
Dua minggu berlalu dengan begitu cepat, sejak kepergian sang ayah Ranum sekarang benar-benar menjadi sebatang kara. Sehingga gadis itu sekarang hanya bisa berharap Al tidak akan menceraikannya. Supaya ia tidak dipisahkan dengan darah dagingnya sendiri.
"Kenapa melamun terus dari tadi?" tanya Ryder ketika melihat Ranum hanya mengaduk-ngaduk makanan yang di pesan.
"Ry, aku sedang tidak enak badan saja," jawab Ranum berbohong. Karena sekarang ia dan Ry menjadi semakin dekat sejak Ry membantunya membawa Rudy ke rumah sakit waktu itu.
"Kalau memang kamu tidak enak badan, ayo aku antar kamu pulang saja." Ry yang takut terjadi sesuatu kepada Ranum menawarkan diri untuk mengantar gadis itu pulang. "Nanti biar aku yang minta izin kepada wali kelas."
Ranum menatap Ryder sambil menggeleng. "Tidak Ry, aku masih bisa mengikuti mata pelajaran, lagipula tinggal dua mata pelajaran lagi," kata Ranum menolak.
Tangan Ryder tiba-tiba terulur dan menyingkirkan beberapa helai rambut Ranum yang menutupi wajah gadis itu. "Ya sudah, kalau begitu habiskan makanan ini, jangan cuma di aduk-aduk saja," ujar Ryder yang mengambil sendok itu dari tangan Ranum karena ia berniat ingin menyuapkan gadis itu. "Sini, biar aku saja yang menyuapkan kamu, sangat di sayangkan nanti keburu dingin." Ryder lalu menyuruh Ranum membuka mulut. "Aaaa, buka mulut dengan lebar-lebar."
__ADS_1
Ranum mengambil sendok itu kembali dari tangan Ryder. "Maaf Ry, sepertinya aku benar-benar tidak berselera makan makanan ini." Ranum lalu berdiri. "Aku pergi ke toilet sebentar, kamu bisa pergi ke kelas duluan karena sepertinya sebentar lagi jam pelajaran ketiga dan keempat akan segera dimulai."
"Aku akan menunggu kamu disini, biar kita sama-sama masuk ke dalam kelas," sahut Ryder membalas ucapan Ranum.
"Ya, sudah. Aku pergi dulu," kata Ranum berpamitan kepada Ryder.
***
"Kamu sudah minta izin sama Tuan Al?" tanya Sonia yang takut jika nanti Al malah marah-marah gara-gara Ranum pergi ke makam tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada laki-laki itu.
"Sudah, dan Tuan Al mengizinkan aku," jawab Ranum.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong kok aku merasa kasihan sama Ryder, karena kayaknya dia benar-benar suka deh sama kamu." Sambil tetap fokus menyetir Sonia berkata seperti itu. "Kenapa kamu tidak jujur saja sama dia, kalau kamu sedang hamil dan sudah menikah?"
"Ide yang sangat buruk." Ranum memalingkan pandangan ke luar jendela. "Tidak semuanya harus dia tahu Sonia, karena aku juga memiliki privasi. Yang berhak tidak aku umbar-umbar, apalagi posisiku saat ini hamil di saat masih sekolah begini." Ranum menghela nafas.
"Biarlah, aku merahasiakan kehamilanku ini dan pernikahanku darinya."
"Itu akan membuat dia berharap kepadamu Ranum, jika terus-menerus kamu merahasiakan ini dari Ry." Sonia ingin Ranum memberitahu Ry tentang status dan keadaan gadis yang sedang hamil itu saat ini.
"Sonia, jika aku memberitahu Ry, maka si sekolah itu akan gempar tentang keadaanku saat ini yang tengah hamil. Dan bukan cuma itu saja, sekolah itu akan langsung mengeluarkan aku dari sana jika tahu statusku yang sudah menikah. Maka dari itu pikiranmu jangan aneh-aneh, Sonia," ucap Ranum menimpali Sonia sambil tetap menatap ke luar jendela.
...****************...
__ADS_1