Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 66


__ADS_3

Setelah Al tiba di hotel ia menemukan Ranum yang sedang belajar. Saking fokusnya gadis itu dalam belajar sehingga suaminya pulang saja tidak dia tahu.


"Di sekolah main cinta-cintaan, giliran di hotel belajarnya sangat Rajin, saking rajinnya aku pulang pun tidak di hiraukan," seloroh Al yang ingin melihat bagaimana tanggapan Ranum.


"Tuan Al, maaf. Aku benar-benar tidak tahu kalau Anda sudah pulang." Ranum lalu berdiri dan segera mendekati suaminya itu. Berniat ingin mengambil jas dan melepaskan sepatu Al. Akan tetapi laki-laki itu menolak untuk disentuh oleh Ranum.


"Jangan lakukan itu lagi, aku tidak mau nanti kekasih hatimu cemburu, padaku." Sambil mengibas-ngibaskan tangannya Al menjauh dari Ranum. "Memang anak jaman sekarang kelakuannya sangat miris, bukannya sekolah yang benar, eh malah lebih mikirin soal cinta. Bagaimana bangsa ini mau maju sedangkan generasinya saja seperti ini. Pantesan saja Negara ini berkembang bukan malah maju seperti Negara-Negara tetangga."


"Tuan, aku tidak mengerti maksud ada. Dan siapa yang telah memiliki kekasih?" Ranum bertanya sambil mengikuti langkah kaki Al dari belakang.


"Kamu pikir saja sendiri, siapa yang aku maksud!" jawab Al ketus. Entah mengapa ketika laki-laki itu mengingat wajah Ryder yang mengungkapkan perasaanya kepada Ranum membuat laki-laki itu menjadi merasa kesal sendiri. "Kamu juga terlihat cocok dengannya, semoga saja kamu dan dia berjodoh. Setelah kita bercerai nanti." Al tersenyum getir setelah mengatakan itu. Karena mulutnya berkata iya, sedangkan hati kecilnya mengatakan tidak. Sehingga membuat hati laki-laki itu seketika merasa menjadi sangat sesak.


"Tuan, apa Anda berniat ingin memisahkan aku dan anakku?" pertanyaan itu lolos begitu saja dari bibir tipis Ranum.


"Tidak, aku hanya ingin mengambil anakku saja darimu, setelah dia lahir nanti. Dan setelah itu anggap saja kita tidak pernah saling kenal. Jalani hidupmu seperti apa yang kamu inginkan. Aku pastikan anak kita itu tidak akan kekurangan soal materi ataupun kasih sayang, karena aku sendiri pasti akan bisa memberikannya." Tanpa sadar kalimat Al kini telah berhasil membuat bendungan di bola mata Ranum. "Tinggal empat bulan, sepuluh hari lagi, kamu akan bebas dari pernikahan ini Ranum. Jadi, aku minta kamu bersabarlah sedikit saja."


Ranum menarik kemeja yang sedang Al buka kancingnya satu-persatu. "Tuan bagaimana bisa Anda berkata seperti itu? Tidakkah Anda memikirkan perasaanku saat ini?" Air mata yang Ranum tahan dari tadi akhirnya tumpah juga. "Bukankah Anda belum yakin kalau bayi yang ada di dalam perutku ini darah daging Anda?" Lalu kenapa Anda sekarang malah berkata seperti ini? Seolah-olah aku tidak berhak atas bayi yang kukandung ini."

__ADS_1


"Malam ini kita akan pergi kerumah sakit untuk membuktikan bahwa itu adalah darah dagingku, dengan begitu semuanya akan menjadi semakin jelas. Sehingga kamu dan aku tidak mempermasalahkan ini lagi." Al kemudian melepaskan tangan Ranum dari bajunya. "Aku mandi dulu, dan kamu juga bersiap-siaplah. Supaya kita bisa langsung berangkat ke rumah sakit," sambung Al yang kemudian melangkahkan kakinya ke kamar mandi.


"Apa memang benar aku harus berpisah dengan anakku? Sedangkan hewan saja makhluk yang diciptakan tidak memiliki akal. Begitu menyayangi anak mereka. Sedangkan aku yang menjadi manusia makhluk yang telah diciptakan sebaik-baik makhluk di muka bumi ini akan tega berpisah dari anakku sendiri. Pokoknya aku tidak akan membiarkan Tuan Al mengambil bayiku." Ranum bergumam di dalam benaknya.


***


Setelah Siska melakukan pengambilan sampel darah pada bayi yang masih ada di dalam perut Ranum. Siska lalu dengan cepat membawa sampel itu ke laboraturium untuk mengecek golongan darah tersebut. Yang dimana golongan darah itu apakah cocok atau tidak dengan Al.


Al dan Bagas yang melihat Siska sudah pergi segera menghampiri Ranum.


"Apa terasa sakit?" tanya Bagas saat melihat Ranum masih berbaring.


"Syukurlah kalau tidak sakit, ayo kita tunggu di luar saja." Bagas kemudian ingin membantu Ranum untuk bangun akan tetapi Al dengan cepat menghalangi Bagas.


"Aku Ayah dari bayi itu Bagas. Jadi, yang lebih berhak membantu Ranum itu aku bukan kamu," desis Al sambil menyeggol lengan Bagas. "Minggir, berikan aku sedikit ruang supaya aku bisa membantu Ranum untuk bangun."


Bagas yang mendengar itu menggeser sedikit posisinya yang berdiri saat ini. "Bilang saja Anda cemburu Tuan, jangan pakai alasan segala. Itu terdengar sedikit memalukan," bisik Bagas di telinga Al.

__ADS_1


Al yang mendengar itu tanpa aba-aba menginjak kaki Bagas. Sehingga Bagas langsung ingin menjerit tapi untung saja laki-laki itu menutup mulutnya sendiri dan dengan wajah merah padam Bagas menunduk karena menahan rasa sakit.


"Makanya jangan asal nebac*t!" geram Al yang juga ikut berbisik di telinga Bagas.


***


Al seolah tidak percaya rupanya bayi yang ada di dalam kandungan Ranum itu memang benar-benar adalah darah dagingnya sendiri. Sehingga membuat laki-laki itu tidak tahu harus merasa senang atau bersedih. Tatkala melihat Ranum dari tadi menunduk dengan wajah sendu.


"Ayo kita kembali ke hotel, lagipula sekarang semuanya sudah sangat jalas. Kalau bayi itu adalah darah dagingku sendiri," kata Al membuka percakapan setelah beberapa menit sempat terdiam. "Udara pada malam hari yang begitu dingin tidak untuk ibu hamil, jadi ayo kita pulang ke hotel," ajak Al sambil melirik jam di pergelangan tangannya.


"Apa Anda akan benar-benar memisahkanku dari bayiku ini Tuan?"


"Jangan bahas itu sekarang, lebih baik kamu berdiri dan cepat berjalan ke parkiran. Karena di sana Bagas sudah menunggu kita." Al malah memjawab Ranum dengan begitu. Karena ia tidak mau Ranum menjadi setres jika memikiran tentang itu-itu saja.


"Saya mohon Tuan, jangan pisahkan aku dengan anakku nanti." Ranum tiba-tiba saja bersujud di bawah kaki Al. "Tuan tolong dengarkan aku, bahwa tidak ada satupun seorang ibu di dunia ini yang mau berpisah dengan anak mereka. Jadi, aku mohon pikirkaan dulu keputusan Anda yang ingin memisahkanku dari anaku." Bibir Ranum bergetar dan dengan suara yang serak. Sepertinya gadis itu sedang menahan isak tangisnya supaya tidak pecah.


"Ranum, apa yang kamu lakukan?" Al yang tidak bisa melihat Ranum bersujud di bawah kakinya dengan segera membawa gadis itu untuk berdiri lagi. "Jangan pernah merendahkan dirimu seperti ini lagi Ranum, jika kamu tidak ingin di rendahkan oleh orang lain." Al lalu merangkul Ranum dan dengan segera membawaya menuju ke tempat parkiran.

__ADS_1


"Tuan, saya mo–"


"Hentikan Ranum! Jangan membuat tensiku naik. Lebih baik tutup mulutmu. Di hotel kita akan membahas masalah ini lagi."


__ADS_2