Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episide 115


__ADS_3

Keesokan paginya ketika Ranum dan Al akan sarapan bersama tiba-tiba saja Anggun datang yang kursi roda wanita paruh baya itu didorong oleh Flora.


"Kalian tadi malam kenapa tidak jadi makan? Padahal Mama sama Suster Flo sudah menunggu kalian," kata Anggun yang kini terlihat sudah duduk di seberang meja, dan Flora masih berdiri di balang wanita paruh baya itu.


Ranum dengan cepat menyenggol kaki Al di bawah sana karena wanita itu tidak tahu harus beralasan apa.


Sedangkan Al yang di senggol menatap sang ibu sambil membalas perkataan Anggun. "Sorry Ma, tadi malam aku ketiduran gara-gara nungguin Agna ne nen. Ranum juga malah ikut ketiduran gara-gara seharian jagain Anga yang terus saja rewel." Al berharap Anggun akan percaya, meski saat ini laki-laki itu telah mengatakan kebohongan kepada sang ibu. "Maafkan Al sama Raum, Ma. Lain kali kalau kita berdua tidak kunjung keluar Mama sama Suster Flo makan malam saja duluan, tidak usah menunggu kami."


"Bukankah kamu yang meminta Mama untuk menunggu kalian berdua?"


"Hm, iya sih Ma, tapi lain kali jangan tunggu kami lagi," jawab Al sambil menatap Ranum yang mungkin saat ini merasa tidak enak. Karena kejadian yang tadi malam. "Sudah Ma, kita sarapan dulu, karena nanti Agna keburu bangun. Dan Suster Flo boleh duduk, ikut sarapan seperti biasa, berhubung Bi Imah memasak lauk untuk sarapan kita semua begitu banyak." Al memang terkenal tidak pernah membeda-bedakan status orang mau itu bawahannya atau siapapun ia akan menyuruh orang itu untuk duduk makan bersama di atas meja yang sama seperti saat ini. "Ngomong-ngomong Bi Imah kemana?" tanya Al tiba-tiba. "Tumben dia tidak ikut sarapan," sambungnya lagi.


"Bi Imah pergi ke pasar Tuan Al, katanya semua isi kulkas sudah kosong," jawab Flora sambil mengisi nasi untuk Anggun.


"Bi Imah pergi naik apa? Dan siapa yang memberikannya uang?"


"Mama yang memberikannya uang Al, dan Bi Imah tadi naik taksi," jawab Anggun.


"Nanti aku ganti uang Mama, aku transfer ke nomor rekening yang mana?"

__ADS_1


"Jangan bahas itu, lebih baik sarapan dan setelah itu kamu pergi ke kantor karena kata Papa kamu, kamu hanya boleh libur satu hari," ucap Anggun memberithu putranya. "Ranum sayang, makan yang banyak supaya air asi kamu juga ikutan banyak. Karena sekarang umur Agna sudah tiga bulan, dan itu menandakan kalau dia pasti membutuhkan air asi-mu semakin banyak." Sekarang Anggun berbicara kepada Ranum, ketika ia melihat menantunya sedang melayani Al untuk sarapan.


"Iya ma, aku akan sarapan banyak-banyak tapi kata Mas Al, aku tidak boleh gendut," celetuk Ranum sehingga membuat Anggun tersenyum.


"Jika Al mengatakan itu padamu maka kamu suruh saja dia mencari wanita lain," seloroh Anggun menimpali menantunya itu. "Al rupanya ciri-ciri laki-laki yang memandang fisik," lanjut wanita paruh baya itu. Membuat Al hanya bisa memaksakan bibirnya untuk tetap tersenyum.


"Sarapan Ma, jangan ngomong terus."


"Kamu juga Al, jangan hanya bisa ngomong dong," balas Anggun yang tidak mau kalah dari sang putra.


"Mas mau lauk apa?" tanya Ranum di saat kedua anak dan ibu itu masih saja adu suara.


***


Ketika Ranum sedang merapikan dasi sang suami tiba-tiba saja ponsel wanita itu berdering. "Mas, Sonia meneleponku," kata Ranum. Dan dengan segera meraih benda pipihnya itu.


"Palingan mereka mau pamar kalau sudah sampai di Lombok," sahut Al ketika ia melihat Ranum sudah menggeser layar ponsel itu. "Sampaikan salamku pada Bagas, karena aku mau berangkat ke kantor dulu, belum ada waktu untuk bercanda dengan mereka." Setelah mengatakan itu Al langsung saja keluar dari kamarnya. Dan untung saja tadi laki-laki itu sempat mengecup kening sang istri, sebelum pasangan bucin itu menelepon sang istri. "Ranum, aku berangkat kerja dulu!" seru Al ketika laki-laki itu sampai di ambang pintu. Dan ia berani setengah berteriak karena Agna sedang ada di kamar Anggun bersama Flora.


"Hati-hati Mas, jangan sampai ngebut-ngebut!" seru Ranum. Yang tidak tahu saat ini Sonia sedang tersenyum di layar ponselnya itu.

__ADS_1


"Ciee, udah mulai saling sayang ya, sekarang rupanya," celetuk Sonia dari seberang telepon. Menggoda Ranum karena bumil yang satu itu sangat suka melihat pipi sahabat karibnya itu bersemu merah. "Cie ... cie, cie, kayaknya dedek Agna sebentar lagi punya adek," sambung Sonia yang masih saja menggoda Ranum.


"Apa-apaan sih, biasa saja kali jangan sampai mata dipotong seperti itu," balas Ranum. "Oh ya, apa kamu sudah pergi ke pantai pink? Katanya kamu pengen sekali melihat pantai itu."


Sonia terlihat memutar kedua bola matanya. "Bagas, tidak mau mengajakku kesana karena katanya letak pantai itu sangat jauh. Kamu bisa membayangkan sendiri aku datang jauh-jauh begini tapi Bagas malah begini, ah sudahlah aku malas membahas laki-laki yang keras kepala itu."


"Ceritanya lagi ngambek dan marahan tapi di lehermu bajak bekas ikan ******," ucap Ranum yang malah memepratikan leher Sonia.


Sonia malah semakin mendekatkan ponselnya ke lehernya sehingga bekas ikan ****** itu sangat terlihat jelas sekali. "Aku hanya kesal dengan Bagas, bukan berarti tidak mau di ajak ke surga dunia." Sonia malah menimpali Ranum seperti itu. Membuat Ranum menjadi ingin tertawa saat itu juga. "Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang Nyonya Al," seloroh Sonia.


"Btw Agna apa kabar? Apa dia sudah sembuh?" Sonia sekarang menanyakan tentang keadaan Agna.


"Demannya sudah turun tapi Agna masin saja rewel," jawab Ranum. Dengan mata yang melotot karena ia melihat Bagas saat ini sedang menggoda Sonia. Dengan cara memegang benda kenyal sang istri. "Bagas! Tanganmu kenapa lancang sekali, hah?" tanya Ranum kaget karena saat ini wanita itu tidak ingat kalau Bagas dan Sonia sudah sah menjadi pasangan suami istri.


Sedangkan Bagas refleks langsung menjauh dari Sonia karena laki-laki itu merasa sangat malu, sebab Ranum melihatnya sedang memegang tempat favoritnya itu.


"Kamu kenapa? Aku dan Bagas sudah menikah, apa kamu lupa hal itu?"


Ranum langsung menepuk jidatnya. "Ya ampun, kenapa aku bisa lupa begini."

__ADS_1


"Cepatlah membuatkan Agna adik karena sepertinya kamu itu sudah mulai pikun dan pikun hanya menyerang lansia," ujar Sonia dengan mimik wajah yang sangat serius. "Aku harus memberitahu ini semua pada Tuan Al," sambung Sonia.


__ADS_2