Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Eposode 50


__ADS_3

Karena keadaan Ranum sudah cukup membaik jadi Al memutuskan untuk membawa Ranum pulang saja, karena laki-laki itu merasa kalau Ranum kelamaan di rumah sakit maka ia akan terus saja tidak akan bisa masuk bekerja karena menjaganya di rumah sakit itu terus-terusan.


"Tuan Al …," panggil Ranum ketika melihat Al sedang memejamkan mata di sebelahnya karena posisi mereka berdua saat ini sedang duduk di belakang dan yang sedang mengemudi Bagas.


"Hm," sahut Al supaya Ranum tahu bahwa laki-laki itu tidak benar-benar tidur di dalam mobil. Hanya saja ia cuma memejamkan mata.


"Bolehkah aku berkunjung ke makam Ibu dan Adikku? Sebelum kita sampai ke apartemen. Aku berjanji Tuan tidak akan berlama-lama di sana." Ranum dengan takut-takut mengatakan itu karena ia pikir Al tidak akan memperbolehkannya. "Tuan …," panggil Ranum sekali lagi.


Al merasa Ranum sudah mulai bisa berkomunikasi lagi, setelah ia menyuruh Anggun untuk sering menghubungi Ranum lewat via telepon. Laki-laki itu kini merasa sedikit lega karena ia tidak perlu akan memanggil psikologi sesuai dengan apa yang dikatakan Bagas beberapa hari yang lalu. "Bagas yang menyetir, jadi kamu tinggal minta sama dia. Bukan sama aku yang sedang duduk santai di belakang seperti ini," ujar Al yang malah meminta Ranum untuk meminta persetujuan Bagas.


Namun, siapa sangka Al sengaja mengatakan itu supaya Ranum seperti dulu lagi banyak berbicara meskipun pembicaraan gadis itu cuma seputar apa saja yang boleh dilakukan saat di apartemen. Akan tetapi itu lebih baik menurut Al dari pada harus diam melamun, kemudian mencoba untuk bvnv diri itu yang tidak Al inginkan lagi. Oleh sebab itu sekarang Al akan mulai menjaga Ranum lebih ketat lagi dengan cara menaruh GPS dan penyadap suara di anting yang Ranum kenakan saat ini.


"Baiklah, Bagas apa kamu bisa mengan–"


"Bisa Ranum, kemana juga hari ini kamu mau pergi aku antar karena kebetulan juga hari ini aku mengambil cuti satu hari," potong Bagas dengan cepat. "Sekarang, selain ke pemakanan kemana lagi kita harus pergi?"


"Aku hanya mau pergi ke pemakanan saja Bagas, selebihnya tidak ada tempat lain yang perlu aku kunjungi karena aku merasa itu semua tidak perlu, mengingat kata Tuan Al kalau itu hanya membuang-buang waktu saja," jawab Ranum dengan bersungguh-sungguh karena memang benar gadis itu sama sekali tidak memiliki keinginan untuk berkunjung kemanapun.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mau berkunjung ke rumah ayahmu? Karena aku dengar-dengar saat ini ayah kamu itu sedang sakit." Al ingin tiba-tiba saja bertanya begitu karena ia cuma ingin melihat bagaimana reaksi Ranum ketika disebutkan ayahnya. "Kenapa malah diam? Kalau kamu mau Bagas juga bisa antar kamu kesana," ucap Al.


Ranum menggeleng sambil meremas ujung dres yang ia kenakan saat ini. "Ayah sudah tidak menganggapku sebagai anaknya lagi, jadi aku takut diusir seperti waktu itu lagi ketika gembel sepertiku ini menginjakkan kaki kotorku di rumah mewah mereka." Ranum menunduk setelah ia mengatakan itu. "Aku hanya mereka anggap gembel, meskipun semua ucapan mereka benar. Ternyata baru aku tahu dimana omongan orang yang berduit begitu kejam."


Al merasa hatinya sakit ketika mendengar penuturan Ranum. "Kenapa tidak kamu balas, mengatakan bahwa di dunia ini derajat semua manusia sama saja meskipun kaya atau miskin. Dan satu lagi katakan kepada mereka bahwa harta kekayaan tidak akan dibawa mati karena itu semua hanya titipan Tuhan, jadi untuk apa mereka harus membanggakan harta mereka yang berlimpah jika pada ujung-ujungnya harta yang mereka miliki hanya untuk dipamerkan dan tidak pernah dipergunakan untuk bersedekah," kata-kata Al membuat Bagas yang menyetir di depan tercengang karena baru kali ini Al mengatakan itu semua.


"Mereka berpijak di bumi akan tetapi mereka bersifat seperti langit. Ingat s*tan diusir dari surga karena sifat angkuh dan sombongnya, lalu mereka yang ada didunia saja sombongnya sudah melewati batas, sampai menghina orang tapi mereka tidak tahu saja kalau merekalah yang lebih hina karena sebaik-baik manusia adalah manusia yang memanusiakan manusia." Al sampai tidak sadar kalau laki-laki itu sampai mengucapkan kalimat itu.


"Anda benar-benar luar biasa Tuan Al, saya merasa tertampar mendengar ucapan Anda. Dimana saya seringkali merasa sombong ketika saya sedang menyetir membawa mobil Anda ini Tuan," ucapan Bagas membuat Al membuka mata dan langsung melotot. "Jadi, mulai sekarang saya tidak akan pernah sombong lagi," sambungnya lagi.


***


Sesampainya mereka di apartemen Bagas rupanya langsung pulang dan kini hanya tinggal Al dan Ranum.


"Terima kasih Tuan Al, karena telah mengizinkan aku untuk berkunjung ke rumah baru Ibu dan Aish," ucap Ranum ketika melihat Al akan masuk ke dalam kamar.


"Kembali kasih lagi, oh ya, kamu boleh pergi kapanpun ke pemakaman, asal yang mengantar kamu itu Bagas."

__ADS_1


Ranum tidak menyangka bahwa Al akan mengatakan itu, padahal Ranum pikir Al tidak akan pernah lagi membiarkannya untuk pergi ke pemakaman akan tetapi dugaannya salah. "Ternyata memang benar Tuan Al laki-laki yang baik, seperti yang dikatakan oleh mama Anggun." Ranum membatin.


"Apa kamu bisa mengendarai motor?" Tiba-tiba saja Al malah bertanya begitu.


"Tidak bisa Tuan," jawab Ranum jujur. Karena memang benar gadis itu tidak bisa mengendarai sepeda motor sendiri. "Tapi kalau di bonceng aku bisa Tuan," sambungnya lagi.


Al langsung memijat pelipisnya. "Anak kecil dan bayi yang baru lahir saja kalau di bonceng bisa. Haduh, kamu ini bagaimana sih Ranum." Al menggeleng-gelengkan kepalanya. "Nanti aku yang akan mengajarimu untuk mengendarai sepeda motor. Tapi … kita perlu konsultasi dulu kepada Dokter Siska."


"Tidak usah Tuan, aku tidak berani." Ranum menolak untuk diajak mengendarai sepeda motor.


"Ya sudah, langsung belajar menyetir saja. Jika kamu takut bawa motor. Jadi, kita tidak perlu konsultasi ke Dokter Siska karena kalau kamu mengendarai mobil tidak akan membuat janinmu terganggu."


"Tuan Al, bukan begitu maksu–"


"Supaya kamu bisa pulang dan pergi ke sekolah tepat waktu, juga tidak akan ada drama kamu akan terlambat lagi lalu mendapat hukuman," potong Al cepat.


"Tuan, aku tidak usah. Aku benar-benar takut untuk mengendarai motor apa lagi Mobil." Ranum terus menolak supaya niat Al untuk mengajarinya mengemudi tidak terwujud. "Aku akan usahakan untuk bangun lebih pagi, agar tidak terlambat datang ke sekolah dan aku juga akan usahakan untuk pulang ke apartemen tepat waktu."

__ADS_1


__ADS_2