Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 127


__ADS_3

Al terlihat menyetir dengan sangat pelan sambil menikmati pemandangan ibu kota. "Gimana apa kamu senang?" tanya Al pada sang istri.


"Iya aku senang sekali Mas," jawab Ranum yang saat ini sedang memberikan Agna asi. Bayi 8 bulan itu terus saja ne nen tanpa henti-hentinya. Dengan bola mata putih bersih itu menatap sang ibu. "Mas, aku lapar," kata Ranum tiba-tiba memberitahu sang suami.


"Oke, kita berhenti makan di kedai itu ya," balas Al sambil menunjuk rumah makan di pinggir jalan.


"Boleh, tapi tunggu Agna selesai ne nen dulu Mas." Saat Ranum mengatakan itu bayi 8 bulan itu langsung saja melepaskan pu ti ng sang ibu.


"Bu ... bu ... buu ...." Agna mulai bersuara meski bayi itu hanya bisa menyebut dua huruf saja b dan u. Tapi itu membuat Al dan Ranum begitu sangat senang. "Bu ...." Agna lalu menyemburkan sedikit air asi bekas ia ne nen tadi.


"Agna sayang, nanti lagi ya ne nen-nya karena Bunda mau isi bensin dulu," ucap Al memberitahu bayi yang belum mengerti apa-apa itu. "Agna, sini lihat Ayah sayang." Al tersenyum tatkala melihat Agna tersenyum juga ke arahnya. Sebab posisi bayi itu saat ini sedang berdiri di pa ha Ranum setelah tadi sudah merasa kenyang minum asi dari sumbernya langsung. "Agna Yumna Ezza, mana senyum manisnya dulu?"


Pada saat itu juga Agna tersenyum dan memperlihatkan dua giginya yang baru saja tumbuh, dan dua lesung pada kedua pipi kiri-kanannya. "Buuu ... bu ...."


"Bu-Bunda, apa Agna Bu-Bunda ...." Al terus saja menyetir sambil mengajarkan Agna menyebut nama Bunda. "Kalau Ayah, A-Ayah sekali lagi Ayah ulangi A-Ayah. Ayo Agna pasti bisa."

__ADS_1


Agna bukannya mendengar apa yang di ajari oleh Al bayi 8 bulan itu malah mengelus pipi sang ibu. Dan dengan senyum yang terus saja terlukis di bibirnya, senyum itu persis sangat mirip sekali dengan senyum sang ayah. Sehingga membuat Ranum tanpa sadar ikut-ikutan tersenyum karena ia merasa kalau yang tersenyum itu adalah Al.


"Ba, mana Agna? Mana anak Bunda itu?" Sekarang Ranum yang bermain dengan Agna. "Ciluk, ba ... ciluk ba ... Agna lihat Bunda." Ketika Ranum terus saja berbicara pada Al tiba-tiba saja laki-laki itu malah mengerem mendadak. Membuat Ranum terhuyung ke depan bersama Agna dan untung saja wanita itu bisa menjaga punggung Agna supaya punggung bayi 8 bulan itu tidak terbentur. "Mas hati-hati, untung saja Agna tidak apa-apa," kata Ranum yang belum menatap ke depan sana.


"Maaf Ranum, di depan sana ada pengemis," kata Al yang belum sadar kalau pengemis itu adalah Daniel, ayahnya sendiri. "Makanya aku tadi menginjak pedal rem secara mendadak," lanjut Al lagi.


Ranum yang mendengar itu langsung menatap ke depan sana dan benar saja di depan ada pengemis yang saat ini terlihat berjalan menggunakan bantuan tongkat. Hingga beberapa detik Ranum langsung saja membulatkan kedua matanya, karena wanita itu baru saja sadar kalau pengemis itu adalah ayah mertuanya. "Mas, bukankah itu papa?" tanya Ranum tiba-tiba.


Al yang mendengar pertanyaan sang istri langsung saja memperhatikan wajah pengemis itu. "Papa," gumam Al membatin. Laki-laki itu tidak bisa mengenali Daniel karena pria paruh baya itu terlihat berpakaian sangat kotor dan benar apa yang dikatakan oleh Bagas kalau baju Daniel compang-camping. "Sudah Ranum, dia bukan Papa, karena Papa sedang asik dengan wanita itu," jawab Al berbohong.


"Bukan Papa, Ranum, mungkin saja karena karena kamu saat ini sedang lapar maka penglihatan kamu juga ikut-ikutan buram." Al masih terus saja menyangkal meski Ranum sudah jelas-jelas melihat Daniel. "Sudahlah, kamu lebih baik kasih Agna ne nen lagi, supaya dia nanti tidak rewel saat kamu makan," sambung Al, yang berusaha mengalihkan pandangan Ranum.


"Mas, itu benar-benar Papa." Ranum langsung saja menurunkan sedikit kaca pada mobil itu dan dengan tanpa Al duga wanita itu segera memanggil pengemis itu. "Papa Daniel!" serunya memanggil pria paruh baya itu.


"Ranum, apa yang kamu lakukan?" Al terlihat sangat panik.

__ADS_1


"Mas, aku sedang memanggil kakek Agna," jawab Ranum sambil terus saja memanggil nama Daniel.


Namun, detik berikutnya saat Daniel akan menghampiri mobil Al. Tiba-tiba saja lampu yang tadi warna merah kini sudah berubah menjadi warna hijau, membuat Al segera menginjak pedal gas, dan dengan segera mobil itu melet jauh, sehingga Daniel tidak bisa menghampiri mobil yang sudah meraung membelah jalan raya yang tidak terlalu ramai.


Ranum masih saja menatap ke belakang. "Mas, katakan padaku dengan jujur. Aku janji tidak akan mengatakan ini semua pada Mama," kata Ranum dengan sudut mata yang sudah mulai berair. "Mas aku mohon ...."


Al lebih memilih diam saja, karena ia tidak berniat menyaut ucapan sang istri. Sebab suasana hati laki-laki itu mendadak jadi bad mood hanya karena ia melihat sang ayah tadi menjadi pengemis.


Ranum mencoba membuka suara lagi, ia berharap Al mau menceritakan semuanya pada dirinya. "Mas, jangan sembunyikan apapun dariku, karena aku ini istri kamu Mas. Ayolah jujur saja padaku."


"Ranum, diam, jangan ungkit-ungkit masalah yang tadi. Karena aku tidak mau mendengarnya," kata Al dengan mimik wajah yang datar. Menandakan kalau perkataan laki-laki itu saat ini sangatlah serius. "Jangan bahas dia, karena tanpa aku beritahu kamu sudah pasti tahu jawabannya," sambung Al.


Ranum menghela nafas, karena ia harus menunggu mood sang suami balik lagi, supaya ia bisa mengetahui semuanya dengan jelas. Sebab ia tidak mau menebak-nebak sendiri.


"Baiklah Mas, lupakan saja yang tadi." Ranum memilih untuk mengalah dulu. Karena jika ia terus-terusan memaksa Al untuk memberitahunya maka, kemungkinan besar mood sang suami semakin hancur berantakan.

__ADS_1


"Baguslah kalau kamu paham," timpal Al yang terus saja fokus menyetir tapi pikiran laki-laki itu terus saja tertuju pada sang ayah. Karena di dalam lubuk hatinya, masih tersimpan sedikit rasa kasihan pada Daniel. Meskipun mulut Al terus saja mengatakan kalau dirinya tidak akan pernah peduli lagi dengan Daniel.


__ADS_2