
Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini jika Sang pemilik jiwa dan raga sudah berkehendak. Seperti saat ini ketika Ranum mendapat undangan dari Ryder, wanita itu begitu kaget bukan main karena ternyata Ryder akan bertunangan dengan Vira, sahabat paling baiknya itu.
"Hei kenapa kamu malah melamun?" tanya Ryder ketika melihat Ranum hanya diam saja. Dan juga laki-laki itu terlihat beberapa kali melambai-lambaikan tangan di wajah ibunya Agna itu.
"Apa benar kamu tulus mencintai, Vira?" Ranum malah bertanya balik, setelah tadi ia sempat terdiam.
"Pertanyaan apa ini Ranum, tentu dan jelas saja aku sangat mencintai Vira," jawab Ryder bersungguh-sungguh. "Pasti kamu pikir, kalau aku ini belum tahu tentang siapa Vira yang dulu iya 'kan?"
Bukan begini maksud Ranum namun wanita itu takut jika nanti Ryder malah meninggalkan Vira begitu saja, ketika laki-laki itu tahu kalau siapa Vira yang dulu. Sehingga membuat Ranum malah bertanya seperti itu tadi pada Ryder. Ranum lalu menunduk sambil menjawab, "Hm, a-aku ... a-aku, takut jika kamu nanti akan meninggalkan Vira jika tahu siapa Vira yang dulu."
"Tidak akan Ranum, karena aku sudah tahu siapa Vira. Maka dari itu aku menerima dia apa adanya, aku juga tidak peduli tentang siapa dia yang dulu. Yang terpenting sekarang dia sudah berubah, dan itu sudah cukup bagiku," timpal Ryder. Yang ternyata sudah tahu semuanya. "Jangan mengkhawatirkan tentang itu Ranum, karena aku tidak akan pernah meninggalkan sahabat baikmu itu, yang aku minta hanya satu ... tolong doakan aku dan Vira semoga bisa sampai ke pelaminan."
"Doa terbaik untukmu dan Vira," ucap Ranum tulus. Sambil tersenyum ke arah Ryder. "Kalau aku ini, cuma minta sama kamu Ryder, tolong jangan pernah membuat Vira kecewa, sebab dia sudah menderita sejak dia masih bayi dan jangan tambah-tambah lagi."
Ryder tersenyum sambil mengacak-ngacak rambut Ranum sambil berkata, "Siap Tuan putri." Ryder lalu terkekeh-kekeh. Karena ia sekarang menganggap Ranum seperti sahabat dan juga adik baginya. "Kalau begitu aku pulang duluan ya, karena aku harus pergi ke kantor Papaku dulu. Atau sekalian kamu mau aku antar pulang? Berhubung kantor Papaku searah dengan tempat tinggalmu."
Ranum menggeleng tanda wanita itu menolak. "Tidak usah Ry, nanti Mas Al yang akan menjemputku. Dan sekarang kamu pergi saja," timpal Ranum.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi dulu." Sesaat setelah Ryder pergi.
Tiba-tiba saja Bianca datang dengan penampilan yang begitu acak-acakan menghampiri Ranum yang masih saja duduk di pohon dekat dengan taman kecil.
__ADS_1
"Ranum," panggilnya lirih.
Ranum yang sedang membaca ulang deskripsi yang ia kerjakan beberapa hari yang lalu, sebelum ia menyerahkannya pada sang dosen. Wanita itu merasa heran dan dengan segera melepas kacamata, karena ia pikir pengelihatannya sedang bermasalah sebab, Ranum tidak percaya tatakala melihat Bianca dengan penampilan yang tidak seperti biasanya. Dimana gadis itu sekarang terlihat seperti gembel, dan sama sekali tidak terlihat berpenampilan glamor dan begitu mewah tapi sekarang, lihatlah gadis itu benar-benar telah berubah dan menjadi gembel.
"Kak Bianca, benarkah ini kakak?" tanya Ranum langsung sambil menatap Bianca dari atas hingga bawah. Dan ternyata Ranum masih saja memanggil Bianca dengan sebutan kakak.
"Iya Ranum, ini aku Bianca," jawab Bianca pelan. Sambil meremas ujung baju yang ia kenakan begitu kotor. "Tolong bebaskan Mama untukku," kata Bianca dengan cara menunduk sebab gadis itu sebenarnya malu untuk mengatakan itu pada Ranum. Karena ia dulu mengingat bagaimana jahatnya pada Ranum. "Tolong aku Ranum, untuk kali ini saja." Bianca lalu terlihat berlutut di depan Ranum yang sedang duduk di bangku taman itu.
"Kak, apa yang kakak lakukan? Ayo duduk di sebelahku," ucap Ranum yang kemudian menuntun Bianca untuk duduk. Namun Bianca malah menolak. "Duduk di sini kak, kalau kak Bianca tidak mau duduk maka aku tidak akan mau membantu kakak," sambung Ranum.
Bianca dengan mata yang mulai berkaca-kaca menggeleng. "A-aku ... si gembel ini tidak pantas duduk denganmu di satu bangku bersamamu Ranum." Bianca rupanya menjadi gembel setelah seluruh hartanya ludes dan juga rumahnya disita oleh bang membuat Bianca hidup menderita dan lebih tepatnya setelah Angel sang ibu masuk penjara. "Aku cuma minta tolong bebaskan Mamaku, karena aku tanpa Mama berasa kalau aku hidup di dunia ini sudah tidak ada gunannya lagi Ranum, maka dari itu aku minta dengan sangat. Bebaskan Mamaku." Air mata Bianca akhirnya lolos begitu saja.
Ranum yang mlihat itu dengan cepat memeluk Bianca, tanpa memperdulian penampilan gadis itu yang begitu kotor. Bagi Ranum ia merasa harus memberikan Bianca semangat supaya gadis itu tidak berputus asa.
Di rumah saat Ranum dan Al sedang makan malam bersama, wanita itu terdengar mulai membuka suara tepat pada suapan terakhir sang suami.
"Mas, ada hal yang mau aku bicarakan sama kamu," kata Ranum yang memulai membuka percakapan.
"Ada apa, katakan saja sekarang."
"Tapi Mas harus janji, jangan marah sama aku ya," pinta Ranum pada sang suami.
__ADS_1
"Kalau mau membahas soal Ry, jujur aku sangat malas Ranum," timpal Al yang tahu kalau Ry dan Ranum sempat mengobrol waktu mereka akan pulang kuliah. Al juga merasa cemburu ketika Ranum tertawa puas di saat Ryder mengacak-ngacak rambut wanita itu. Membuat Al berpikir bahwa Ranum akan menceritakan tentang Ryder.
"Mas bukan tentang Ry," ucap Ranum langsung.
"Terus?"
"Tentang tante Angel, tolong Mas bebaskan dia." Ranum dengan takut-takut mengatakan itu sebab ia juga takut kalau sampai Al menolak untuk membebaskan Angel.
Al meletakkan sendok dan garpu yang dipegang oleh laki-laki itu. Setelah piring yang ada di depannya sudah kosong. "Apa aku tidak salah dengar, kalau kamu ingin membebaskan mantan ibu tiri kamu yang jahat itu?" tanya Al.
"Iya Mas, bebaskan saja dia. Karena aku tidak tega melihat kak Bianca yang hidup sebatang kara," jawab Ranum yang berharap kalau Al mau membebaskan Angel. "Mungkin hukuman untuk tante Angel sudah sangat cukup, oleh sebab itu aku meminta Mas untuk segera membebaskan tante Angel."
"Apa mereka pernah sepeduli ini kepadamu dulu?"
Ranum menggeleng. "Mas, meskipun mereka tidak pernah peduli padaku. Tapi aku ... aku akan tetap peduli dengan mereka, karena mau bagaimanapun mereka sudah menjadi bagian dari keluargaku."
Al menghela nafas. "Terbuat dari apa hatimu, Ranum? Sehingga kamu bisa berkata seperti itu."
"Semua hati makhluk di bumi ini terbuat dari segumpal darah Mas, namun aku mengatakan itu supaya aku hidup di muka bumi ini dengan perasaan hati yang tidak memiliki dendam pada siapapun. Maka aku menyuruh Mas untuk membebaskan tante Angel."
Al tidak tahu jalan pkiran Ranum, saat ia mendengar kalimat sang istri. "Ranum, aku tidak bisa melakukan itu, karena ibu tiri kamu itu sudah sangat keterlakuan."
__ADS_1
"Mas, jangan terus-terusan membenci sebab membenci seseorang hanya akan membuat diri kita sendiri yang sakit," balas Ranum yang sekarang memegang tangan sang suami. "Kasihan kak Bianca, jangan sampai dia bvnvh diri gara-gara tente Angel yang akan mendekam di penjara."
"Ranum, sekali lagi aku katakan, kalau aku tidak bisa," ucap Al yang lalu terlihat berdiri dan segera pergi dari ruang makan itu.