Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Kembali Lagi di Hina


__ADS_3

Satu bulan berlalu dengan begitu cepat selama itu juga Ranum telah tinggal di rumah Angel. Hari ini ia dan Aish tidak boleh ikut sarapan di meja makan karena Rudy sudah empat hari ini pergi ke luar kota oleh sebab itu mereka dilarang ikut sarapan bersama dengan Angel dan Bianca.


"Hai gembel! Tolong tuangkan aku minuman!" seru Bianca yang menyuruh Ranum menuangkannya minuman padahal gelasnya yang kosong tadi sudah Inem isi dengan air sampai penuh. "Kau jangan lelet, cepatlah! Aku sudah sangat haus." Bianca megelus-ngelus tenggorokannya sendiri. "Ma, lihat gembel itu, sepertinya dia tidak mau menuruti perintahku," rengek Bianca kepada Angel, karena ia berniat ingin membuat Ranum di marahi.


"Kau gembel! Turuti apa yang putriku inginkan!" Angel menatap Ranum dengan sorot mata yang begitu tajam.


Ranum yang tiba-tiba saja merasa sangat pusing dan mual hampir saja terjatuh di saat ia berjalan ke arah meja makan demi memenuhi keinginan Bianca yang mau di tuangkan air. Padahal jelas-jelas segelas air sudah berdiri kokoh di atas meja sebelah tangan Bianca.

__ADS_1


"Tuangkan yang penuh-penuh!" titah Bianca sambil mengulas senyum tipis.


"Iya kak, aku akan mengisinya dengan sangat pe–" Kalimat Ranum menggantung di udara di saat Angel dan Bianca menyiram wajah Ranum dengan masing-masing segelas air.


"Kelamaan! Airnya jadi pengen membersihkan muka kau yang sok polos dan lugu itu!" kata Bianca yang merasa puas sudah membuat wajah Ranum basah sampai ke baju-bajunya juga. "Aku tambahin, biar baju kau yang kumal itu bersih dari noda-noda kemiskinan." Bianca kembali lagi menyiram baju Ranum dengan segelas air. Setelah melakukan itu ia dan Angel tertawa puas.


Ranum yang di perlakukan begitu hanya bisa pasarah saja, karena sejak kepergian ibunya hidupnya terasa menjadi hampa, ia bertahan sampai sekarang dirumah itu meski di perlakukan semena-mena hanya demi adiknya, Aish biar balita itu bisa hidup lebih layak meski di rumah itu Ranum lebih banyak menetaskan air mata karena merasa hanya di jadikan sebagai babu.

__ADS_1


"Ya Allah, kuatkan hati ini dan perluaslah rasa sabarku supaya aku bisa melewati semua ini," gumam Ranum membatin, saat melihat wajah Angel dan Bianca begitu senang melihatnya dalam keadaan begini.


"Apa kau lihat-lihat? Kalau kau tidak suka segera angkat kaki dari rumah ini! Karena gembel sepertimu juga sangat tidak pantas tinggal di rumah semewah dan semegah ini!" Angel berdiri setelah mengatakan itu. "Kalau bukan karena ayahmu, aku tidak akan mungkin sudi menampung anak dari seorang wanita pembawa sial seperti kau dan bocah itu!" desis Angel.


"Dia ini tidak punya malu Ma, jadi meskipun mulut Mama berbusa menghina dan merendahkannya itu semua tidak akan masuk ke dalam otak bodohnya itu," kata Bianca yang lagi-lagi menarik sudut bibirnya untuk tersenyum. "Lebih baik, sekarang ayo kita pergi sophing saja Ma, dari pada membuang-buang waktu disini bersama gembel ini! Tidak ada manfaatnya sama sekali, yang ada kita malah di buat semakin kesal."


"Emang dasarnya dia ini wanita yang hanya datang untuk merusak kebahagian keluarga kecil kita," balas Angel menimpali Bianca.

__ADS_1


__ADS_2