Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 92


__ADS_3

Mendengar Al yang mengatakan kalau saat ini Anggun koma, Ranum tiba-tiba saja merasakan perutnya kembali sakit bersamaan dengan itu air bening mulai merembes dari pangkal p*ha gadis itu.


"Tuan, perutku terasa sangat sakit lagi." Ranum berpegangan pada lengan Al. "A-aku juga sepertinya pipis, karena saking sakitnya perutku ini," ucap Ranum sambil menunjuk air yang ternyata itu adalah air ketubannya yang sudah pecah.


Al yang mendengar kalimat Ranum langsung melirik ke bawah kaki gadis itu. "Ya Tuhan, sepertinya kamu malam ini akan benar-benar melahirkan." Al dengan cepat memanggil beberapa suster yang kebetulan sedang membawa kursi roda. "Suster, tolong bawa istri saya. Sepertinya dia akan melahirkan." Al saat ini benar-benar berada di posisi senang, sedih, dan takut bercampur menjadi takut sehingga membuat laki-laki itu tidak tahu harus melakukan apa.


"Tuan, aku cuma pipis," ringis Ranum kesakitan.


"Jangan bicara, kamu cukup diam saja," balas Al yang melihat hanya dua perawat yang menghampirinya. "Saat seperti ini aku membutuhkan Bagas," gumam Al pelan. Yang merasa kalau ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Pergi melihat sang ibu atau menemani Ranum untuk melakukan persalinan. Ia saat ini dilanda dalam dua pilihan yang sangat sulit. "Aku akan pergi melihat Mama dulu setelah itu aku akan menemanimu untuk melakukan persa–"


"Aku takut," ucap Ranum memotong kalimat Al. Sambil menggigit bibirnya gadis itu terlihat menatap Al dengan penuh harap, kalau sang suami harus menemaninya dulu untuk melahirkan, setelah itu baru pergi melihat Anggun. "Tuan," panggil Ranum sambil meraih jari-jemari sang suami. "Antarkan aku saja, setelah itu Anda boleh pergi melihat keadaan mama," pinta Ranum yang tidak ingin terlihat egois. Sebab ia tahu Al pasti ingin melihat keadaan sang ibu.


Saat Al akan membalas ucapan Ranum tiba-tiba ia melihat Bagas yang bergandengan tangan dengan Sonia, rupanya asisten pribadinya itu bisa membawa Sonia kembali meski raut wajah gadis itu hampir mirip dengan Ranum yang saat ini sedang menahan rasa sakit.


"Tuan, ayo Anda harus ikut, untuk menemani istri Anda. Karena sepertinya air ketuban istri Anda sudah pecah itu menandakan kalau istri Anda akan segera melahirkan," kata salah satu suster saat sampai di dekat Al dan Ranum yang masih saja duduk di kursi tunggu. "Tuan, jangan bengong istri Anda harus cepat mendapat penanganan jangan sampai air ketubannya habis lalu kering," sambung suster itu lagi.

__ADS_1


Al yang dari tadi memang sibuk dengan isi pikirannya dengan cepat mengangguk. "Bawa saja, nanti aku akan menyusul belakangan." Saat Al akan pergi Ranum menarik baju laki-laki itu.


"Tuan, jangan pergi, aku mohon …." Sambil menahan sakit karena kontraksi yang akan melahirkan, Ranum terus saja menggigit bibirnya.


"Anda harus menemani Ranum untuk melakukan persalinan Tuan, karena jika Anda tetap berada di posisinya … itu bisa jadi sebagai sumber kekuatan, dan biarkan saya, Sonia yang akan pergi ke ruangan Nyonya besar," kata Bagas yang sudah berdiri di sebelah Al.


Al mengiyakan Bagas, karena ia melihat pangkal p*ha Ranum yang semakin banyak mengeluarkan air ketuban. "Aku serahkan kepadamu Bagas." Al lalu menggendong Ranum untuk memindahkan sang istri ke kursi roda. Sebab ia tidak mungin menggendong Ranum dalam keadaan air ketuban semakin banyak mengalir.


*


"Baru pembukaan 8 tapi air ketubannya sudah pecah, kita harus cepat melakukan penanganan." Dokter Erika yang akan membantu Ranum untuk melakukan persalinan mengatakan itu sambil mempersiapkan alat-alat seperti gunting, benang jahit, jarum dan lain-lain. "Apa saya boleh tahu usia istri Anda saat ini berapa tahun Tuan?" tanya Erika.


"Tuan Al, berapa usia istri, Anda?" Erika kembali bertanya.


"18 tahun, usia saya Dokter." Bukan Al yang menjawab melainkan Ranum. Gadis itu menjawab karena sang suami hanya diam saja dan sepertinya laki-laki itu tidak berniat menjawab pertanyaan dokter Erika.

__ADS_1


"Biasanya bayi lahir prematur karena faktor usia sang ibu, tapi saya rasa usia Anda 18 tahun tidak mempengaruhi itu. Apa jangan-jangan Anda memiliki riwayat penyakit lain?"


"Kandungan saya memang lemah Dok, sehingga saya harus terus mengkonsumsi obat penguat kandungan, tentu saja itu resep obat itu diberikan oleh Dokter Siska," jawab Ranum yang terus saja mengganti posisi tubuhnya saat berbaring sebab gadis itu merasa tidak nyaman karena perutnya sangat sakit.


Erika mulai paham sekarang, ia lalu berkata, "Tetap miring ke arah kiri, semoga jalan lahir Anda cepat terbuka. Meskipun air ketuban Anda sudah pecah Nona."


Ranum menuruti apa yang dikatakan oleh Erika, tapi tangan gadis itu tidak henti-hentinya memegang tangan sang suami dengan sangat erat, berharap ia mendapat kekuatan dari tangan laki-laki yang telah menanam benih pada rahimnya itu.


***


Di rumah Morea, wanita itu terlihat uring-uringan gara-gara mendapat kabar dari orang yang ia suruh untuk memata-matai Ranum. "Kurang ajar! Aku dan Remon sudah bersusah payah menyingkirkan wanita tua itu, tapi apa? Sekarang pewaris dari rahim gadis ingusan itu akan lahir!" Morea yang marah melempar apa saja yang ia temukan.


"Kita masih punya jalan lain Morea, kamu jangan seperti ini," ucap Remon berharap Morea menjadi tenang. "Kita susun rencana lagi, jika kamu begini maka usaha kita beberapa jam yang lalu membuat rem blong pada mobil ibunya Al menjadi sia-sia." Rupanya Remon dan Morea yang telah menyebabkan Anggun kecelakaan. "Duduk dan kita akan mulai menyusun rencana baru lagi," kata Remon.


"Menyusun rencana apalagi, Remon? Semua yang kita lakukan semuanya hanya sia-sia." Morea kembali lagi melempar vas bunga. "S*alan! Anak dari gadis ingusan itu akan menggagalkan rencana yang telah kita susun jauh-jauh hari."

__ADS_1


Remon dengan cepat memeluk Morea. "Sayang, kita bisa menyingkirkan bayi itu. Jadi, kamu tenangkan diri kamu dulu." Remon mengelus punggung wanita itu. "Percaya sama aku, ini semua akan berjalan dengan lancar. Tinggal selangkah lagi kita akan bisa menguasai harta kekayaan milik laki-laki tua bangka yang sangat m*sum itu."


"Tidak semudah itu Remon! Selama Bagas, sekertaris s*alan itu terus saja berada di keluarga Al." Entah mengapa Morea malah membawa-bawa nama Bagas, tangan kanan Al itu.


__ADS_2