
Jangan lupa Like dan Komen.
Tepat jam 9 malam Ranum pulang sesuai dengan isi pesan sang suami, ia juga pulang naik taksi karena wanita itu menolak di antar oleh Ryder dan Vira.
"Semoga saja Tuan Al tidak marah padaku," gumam Ranum membatin sambil akan membuka pintu. Namun, tiba-tiba saja ponselnya berdering.
"Sonia, ada apa dia menelponku? Bukankah dia ada di dalam bersama Bagas?" Ranum bertanya kepada dirinya sebelum gadis itu menggeser tombol hijau.
"Ranum, kamu cepat kesini," kata Sonia ketika Ranum sudah menerima panggilannya.
"Kesini? Maksud kamu di rumah?" Ranum bertanya balik pada Sonia, karena ia tidak paham dengan apa yang di maksud oleh gadis yang ada di seberang telepon itu. "Sonia, kenapa kamu malah diam?"
Sonia terdengar sedang adu mulut, sehingga gadis itu tidak menjawab pertanyaan Ranum.
"Sonia, apa kamu baik-baik saja? Dan saat ini kamu sedang ada di mana?" Hati Ranum menjadi tidak karuan di saat ia mendengar Sonia menyebut-nyebut nama Al. "Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan Tuan Al? Kenapa Sonia juga tidak menjawabku?" Ranum semakin di buat kebingungan karena Sonia, gadis itu terdengar sedang marah-marah. Sehingga cacian pun keluar dari mulut gadis itu.
"Ranum! Kamu cepat datang ke klub tempatku bekerja, sekarang!" seru Sonia sebelum gadis itu memutuskan panggilan.
__ADS_1
Ranum sontak saja kaget karena mendengar Sonia yang tiba-tiba saja menyuruhnya datang ke klub tempat gadis itu bekerja. "Sebenarnya apa yang terjadi? Sehingga Sonia menyuruhku datang ke klub." Di saat Ranum masih saja bertanya pada dirinya tiba-tiba saja kelakson membuatnya kaget.
"Ayo naiklah, kita pergi ke klub itu," kata Bagas yang ternyata datang menjemput Ranum. "Ranum, ayolah, jangan malah diam saja."
"Bagas, kenapa dia ada di sana. Lalu di dalam Agna, mama, dan Suster Flo hanya bertiga di dalam."
"Jangan kebanyakan mikir masuk saja dulu, nanti aku jelaskan," kata Bagas yang membunyikan kelakson lagi. Di saat melihat Ranum diam saja. "Ranum!" panggil Bagas dengan sedikit berteriak.
"I-iya Bagas, aku akan kesana." Lalu wanita itu terlihat bergegas berjalan ke arah mobil Bagas. Dengan otaknya yang menyimpan segudang pertanyaan. Sebab sampai sekarang ia masih belum bisa menebak apa yang di katakan oleh Sonia dan Bagas. Di tambah Sonia tadi marah-marah tidak jelas, malah membawa-bawa nama sang suami.
"Kita harus cepat ke klub," ucap Bagas ketika ia membukakan pintu mobil itu untuk Ranum. "Karena Tuan Al ada di sana," lanjutnya lagi.
"Nanti aku jelaskan Ranum, karena sekatang kita harus sampai ke sana dengan cepat," balas Bagas menjawab pertanyaan Ranum. "Pasang sabuk pengamanmu, karena aku akan menggunakan kecepatan, bak bagiakan pembalap," celetus Bagas.
Ranum memelototi Bagas. "Jangan aneh-aneh Bagas, aku masih mau hidup, kalau kamu mau ma ti, ma ti saja sendiri jangan malah mengajak-ngajakku," sahut Ranum menimpali Bagas. "Pelan-pelan saja Bagas, yang penting kita sampai dengan selamat. Ingat kita hanya punya satu nyawa bukan sembilan."
Bagas mengangguk tapi laki-laki itu sama sekali tidak mengurangi kecepatan laju mobilnya. Karena baginya ia harus cepat sampai di klub malam. Sebab kata Sonia Al saat ini sedang dalam pengaruh obat perangsang, tapi Bagas sama sekali tidak mau memberitahu Ranum.
__ADS_1
"Bagas, jangan ngebut-ngebut, aku jadi takut," kata Ranum sambil mejamkan matanya karena ia benar-benar takut untuk saat ini. "Bagas! Aku takut!" pekik Ranum dengan tubuh yang mulai gemetaran.
"Supaya kita cepat sampai, karena Tuan Al saat ini sedang dalam masalah besar. Dan jika kamu takut pejamkan saja matamu, nanti kalau sudah sampai baru kamu bisa membukanya," ujar Bagas.
Ranum yang mendar itu hanya bisa mengangguk pasrah.
***
Setiba di klub tubuh Ranum mendadak menjadi lemas, karena ia melihat Al sedang berci uman dengan Feni dengan sangat rakus dan ganas. Ia juga bisa melihat Sonia yang menarik tubuh wanita malam itu.
"Bagas! Bantu aku, jangan cuma diam saja disana, ayo bantu aku, untuk menyingkirkan kupu-kupu malam ini!" seru Sonia sambil terus saja menarik Feni. "Bagas! Ayolah!" Wajah Sonia sudah berkeringat dingin, sebab gadis itu sudah berusaha menahan tubuh Feni agar wanita malam itu tidak main sosor saja. Di saat ia juga melihat wajah Al sudah mulai memerah karena sepertinya laki-laki itu sedang menahan sesuatu.
"Jangan halangi aku untuk memuaskan has rat Tuan Al, lebih baik kalian pergi saja dari sini." Feni malah mengusir Sonia, Bagas dan Ranum. "Sana kalian keluar saja, dari pada Tuan Al akan kehilangan nyawa, sebab aku sudah memasukkan obat perang sang dengan dosis yang banyak pada minumannya." Feni merasa senang, ketika wanita malam itu secara terang-terangan mengaku telah memasukkan obat pe rang sang kedalam minuman Al. Yang terlihat sekarang laki-laki itu seperti cacing kepanasan.
Ranum yang mendengar itu menjadi sangat marah, karena mendengar kalimat Feni. "Hei kau ...!" Ranum menunjuk wajah Feni. "Bisa-bisanya kau ingin tidur dengan suamiku!" teriak Ranum sehingga membuat Bagas maupun Sonia melotot sempurna sebab ia tidak menyangka kalau Ranum akan seberani ini gara-gara Feni yang ingin menghabiskan malam dengan Al. "Pergi dari sini! Sebelum aku melemparmu keluar dari klub ini!" seru Ranum membuat Sonia bisa melihat sisi lain ibunya Agna itu. Yang ternyata bisa marah juga. "Aku bilang kau pergilah!" Kini Ranum terlihat mendekati Feni. Sehingga membuat Sonia mundur beberapa langkah.
"Kau jangan pernah bermimpi, ingin tidur dengan suamiku!" Ranum langsung saja menarik lengan Feni dan menghempaskan wanita itu sehingga membuat wanita malam itu langsung terpental ke tembok dan jatuh. "Enyahlah, dasar wanita murahan! Tidak bisakah kau melihat laki-laki bening!" Wanita itu menatap Feni dengan sinis. "Pergi! Sebelum aku ...." Ranum tiba-tiba saja memecahkan satu botol minuman keras itu. "Atau kau akan lenyap di tanganku!" Ia saat ini sedang menakut-nakuti Feni. Membuat wanita malam yang di takut-takuti itu merasa takut dengan ibunya Agna itu.
__ADS_1
Sedangkan Bagas dan Sonia, benar-benar tidak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Membuat dua pasangan kekasih itu hanya bisa melongo.
"Suamimu akan lenyap, jika kamu tidak memberikan air kehidupan keluar dari tongkat saktinya," ucap Feni tersenyum. Wanita itu seolah-olah mengejek Ranum. "Karena obat pe rang sang itu bukan sembarang obat." Setelah mengatakan itu Feni berdiri dan segera pergi dari sana. Sambil menahan malu di dalam benaknya.