Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Sarapan Bersama


__ADS_3

Semua mata tertuju pada Ranum dan Al yang sama-sama keluar dengan rambut basah membuat ibu hamil yang sangat usil itu beberapa kali berdehem.


"Hem, hem ... sepertinya ada yang baru nih," celetuk Sonia yang mendapat segolan dari sang suami.


Sebab kali ini Bagas tidak bisa mendengar candaan Sonia. Karena Bianca dan Angel sudah duduk di sana juga bersama mereka.


"Ish, apaan sih Bagas. Orang cuma bilang ada yang baru," gerutu Sonia.


"Jangan sekarang karena ada Bianca dan Nyonya Angel," ucap Bagas pelan memperingati sang istri, supaya Sonia tidak lupa akan hal itu. "Nanti saja, kalau kita hanya berempat baru bercandanya," lanjut Bagas.


"Iya, iya ... aku tahu," timpal Sonia.


Sedangkan Ranum dan Al sudah terlihat mulai duduk, pasangan suami istri itu juga terlihat begitu serasi yang satu cantik dan satu lagi laki-lakinya begitu tampan serta berkarisma. Meskipun usia Al saat ini sudah cocok berkepala dua. Namun, itu sama sekali tidak membuat laki-laki itu menjadi tampak tua, justru ayahnya Agna itu terlihat semakin tua malah semakin gagah.


"Lho, kenapa piring tante Angel sama kak Bianca belum diisi?" tanya Ranum yang tahu saat ini semua mata tertuju padanya dan sang suami.


"Kita semua sedang menunggu kamu, Num." Bukan Bianca ataupun Angel yang menjawab melainkan ibu hamil yang saat ini mulutnya sudah penuh dengan kue yang sedang ia makan. "Habis ngapain saja kenapa lama sekali? Agna sampai tidur tuh, di gendongan Bi Imah."


"Sorry, kita berdua bisa lama karena kita berdua tadi di dalam kamar sempat berdiskusi membahas masalah liburan," timpal Al berbohong. Sebab tidak mungkin laki-laki itu akan mengatakan yang sebenarnya karena bisa-bisa Ranum malah semakin merajuk. Mengingat saat ini juga ibunya Agna itu masih terlihat marah dengannya. "Ayo semuanya kita mulai saja sarapannya, karena nanti lauk serta kawan-kawannya bisa dingin," sambung Al yang sekarang terdengar sedang mengajak orang di ruang makan itu untuk sarapan bersama-sama.

__ADS_1


"Ayo tante, kak Bianca sarapan yang banyak ya, biar Bi Imah senang kalau masakannya bisa habis," ujar Ranum tersenyum ramah, sebab ia tahu saat ini Angel dan Bianca masih malu-malu. Membuat Ranum harus bisa lebih ramah lagi, agar kedua wanita yang pernah jahat dengan dirinya itu tidak merasa sungkan lagi ataupun malu. "Setelah sarapan, aku dan Mas Al mau mengajak tante dan kak Bianca melihat rumah yang akan tante tempati."


"Terima kasih Ranum, karena tante tidak menyangka kalau kamu akan sebaik ini sama tante dan Bianca, padahal dulu kami berdua sangat ja–" Kalimat Angel terputus karena Ranum memotongnya dengan cepat.


"Tante, sudah cukup yang lalu biarlah berlalu, dan sekarang mari kita buka lembaran baru sehingga tante tidak perlu mengungkit-ngungkit yang dulu pernah tante dan kak Bianca lakukan, karena aku sudah melupakan itu semua mengingat manusia di dunia ini tidak ada yang tidak berdosa. Aku pun sama tante, aku ini adalah manusia yang juga banyak dosa," ucap Ranum yang terus saja tersenyum ke arah Angel. "Sekarang, lebih baik tante sarapan dulu nanti kita lanjutkan ngobrolnya, karena waktu kita juga masih banyak."


Pada saat itu juga semua orang terlihat langsung sarapan tanpa ada yang bersuara dan hanya terdengar suara denting sendok yang bersahut-sahutan.


Sehingga membuat Ranum menjadi membayangkan kalau Rita, Rudy dan Aish masih hidup maka ibunya Agna itu pasti akan merasakan kebahagiaan yang sesungguhnya. Karena hingga sekarang Ranum menganggap kalau sang ibu masih selalu hidup di dalam setiap detak jantungnya.


"Ibu, Ayah, Aish semoga kalian bahagia di atas sana karena aku juga sudah merasa sangat bahagia disini, bersama orang-orang yang begitu menyayangiku," gumam Ranum membatin. "Andai aku boleh meminta, kebahagiaan seperti ini jangan mudah berlalu Tuhan, karena baru kali ini aku merasakan kebahagiaan seperti ini, setelah hati ini tidak menaruh rasa dendam pada siapapun," lanjut Ranum membatin.


***


"Sangat suka sekali Ranum, tante benar-benar berterima kasih padamu," jawab Angel bersungguh-sungguh.


"Syukurlah kalau tante suka, dan ini ada sedikit uang untuk modal usaha tante mohon di terima," ucap Ranum yang memberikan Angel selembar cek yang isinya bisa bikin para pembaca terkejut saking banyaknya uang yang diberikan oleh Al melalui tangan Ranum. "Aku harap, tante jangan menolaknya dan gunakan uang ini sebaik mungkin."


Angel membuka mulutnya lebar-lebar karena jumlah uang yang ditulis dalam lembaran cek itu membuat matanya juga hampir lepas dari tempatnya. "Ranum, tante tidak bisa menerima uang sebanyak ini," kata Angel yang menolak dan mengembalikan lembaran cek itu pada Ranum. "Kamu simpan saja, karena kamu yang membelikan tante rumah ini saja, tante benar-benar merasa sangat bahagia sekali. Sebab tante dan Bianca tidak akan menjadi gembel."

__ADS_1


"Ambil tante, dan jangan pernah menolak rezeki karena itu tidak baik," sahut Ranum yang menyodorkan lembaran cek itu lagi. "Dan sepertinya, aku dan Mas Al harus cepat-cepat pulang tante, karena aku harus pergi ke rumah sakit. Mengingat mama di sana hanya berdua dengan Suster Flo," ujar Ranum yang memberitahu Angel kalau ia harus pergi ke rumah sakit.


Sedangkan Al hanya bisa diam saja, karena jujur saja laki-laki itu masih merasa sedikit dongkol dengan dua wanita yang saat ini sedang duduk di sofa dan berhadapan dengan dirinya dan juga Ranum.


"Kalau begitu aku permisi dulu tante, dan aku janji pasti akan sering datang kesini untuk main," kata Ranum sambil memegang tangan sang suami. "Mari tante, kak Bianca." Sesaat setelah mengatakan itu Ranum segera pergi dari sana bersama sang suami.


***


Setiba di rumah sakit Al dan Ranum melihat kalau Anggun saat ini sedang menyuapkan bubur untuk Daniel, dan ternyata operasi itu berjalan dengan lancar. Membuat Ranum dan Al bisa bernafas dengan lega.


"Al, Ranum," panggil Daniel pelan. Sebab ia tidak berani berbicara terlalu keras karena ia takut kalau sampai Agna, cucunya yang digendong oleh Bi Inem di belakang Ranum nanti bisa terbangun. "Sini 'Nak, ada hal yang harus Papa bicarakan terutama pada kamu Al," ujar Daniel.


Ranum yang melihat sang suami hanya diam saja berkata, "Mas, papa menyuruh kamu mendekat ke arah bed."


"Aku disini saja Ranum, karena entah mengapa aku belum bisa maafkan laki-laki tua itu," balas Al yang kemudian terlihat langsung saja pergi dari sana.


Sehingga membuat Anggun yang melihat itu semua meletakkan bubur yang tadi ia suapkan untuk sang suami di atas nakas. "Papa tunggu sebentar di sini karena aku mau menyusul Al dulu."


"Ma, biarkan saja, karena mungkin Al belum bisa memaafkan Papa," kata Daniel.

__ADS_1


"Papa diam saja, dan tunggu Mama," timpal Anggun yang kemudian terlihat benar-benar pergi sambil mengayuh kursi rodanya sendiri.


__ADS_2