apanya," kata Ranum yang tidak mau kalah. "Kamu cantik, tapi seleramu suami orang, sungguh alam semesta telah tertawa melihat tingkah lakumu yang sangat murahan."


Safna yang kesal malah ingin menyiram wajah Ranum dengan segelas air. Tapi, Ranum dengan cepat memegang gelas itu.


"Pergi dengan baik-baik dari sini, sebelum aku viralkan kamu. Mengingat kamu ini adalah model papan atas, aku takut jika video kamu ini tersebar maka aku yakin, namamu akan jelek," ucap Ranum sambil mengulas senyum tipis. "Silahkan, ajak anak Anda Pak Nino untuk pergi dari sini secara baik-baik, berhubung saya masih memiliki hati nurani," sambung Ranum.


"Tanpa diminta, saya memang akan pergi dari sini!" bentak Nino karena ia merasa sedang di permalukan saat ini. " Ayo Safna," ajaknya sekali lagi pada putrinya yang sudah terlihat marah.


Safna terlihat berdiri sambil berkata, "Anda akan menyesal karena telah menolak saya Tuan!"

__ADS_1


"Tidak akan ada yang menyesal Safna, jadi tolong jaga ucapanmu itu."


"Sudah Sayang, ini semua hanya tentang ke salah pahaman saja. Jadi, aku harap kamu memaafkan Pak Nino dan Safna, karena kamu sudah tahu sendiri manusia itu suka khilaf," kata Al tiba-tiba. Setelah laki-laki itu lama terdiam. "Dan untuk Anda Pak Nino, saya sudah memaafkan Anda. Kejadian ini anggap saja tidak pernah terjadi," sambung Al.


__ADS_2