
"Tuan saya sudah menjalankan tugas dengan sangat baik, sehingga saat ini Nyonya Angel sudah mendekam di penjara," kata Bagas dari seberang telepon yang memberitahu Al. "Jadi, Anda bisa memberitahu Ranum tentang masalah ini, supaya dia merasa keadilan di dunia ini benar-benar ada," lanjut Bagas, karena ia tahu kalau Ranum sering kali mengatakan kalau dunia ini tidak adil.
"Aku akan membahas ini dengannya nanti, karena sekarang dia masih pergi ke toilet," kata Al membalas ucapan Bagas. "Kamu usahakan, jangan sampai Morea membebaskannya, mengingat Angel itu adalah tantenya." Al ternyata tahu kalau Morea dan Angel adalah satu keluarga yang memiliki sifat jahat. "Jangan sampai kamu lengah Bagas, tetap awasi mereka dari kejauhan."
"Baik Tuan, pasti akan saya lakukan, Anda tenang saja. Untuk malam ini cukup Anda bersenang-senang saja dengan Ranum. Bila perlu ajak dia malam ini ke hotel," seloroh Bagas bercanda gurau. Sambil terkekeh-kekeh.
"Jangan mengada-ngada kamu Bagas! Sekarang tutup teleponnya dan nanti kalau Agna rewel cepat hubungi aku. Supaya aku bisa membawa Raum pulang." Al ternyata menyuruh Bagas juga dan Sonia untuk menjaga putrinya. Agar Flora tidak kesepian di rumahnya itu. "Kamu juga, jangan berbuat me sum di rumahku. Awas saja." Al sengaja mengatakan itu karena ia tahu pasti saat ini Bagas membesarkan volume ponselnya. "Ingat kamu jangan me sum, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Karena aku melihat Ranum berjalan ke arahku. Setelah tadi ia lama di toilet."
"Selamat berkencan malam ini Tuan Al," ucap Bagas sebelum laki-laki itu memutuskan panggilan telepon itu.
"Dasar kamu Bagas, kamu paling bisa menggodaku dalam keadaan begini." Al lalu terlihat memasukkan kembali ponselnya. Di saat Ranum sudah kembali duduk di depannya dibatasi oleh meja. Tempat makanan yang sudah dihidangkan dari tadi.
"Apa Agna rewel?" tanya Ranum ketika ia tadi sempat mendengar percakapan antara Al dan Bagas. "Mas Al, apa Agna rewel?" Ranum bertanya sekali lagi.
"Tidak, Agna tidak rewel," jawab Al yang kali ini menatap wajah Ranum yang kali ini menggunakan make up tipis-tipis. Sehingga membuat bundanya Agna itu terlihat sangat cantik sekali. Sehingga membuat Al merasa harus cepat-cepat mengungkapkan perasaannya pada wanita itu. Sebelum api asmara yang berkobar-kobar pada laki-laki itu tidak padam. "Ada hal yang harus aku beritahu padamu, Ranum."
Ranum menatap Al saat laki-laki itu mengatakan itu sehingga membuat mata indah mereka saling bertemu. "Katakan saja Mas, aku siap mendengarnya," sahut Ranum sambil minum jus, supaya gadis itu tidak terlihat grogi saat ia di tatap oleh Al seperti ini.
__ADS_1
"Ibu tiri kamu, sudah aku masukkan ke penjara, karena dia harus menebus semua kesalahannya." Pada saat itu juga jus yang di minum oleh Ranum di semburkan oleh wanita itu. Sehingga membuat makanan yang sudah dihidangkan di atas meja itu tidak bisa dihindari oleh semburan Ranum yang secara tiba-tiba. Sebab bundanya Agna itu sangat kaget mendengar kalimat Al. Yang mengatakan kalau Angel sudah di masukkan ke jeruji besi.
"Apa Mas sudah menemukan semua buktinya? Sehingga Mas bisa menjebloskan tante Angel ke penjara?" tanya Ranum yang terlihat mengelap bibirnya.
Al lalu menjawab, "Iya, aku sudah menemukan semua buktinya, berkat bantuan Bagas. Jadi, sekarang kamu harus senang karena kejahatan yang telah dilakukan oleh ibu tirimu, sudah terbayar sesuai dengan apa yang kamu inginkan." Al rupanya tidak mempermasalahkan makanan yang tadi di sembur oleh Ranum. Justru laki-laki itu membantu Ranum untuk mengelap sedikit cipratan pada piring makanan itu. "Jika kamu ingin melihatnya, kamu boleh membuka video viral yang telah tersebar luas, di internet saat ini juga," sambung laki-laki itu.
Ranum menggeleng kuat sambil berkata, "Tidak Mas Al, karena aku tidak akan mungkin akan menonton video itu." Ranum menolak untuk menonton video itu. Karena wanita itu merasa pasti di video yang viral itu ada adegan adiknya, Aish yang didorong oleh Angel. "Dan untuk makanan ini, aku minta maaf Mas. Karena gara-gara aku kita gagal akan makan malam." Ranum menunduk karena merasa tidak enak hati. Sebab Al sudah memesan makanan sebanyak itu dan tentu saja dengan harga yang sangat mahal, tapi dia malah menyemburnya tadi karena ia sangat kaget.
"Tidak masalah, sekarang kita pindah saja, karena makan malam ini tidak boleh gagal." Al lalu berdiri. "Ayo kita ke meja dengan nomor 30, disana kelihatannya tidak ada yang membokingnya, dapat dilihat dengan hiasan nomornya yang tidak menggunakan lilin."
"Hei, ayo kita kesana, sebelum putri kita rewel di rumah," ucap Al membuat lamunan sang istri menjadi buyar.
"Hmm, i-iya Mas." Ranum kemudian bergegas berdiri. Sambil terus saja menatap Ryder dan Vira.
"Air asi kamu keluar," bisik Al tiba-tiba. "Apa kamu tidak menyadarinya?"
Ranum reples menunduk. "Astaga, aku harus memompa asi-ku dulu Mas, kalau begitu aku ke toilet dulu," kata Ranum yang panik.
__ADS_1
"Nanti saja di mobil, sekarang kita makan dulu." Al kemudian melepas jasnya dan memakaikan Ranum supaya da da wanita itu yang basah karena asi tidak terlihat terlalu jelas. "Makan malamnya cuma sebentar, aku harap kamu tidak risih dengan b ramu yang masah dan juga gaunmu ini."
Ranum dengan cepat mengiyakan sang suami. "Baiklah, kalau begitu ayo kita ke sana," ajak Ranum.
*
Jantung Al berdetak dua kali lipat lebih kencang dari biasanya ketika laki-laki itu meraih tangan Ranum, menurutnya ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan isi hatinya, ketika mereka sudah selesai makan malam.
"Ranum, ada yang ingin aku sampaikan," kata Al sehingga membuat kening wanita itu berkerut. "Kalau aku ... aku jatuh cin--"
"Ranum, lo ngapain di sini?" tanya seseorang yang memotong kalimat Al. "Gue nggak nyangka, bisa ketemu dengan lo disini." Vira tanpa aba-aba langsung saja memeluk Ranum yang melongo.
Sedangkan Al, mengepalkan tangannya karena laki-laki itu merasa kesal, karena di saat ia akan mengungkapkan isi hatinya pada Ranum tiba-tiba saja dua manusia yang tidak ingin ia lihat malah menggagalkan semuanya.
"Vira, Ry, sedang apa kalian di sini?" tanya Ranum yang kaget bukan main. Karena ia tidak menyangka Vira dan Ry malah menghampiri dirinya. Padahal tadi ia sudah berusaha menghindar.
Vira melepas pelukannya dari Ranum, lalu gadis itu terlihat menarik satu kursi. "Lo kenal dengan Ry?"
__ADS_1