
"Mas, aku mau kita hidup dengan damai, tanpa ada drama dendam lagi," kata Ranum yang terus saja meminta sang suami untuk membebaskan Angel.
Mendengar kalimat itu-itu saja yang diucapkan oleh Ranum pada akhirnya membuat Al merasa kalau ia harus mencabut tuntutan pada Angel. "Baiklah Ranum, jika itu yang kamu inginkan. Maka aku akan pergi ke kantor polisi dan akan mencabut tuntutan itu," ujar Al menimpali sang istri.
"Sekarang saja Mas," ucap Ranum setelah mendengar Al setuju akan membebaskan Angel. "Karena aku sudah berjanji pada kak Bianca, dan pasti sekarang juga kak Bianca sedang menungguku di kantor polisi." Kali ini juga ibunya Agna itu berharap Al mau pergi ke kantor polisi meski sudah malam.
"Sudah malam, besok pagi saja, karena masih banyak waktu juga," sahut Al.
"Tidak bisa Mas, malam ini saja dan Agna biar sama Bi Imah di rumah berhubung putri kita itu sudah tidur," ujar Ranum.
Al yang tahu kalau Ranum sudah berkata seperti itu maka wanita itu tidak bisa di tawar ataupun di nego lagi. "Hm ... oke, kita pergi malam ini, kamu bersiap-siap saja sebelum jam 10 malam," ucap Al.
Ranum meraih tangan Al. "Kita bawa kak Bianca dan tante Angel pulang ke sini dulu ya, karena mereka tidak punya tempat tinggal."
Al mengerutkan dahi. "Apa ini tidak berlebihan?"
"Hanya malam ini saja Mas, untuk besok pagi kita carikan mereka tempat tinggal yang layak di tempati dan memberi mereka modal usaha."
"Kamu harus memberikanku jatah lebih untuk malam ini, karena permintaanmu bukan cuma satu," kata Al yang malah mengambil kesempatan dalam situasi seperti ini. "Bagaimana apa kamu setuju, Bundanya Agna?"
Ranum langsung mengangguk dengan cepat, karena wanita itu merasa dia akan dapat banyak pahala karena melayani sang suami dengan suka rela.
"Oke, deal, kalau begitu kita berangkat sekarang saja," ajak Al dengan semangat yang membara. Karena laki-laki itu malam ini akan mendapat bonus plus-plus. "Ayo ...!"
__ADS_1
"Mas duluan dulu, karena aku mau memberitahu Bi Imah kalau kita mau menitip Agna sebentar, berhubung Suster Flo sedang ada di rumah sakit bersama mama."
Ternyata Anggun dan Flora masih ada di rumah sakit menemani Daniel. Oleh sebab itu, Ranum kali ini harus menitip Agna pada asisten rumah tangganya itu.
"Titip Agna sama Bagas dan Sonia saja, bagaimana? Karena pasti Bi Imah saat ini sudah tidur, sebab dia juga butuh istirahat. Mengingat pekerjaannya di rumah ini terlalu banyak."
"Iya, Mas benar juga, baiklah kalau begitu aku mengambil Agna di kamar dulu, setelah itu baru kita bawa ke rumah pasangan gesrek itu," ujar Ranum yang kini terlihat mulai berjalan meninggalkan Al sendiri di ruang makan itu. Namun, saat wanita itu tinggal beberapa langkah lagi akan sampai di kamarnya, Ranum malah menghentikan langkah kakinya dan dengan cepat berbalik. "Mas, tolong ambilkan Agna dot dan juga susu beku di dalam lemari pendingin!"
Al merespon sang istri dengan cara mengangkat kedua jari jempolnya.
*
"Apa aku mengganggu kalian?" tanya Al ketika melihat Sonia dan Bagas dengan penampilan yang acak-acakan. Dan kalian para pembaca pasti sudah tahu apa yang telah dilakukan oleh bumil dan pakmil itu.
"Tidak Tuan, apa ada yang bisa saya bantu?"
Bagas menatap Al karena laki-laki itu berharap tuannya menjelaskan semuanya pada dirinya. "Kantor polisi, siapa yang ingin Anda jenguk di sana, malam-malam begini?"
"Nanti aku beritahu kamu Bagas, sekarang apa kamu setuju aku menitip Agna?"
"Anda ini kenapa harus bertanya seperti itu Tuan? Karena saya dan Sonia sangat senang jika Anda menitip Nona muda Agna."
Ranum dan Al tersenyum secara bersamaan ketika melihat ibu hamil itu mengambil Agna dari dalam gendongan Ranum.
__ADS_1
"Agna biarkan saja menginap disini, supaya Tuan Al bebas malam ini menjalankan misi untuk membuatkan adik buat dedek Agna," seloroh Sonia. "Biar nanti dedek Agan dan bayiku ada teman main, teman sesama gesrek juga," lanjut Sonia, dan tidak lama terdengar gelak tawa mereka berempat secara bersamaan. Kaerena deretakan kalimat wanita hamil itu terdengar sedikit lucu.
***
Di kantor polisi, Bianca ternyata benar-benar menunggu Ranum di sana. Harapan gadis itu sempat memudar ketika ia menunggu Ranum sudah hampir satu setengah jam. Namun, ibunya Agna itu belum kelihatan batang hidungnya sampai sekarang.
"Apa Ranum hanya memberikan aku harapan palsu?" tanya Bianca pada dirinya sendiri yang sekarang terlihat berdiri dari duduknya. Sebab gadis itu merasa sudah mulai bosan menunggu. "Sepertinya aku harus pergi saja, karena Ranum tidak akan datang," kata Bianca sambil mulai terlihat melangkahkan kaki. Tapi tiba-tiba saja sebuah tangan menepuk bahu gadis itu dari arah belakang. Dan pada saat itu juga Bianca langsung saja menoleh.
"Kak Bianca mau pergi ke mana?" tanya Ranum.
Bianca yang melihat Ranum langsung saja mengukir senyum di bibirnya. Namun, saat melihat Al yang berdiri di sebelah Ranum. Gadis itu langsung saja menunduk bersamaan dengan itu senyumnya menjadi memudar.
Sedangkan Ranum yang peka langsung saja meraih tangan Bianca. "Kak, kenalin ini suami aku," kata Ranum memperkenalkan sang suami pada Bianca. "Mas, kenalin dia kak Bianca," lanjut Ranum yang sekarang malah bergantian memperkenalkan Al.
"Kita masuk saja, nanti Agna keburu nangis di rumah," ujar Al yang kemudian terlihat berjalan masuk ke dalam kantor polisi itu terlebih dahulu. Membiarkan sang istri dan Bianca mengobrol terlebih dahulu di luar.
"Ayo kak Bianca, kita masuk saja dan maafkan Mas Al yang terkesan cuek. Namun, percayalah Mas Al orangnya baik. Sehingga dia mau mencabut tuntutan pada tante Angel."
Bianca langsung saja memeluk Ranum, karena gadis itu merasa kalau Ranum benar-benar tidak menaruh dendam pada dirinya sedikitpun. Meskipun dulu Bianca begitu jahat pada ibunya Agna itu.
"Harus dengan apa aku membalas kebaikan kamu ini Ranum?"
"Cukup, dengan kak Bianca berubah menjadi lebih baik lagi. Itu sudah mampu membalas apa yang aku lakukan ini," jawab Ranum.
__ADS_1
Membuat Bianca semakin erat memeluk Ranum, karena sekarang baru gadis itu menyesali tentang kebodohannya yang dulu sangat membenci Ranum, bahkan Bianca juga dulu sangat sering sekali melukai perasaan Ranum baik dengan tingkah laku maupun ucapan.
"Sekarang kita masuk, pasti tante Angel sangat senang, karena malam ini tante akan dibebaskan dan tidak akan mendekam di dalam jeruji besi itu lagi," kata Ranum.