
Rumah besar yang berdiri kokoh dengan pagar besi coklat keemasan menjulang tinggi itu, terlihat ketika Al menghentikan mobilnya di depan sana. Rupaya tadi setelah Al mengantar sang istri dan anaknya pulang laki-kaki itu benar-benar datang ke rumah yang sekarang dihuni oleh keluarga Morea. Tanpa rasa takut sedikitpun Al beberapa kali membunyikan klaksonnya, karena ia berharap satpam yang berjaga di sana akan membuka pintu gerbang itu. Dan tanpa di duga satpam yang mengira kalau Al adalah salah satu anggota keluarga Morea yang datang berkunjung, tanpa perlu bertanya satpam itu langsung saja membuka pintu gerbang itu, sehingga membuat sudut bibir laki-laki itu terangkat merasa bahwa malam ini adalah malam keberuntungannya.
Sebab ketika Al masuk ke dalam, laki-laki itu melihat halaman yang begitu sangat luas sudah dipenuhi dengan beberapa mobil, yang berjejer sangat rapi sedang terparkir di sana. "Ini memang waktu yang sangat tepat, dan alam semesta sedang berpihak kepadaku," gumam Al sambil terlihat meraih ponselnya dan segera menghubungi Bagas. Karena kali ini rencana laki-laki itu sudah benar-benar matang. Membuatnya harus bergerak dengan cepat.
"Halo Tuan Al, apa Anda sudah sampai?" tanya Bagas saat laki-laki itu mengangkat panggilan telepon tuanya itu.
"Aku sudah sampai Bagas, dan aku minta kamu cepatlah datang ke sini dengan membawa beberapa polisi, karena kali ini tenaga polisi itu sangat kita butuhkan sekali," jawab Al dengan sorot mata elangnya.
"Baik Tuan, dan bagaimana keadaan di sana? Apa Anda baik-baik saja?"
"Cepatlah datang Bagas, supaya kamu bisa ikut berpesta dengan mereka, dan keadaanku saat ini baik-baik saja. Mengingat malam ini semua musuhku akan aku jebloskan kedalam penjara, berkat bantuan kamu yang berhasil mengumpulkan semua bukti-bukti itu Bagas." Al terkekeh karena suasana hati laki-laki itu sangat baik. "Kamu cepatlah datang, supaya bisa melihat aku yang akan tertawa puas dengan kemenangan ini."
Bagas sebenarnya dari tadi tidak mengerti dengan apa yang dimaksud oleh tuannya itu. Namun, ia berusaha untuk memahami semuanya meski laki-laki itu tidak yakin dengan rencana Al saat ini, yang akan berhasil atau malah gagal. Mengingat Robert dan Remon bukan lawan tandingan Al, karena Bagas tahu bagaimana liciknya ayah dan kekasih Morea itu.
__ADS_1
"Aku akan masuk duluan Bagas, nanti kamu nyusul belakangan, satu lagi datang pakai mobil yang warnanya hitam, supaya satpam itu membuka pintu gerbang dengan cepat tanpa perlu bertanya padamu, karena aku melihat deretan mobil yang terparkir di sini semuanya berwarna hitam, dan yang membedakannya adalah cuma plat DRnya saja," ujar Ak memberitahu Bagas.
"Baik Tuan, saya akan datang dengan mobil warna hitam," timpal Bagas.
*
Semua mata tertuju pada laki-laki yang terlihat begitu gagah dengan setelan jas yang sangat rapi, dan ia terlihat menggunakan kacamata hitam yang melekat di kedua matanya. Membuat ketampanan laki-laki itu bertambah berkali-kali lipat. Sehingga suasana yang tadi begitu riuh kini tiba-tiba saja berubah menjadi hening. Ketika ayahnya Agna itu menginjakkan kaki di rumah megah dan mewah Morea hasil wanita itu menjual beberapa aset milik Daniel.
"Selamat malam semuanya," ucap Al menyapa orang-orang yang saat ini sedang berpesta kecil-kecilan. Karena sepertinya orang-orang itu adalah kerabat dekat mantan istrinya itu. "Lanjutkan saja, karena saya datang kesini bukan untuk membuat rusuh," lanjut Al yang kini terlihat sedang membuka kacamata.
"Al, kau masih hidup?" tanya Remon dengan mata yang melotot sempurna sebab ia masih tidak percaya, dengan apa yang ia lihat saat ini.
"Jangan sebut namaku, dengan mulut kotor dan busukmu itu, karena aku sangat keberatan mendengarnya." Al lalu terlihat berjalan dengan santainya menuju Remon yang saat ini terlihat sedang memangku tubuh Morea.
__ADS_1
"Apa-apaan kamu Al!" bentak Morena sambil beranjak dari pangkuan sang kekasih pujaan dan dambaan hatinya itu. "Keluar kamu dari rumahku ini Al! Karena laki-laki miskin dan kere sepertimu tidak pantas menginjakkan kaki di rumah mewahku ini!" Suara Morea menggema di ruang tamu itu sehingga membuat kedua orang tuanya yang tadi sedang mengobrol tepat di paling sudut ruangan itu begitu kaget karena mendengar suara putrinya yang melengking.
"Sstt, kecilkan sedikit nada suaramu Morea, karena aku ini tidak tuli." Al lalu terlihat menyeringai tersenyum dengan elegan. "Aku datang kesini baik-baik hanya untuk mengambil apa yang seharusnya menjadi hak milikku dan keluargaku."
"Keluar Al, sebelum beberapa penjaga menyeretmu keluar," kata Remon yang berusaha terlihat tenang. Padahal saat ini hati laki-laki itu sedang ketar-ketir.
"Sorry, dengan berat hati aku mengatakan kalau aku sudah membuat penjaga di rumah hasil rampasan ini pingsan," sahut Al tanpa ada rasa bersalah sedikitpun. Malah laki-laki itu semakin melebarkan senyum simpulnya ketika ia mengatakan itu.
"Kurang ajar! Keluar kamu Al!" seru Robert yang kali ini terlihat sangat marah dengan Al. "Keluar!" geram pria yang umurnya dibilang hampir sama dengan Daniel itu.
"Bukan saya yang harus keluar Tuan Robert yang terhormat, melainkan Anda beserta keluarga Anda yang sama-sama sangat menjijikkan ini!" Al dengan suara yang sangat lantang mengatakan itu semua. Tanpa ada rasa takut sedikitpun laki-laki itu pada Robert, meskipun sekarang ayahnya Morea itu terlihat mengeluarkan senjata api dari dalam sakunya. "Simpan senjata api Anda Tuan, sebelum hukuman Anda semakin be–" Kalimat Al terputus disaat Robert malah benar-benar melepaskan tem bakan pada Al. Dan detik berikutnya darah segar mulai terlihat merembes keluar dari lengan laki-laki itu. Membuat Al malah tertawa puas bukannya meringis karena merasa kesakitan. "Inilah yang saya inginkan, supaya Anda terkena pasal berlapis," ucap Al dan membiarkan da rahnya menetes tanpa berusaha laki-laki itu menghentikan pendarahan itu.
Ketika Al masih saja mencoba untuk tetap bertahan di sana meskipun pandangan laki-laki itu kini menjadi buram, tiba-tiba saja Bagas datang dan beberapa polisi seperti yang di minta oleh Al ketika mereka sempat berbicara melalui telepon tadi.
__ADS_1
"Tangkap keempat orang ini Pak Polisi, karena mereka sudah bekeja sebagai pengedar nar koba dari Indonesia ke luar Negeri," kata Bagas. Yang belum tahu kalau saat ini Al sedang berusaha menahan rasa sakit.