Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 58


__ADS_3

Mata Ranum berbinar-binar tatkala melihat Vira yang sedang berdiri di belakang Bianca. "Vir, benarkah itu kamu?"


Vira tersenyum mengangguk sambil menghampiri Ranum yang masih saja diam di tempat.


"Oh, ternyata je la ng ini adalah temanmu pantesan, kamu ikut-ikutan menjadi seorang je la ng juga!" Bianca terdengar tertawa mengejek. "Memang benar apa yang telah dikatakan pepatah lama, jika ingin wangi bertemanlah dengan pedagang parfum, dan jika temanmu seorang kupu-kupu malam, maka lambat laun kamu akan menjadi seperti itu juga. Terbukti Ranum si gadis polos sekarang sudah bunting gara-gara menjadi je la ng!"


Vira yang mendengar itu menunjuk muka Bianca. "Nggak nyambung! B*ngs*t!" Vira rasanya ingin sekali memberi pelajaran kepada Bianca tapi Ranum menggeleng tanda tidak setuju. "Lebih baik lu pergi, anak pelakor! Tadi gue nggak tahu kalau itu lu makanya gue pakai bahasa halus. Dan sekarang setelah gue tahu. Ogah gue bicara lembut dengan lu! Dasar anak pelakor!"


Bianca yang mendengar itu mendekati Vira dan tanpa aba-aba menj*mbak rambut gadis itu. "Jaga mulut kamu Vira! Mama meninggalkanmu karena kamu anak yang tidak pernah diinginkan! Jadi, jangan sekali-kali kamu menyebut Mama dan nama pelakor!" Ternyata Bianca dan Vira adalah saudara yang terpisah. Gara-gara Angel memilih meninggalkan


ayah Vira.


Ranum yang mendengar itu terkejut karena ia tidak pernah menyangka kalau Bianca dan Vira saudara sedarah.


"Cuih! Gue tidak sudi menganggap pelakor itu sebagai Ibu gue karena bagi gue Ibu gue sudah lama lenyap dari muka bumi ini!" Sorot mata tajam Vira ketika menatap Bianca penuh dengan kebencian.


"Wajar kamu tidak menyukai Mama karena kamu anak terbuang tidak sepertiku anak yang diemaskan." Bianca benar-benar menguji kesabaran Vira.


"Gue tidak sudi dianggap anak oleh pelakor itu! Jujur gue sangat malu ada wanita seperti ibu lu itu, dimana dialah pelakor tapi meneriaki orang lain, ish! Sungguh sangat menjijikan!" Vira yang merasa jamb*kan Bianca di rambutnya begitu sakit dengan cepat mencubit Bianca dengan sangat keras.


"Akhh," ringis Bianca karena Vira mencibit lengannya. "Dasar anak terbuang! Akan kulaporkan kelakuanmu ini kepada Mama."


"Silahkan gue tidak takut sama pelakor itu!"


Sedangkan Ranum yang tidak mau ada keributan dengan cepat membawa Vira pergi dari sana tanpa mengucapkan sepatah kata.


"Lu kenapa sih, Num? Biarkan gue memberi perhitung–"

__ADS_1


"Jelaskan apa maksud semua ini, Vir. Jangan buat aku salah paham," potong Ranum tiba-tiba. "Sekian lama kita kenal, dan sudah beberapa bulan tidak pernah berjumpa, tapi sekali kita bertemu begini, kamu malah membawa kabar yang hampir saja membuat jantungku lepas dari tempatnya."


Vira terdiam sambil terus saja berjalan entah kemana dua gadis itu akan pergi.


"Jadi, kak Bianca adalah kakak kamu juga?"


"Bukan, aku tidak pernah memiliki saudara dan ibu Ranum. Karena seperti kataku dulu bahwa Ibuku sudah lama tiada." Saking kecewanya kepada Angel, Vira gadis itu tidak mau mengakui Angel sebagai ibunya sendiri. "Jangan dibahas Ranum, intinya gue hanya punya Ayah di dunia ini dan teman sebaik lu."


Ketika Ranum terus berjalan tiba-tiba saja ia baru ingat dengan Al. "Nanti kita bahas ini lagi, soalnya aku harus segera pulang takut orang tua angkatku mencariku," kata Ranum berbohong.


Tanpa banyak tanya Vira mengiyakan Ranum. "Oke, sekarang gue mau minta nomor ponsel lu." Vira kemudian memberikan Ranum ponselnya untuk gadis itu menulis nomornya. Seperti yang diminta oleh Vira.


Ranum mengambil ponsel Vira dan dengan gerakan cepat menulis nomor ponselnya. "Kamu masih banyak hutang penjelaskan kepadaku, Vir."


"Nanti kalau gue ada waktu, gue akan menceritakan semuanya kepada lu. Tapi untuk kali ini gue belum bisa."


***


"Aku habis dari toilet Tuan," jawab Ranum berbohong.


"Terus kenapa lama sekali?"


"Ngantri, banyak orang di toilet."


"Ya sudah, mana belanjaannya sini biar aku bayar. Dan kamu tunggu aku di tempat parkiran saja. Biar aku nggak nyariin kamu seperti yang tadi," ujar Al menyuruh Ranum untuk ke tempat parkiran. "Sekalian, bawa ini." Al memberikan Ranum sebungkus cilok.


Ranum yang melihat Al malah memberikannya cilok mengerutkan dahi. "Cilok ini datangnya dari mana? Kenapa bisa ada di tangan Anda Tuan?"

__ADS_1


"Aku tadi membelinya, karena aku tiba-tiba saja pengen makan cilok. Tuang ciloknya tadi mangkal di seberang jalan tadi. Dan sekarang entah pergi kemana dia," jawab Al berterus terang. "Kalau kamu mau, makan saja, tapi jangan di habiskan ya, sisain buat aku sedikit saja."


Ranum menggeleng. "Tidak Tuan, saya tidak mau makan cilok. Anda saja yang pengen makan cilok malam-malam begini."


"Baiklah tidak apa-apa sekarang sana ke tempat parkiran."


***


Setibanya pasangan suami istri itu di rumah. Tiba-tiba saja mereka melihat Anggun yang sedang duduk di kursi teras.


"Mama akan memarahiku gara-gara sudah memvkvl laki-laki tua itu," gumam Al pelan akan tetapi Ranum masih bisa mendengarnya. "Makanya Mama sampai rela datang kesini malam-malam begini," sambungnya lagi.


Ranum yang mendengar itu takut, takut karena Al akan kehilangan kendali sehingga penyakit gangguan mental sang suami kumat lagi.


Sedangkan Anggun yang melihat Al bukannya senang, tapi wanita paruh baya itu menatap Al dengan tatapan sinis. "Al! Apa yang kamu lakukan kepada Papamu? Sehingga Papa kamu sekarang di bawa ke rumah sakit, karena darah terus saja keluar dari hidungnya."


"Mama tidak suka aku keluar dari rumah sakit?" Seperti biasa Al akan mengganti topik pembicaraan. "Ma, jawab aku. Apakah benar Mama tidak suka melihat aku keluar dari rumah sakit?" tanya Al sekali lagi. Karena pertanyaanya yang kedua tadi tidak dijawab oleh sang ibu.


"Lebih baik kamu tidak usah keluar Al, dari pada kamu melukai Papa kamu sedendiri seperti ini." Anggun berkata demikian tanpa menghiraukan perasaan Al. "Padahal selama ini Mama tidak pernah mengajarimu kurang ajar kepada siapapun, tapi kenapa? Kamu malah merusak malam bahagia Papa kamu."


"Mama seharusnya beterima kasih kepadaku, bukan malah begini," balas Al menimpali ibunya.


Ranum yang tidak bisa melakukan apa-apa hanya bisa diam saja. Karena menurutnya ini urusan ibu dan anak.


"Pergi ke rumah sakit sekarang juga, dan minta maaflah kepada Papamu," pinta Anggun.


"Aku tidak akan pernah meminta maaf Ma, karena aku merasa tidak bersalah. Justru mereka yang harus meminta maaf kepada Mama karena mereka tega membuat air mata Mama jatuh," kata Al lirih.

__ADS_1


__ADS_2