
Tubuh Ranum terasa sangat lemas, ketika ia mendapat kabar kalau mobil yang membawa Anggun untuk pulang ke rumah utama malah mengalami kecelakaan. "Tuhan, apalagi ini?" Dengan memaksakan tungkai kakinya yang sudah terasa lemas Ranum segera keluar untuk menemui Al yang sedang duduk melihat Bagas yang akan pergi mencari Sonia. Karena Ranum saat ini harus memberitahu Al tentang kejadian yang telah meninpa Anggun.
"Tuan," panggil Ranum lirih dengan menahan rasa sesak di d*danya, karena ia tengah membayangkan bagaimana keadaan Anggun saat ini.
Al yang mendengar namanya dipanggil menoleh. "Ada apa?"
"Mama, mama … mama," ucap Ranum menjawab dengan suara yang sudah mulai serak, karena ia merasa tercekat dengan kabar berita yang tadi ia dengar dari pihak rumah sakit.
"Mama kenapa Ranum? Jangan membuat aku berpikiran buruk." Al berdiri dan segera menghampiri Ranum yang saat ini juga sedang berdiri di ambang pintu, terlihat gadis itu memegang ponsel sang suami dengan tangan yang gemetaran. Sambil berpegangan pada gagang pintu demi menjaga keseimbangan tubuh.
Ketika Al sudah ada di depannya Ranum menyerahkan ponsel itu kepada sang suami. "Mama, mama mengalami ke-kecelakaan." Pada detik itu juga air mata Ranum tumpah bak air bendungan yang mengalir deras.
Mendengar itu Al langsung meraih tangan Ranum, berniat membawa gadis itu pergi ke rumah sakit. Karena ia tahu Ranum tidak pernah berbohong tentang masalah serius seperti ini. "Ayo, kita pergi ke rumah sakit, dimana saat ini Mama berada."
Ranum yang merasa takut sebab bayangan mayat terbujur kaku dan kain putih seolah-olah menari di pelupuk matanya. Itu yang membuat tubuh gadis yang sedang hamil itu terasa semakin lemas. Sebab ia tidak mau kalau hal yang serupa terjadi kepada Anggun, karena gadis itu benar-benar merasa trauma mendengar kabar mengajutkan seperti ini.
"Ayo Ranum, kita harus melihat keadaan Mama sekarang," ucap Al dengan raut wajah yang terlihat sudah sangat panik.
"Tu-tuan, tubuhku terasa sangat lemas," balas Ranum menimpali.
__ADS_1
Al menghela nafas, ia tahu sang istri baru saja pulang dari rumah sakit oleh karena itu pasti tubuh Ranum belum cukup pulih gara-gara kontraksi palsu itu. "Kalau begitu kamu diam saja dirumah, biar aku yang pergi ke rumah sakit." Al ingin pergi tapi Ranum memegang baju laki-laki itu. "Ada apa? Jangan menghalangiku untuk pergi melihat Mama," Kata Al.
"Aku, ingin ikut Tuan."
Al dalam dilema saat ini, karena Ranum ingin ikut di saat kondisi gadis hamil itu dalam keadaan yang tidak memungkinkan. Sedangkan sekarang jiwa serta raga Al ingin cepat-cepat sampai ke rumah sakit karena ia ingin memastikan kalau Anggun baik-baik saja.
"Aku ingin ikut dengan Anda Tuan," kata Ranum mengulangi kalimatnya yang tadi. "Karena aku juga ingin melihat bagaimana keadaan mama saat ini."
"Ranum, nanti aku akan mengabarimu bagaimana keadaan Mama. Kamu diam dan beristirahat saja di sini dan biarkan aku saja yang pergi."
"Aku akan tetap ikut dengan Anda, karena aku tidak bisa diam di rumah ini di saat mama ada di rumah sakit," ucap Ranum menolak untuk tidak ikut ke rumah sakit seperti yang dikatakan oleh Al.
Di tempat lain Bagas terus saja berusaha mencari Sonia. "Pergi kemana anak itu? Kenapa aku tidak bisa menemukannya? Padahal aku sudah mencarinya ke tempat yang biasa didatanginya. Sekarang kemana lagi aku harus mencarinya?" Saat Bagas terus saja bertanya-tanya pada dirinya. Ia malah tidak sengaja melihat kerumunan orang-orang yang menghalangi jalan sehingga membuat kemacetan sepanjang jalan. "Tidak bisakah orang-orang itu menyingkir karena aku saat ini ingin mencari gadis yang keras kepala itu." Bagas membunyikan klakson berharap orang-orang memberikannya ruang untuk lewat.
"Jangan terlalu buru-buru Tuan, karena di depan sana ada seorang gadis yang ingin melompot ke laut," ucap salah satu pengendara yang memakai sepeda motor yang ada di sebelah mobil Bagas. Kebetulan kaca mobil Bagas sedikit terbuka jadi, suara pengendara itu bisa di dengar oleh Bagas secara jelas yang ada di dalam mobil.Bagas yang mendengar itu semakin menurunkan kaca mobilnya.
"Bagaimana ciri-ciri orang yang ingin melompat itu, Pak?" tanya Bagas yang tiba-tiba merasa sangat penasaran.
"Tadi saya dengar-dengar itu seorang gadis yang masih menggunakan seragam sekolah, dan dengan rambut berukuran sebahu dia terlihat sangat cantik tapi juga terlihat sangat menyedihkan," jawab pengendara itu sambil celingak celinguk melihat orang-orang yang membunyikan klakson seperti yang dilakukan Bagas tadi.
__ADS_1
Mendengar itu Bagas merasa ciri-ciri yang disebutkan tadi adalah Sonia, dengan mematikan mesin mobilnya dan segera mencabut kuncinya Bagas tanpa pikir panjang lagi turun dari dalam mobilnya ingin memastikan itu adalah Sonia atau bukan. "Aku harus melihatnya, siapa tahu itu Sonia yang ingin melakukan tingkah konyol dan b*dohnya," gumam Bagas pelan.
*
Saat Bagas sudah bisa menembus kerumunan orang-orang, kini ia bisa melihat jelas kalau gadis yang disebutkan oleh pengendara yang tadi adalah Sonia, gadis yang saat ini sedang ia cari. "Sonia! Apa yang kamu lakukan?!" Bagas bertanya dengan suara yang sedikit lantang karena kalau tidak begitu maka Sonia tidak bisa mendengarnya, mengingat saat ini suara klakson semakin terdengar bersahut-sahutan. "Turun, jangan melakukan hal gila seperti ini!" teriak Bagas.
Sedangkan Sonia yang melihat laki-laki yang sangat ia cintai berada di tengah-tengah kerumunan orang-orang saat itu juga gadis itu langsung tersenyum getir. "Aku tidak bisa bertahan lagi Bagas! Aku sudah muak!" kata Sonia dengan suara yang sangat lantang juga. "Pergi! Dan bekerja keraslah hingga waktumu untukku tidak ada sedikitpun!"
Bagas terlihat semakin mendekati Sonia, dimana saat ini gadis itu berdiri sambil membentangkan tangan. "Jangan b*doh! Lihat banyak sekali orang yang melihat aksi gilamu ini!" Bagas sangat khawatir bercampur kesal melihat Sonia begini. "Apa kamu pikir dengan kamu melompat ke laut, kamu akan merasa tenang?"
"Aku akan pergi dari dalam kehidupanmu! Supaya kau bisa bebas dari gadis keras kepala dan egois sepertiku!" Raut wajah Sonia terlihat sudah sangat pucat. Karena dari tadi siang gadis itu rupanya belum makan apapun. Sehingga membuat tubuhnya gemetaran.
"Sonia, jika kamu tidak turun maka kamu tidak akan pernah bisa bertemu denganku lagu sebab aku dan Tuan Al akan pergi jauh dari sini," ucap Bagas berbohong. "Turun! Kara gara-gara kamu jalanan ini menjadi macet."
"Tidak! Aku lebih baik melompat saja daripada harus turun!" seru Sonia menimpali.
...----------------...
__ADS_1