
Setelah Daniel masuk, laki-laki paruh baya itu terlihat begitu terkejud karena melihat Anggun yang terbaring lemah dan terlihat berbagai alat terpasang di tubuh wanita paruh baya itu.
"Apa yang telah terjadi dengan Mama kamu, Al? Kenapa dia malah menjadi begini?" Daniel benar-benar tidak percaya kalau keadaan sang istri terlihat sangat memperihatinkan seperti saat ini.
"Papa bisa lihat sendiri, dan sepertinya aku tidak perlu menjelaskan apapun pada Papa," jawab Al yang berdiri di ambang pintu.
Daniel yang mendengar jawaban putranya seperti itu menjadi berpikir keras sebelum ia bertanya kepada Al. "Apa ini karena kecelakaan itu? Dan kenapa kamu malah merahasikan ini semua dari Papa? Kamu memang anak yang kurang ajar! Bisa-bisanya hal seperti ini kamu sembunyikan dari Papa, sebenarnya di mana otakmu, hah?"
"Jangan ribut-ribut di sini, karena aku takut Mama malah semakin tidak mau membuka mata, gara-gata takut dengan Papa." Hanya itu yang keluar dari mulut Al.
"Anak tidak tau diri! Pokoknya Papa akan membawa pulang Mamamu ke rumah utama. Meskipun kamu melarang Papa." Daniel terlihat mengotak atik ponselnya, karena laki-laki paruh baya itu ingin menghubungi orang kepercayaannya. Untuk membawa Anggun pergi dari rumah Al. "Papa sudah mengirim pesan pada teman Papa yang sebentar lagi akan datang, dan setelah itu Papa akan membawa Mama kamu pergi. Jangan harap kali ini kamu akan bisa menghalangi Papa sebab, kamu sama sekali tidak memiliki hak untuk melarang Papa," sambung Daniel. Sehingga membuat Al tersenyum sinis lagi menatap pria paruh baya itu.
"Aku, Altezza, tidak akan pernah membiarkan Mama di bawa oleh Papa. Laki-laki yang telah tega menyakiti hati Mamaku dengan terang-terangan," ucap Al yang tidak menyadari kalau tangan Anggun sudah mulai bergerak. "Aku sudah memperbolehkan Papa melihat Mama dalam keadaan begini, bukan berarti aku akan memperbolehkan Papa membawanya pulang!" Al sekarang menatap mata Daniel, dengan tatapan yang sangat tajam. "Sekarang Papa pulang, dan jangan berharap aku akan mengizinkan Papa membawa Mama pergi dari ruamahku sini." Al mengangkat sedikit sudut bibirnya. "Keluar Pa, jangan usik Mama yang saat ini sedang beristirahat."
"Al ...," panggil wanita yang di nyatakan koma itu. "Papa ...." Kini Anggun terdengar memanggil Deniel dengan suara lirih. "Jangan berdebat lagi seperti ini," gumamnya pelan.
"Mama!" seru Al dengan wajah yang terlihat sangat bahagia. Dan tidak lama Al langsung saja berlari ke arah ranjang Anggun. "Ini sebuh keajaiban, Mama sadar dari koma secepat ini, padahal kata dokter Mama akan koma dalam jangka waktu yang lama. Tapi lihatlah sekararang Mama sudah membuka mata, ini benar-benar sebuah keajaiban," kata Al yang tidak bisa berkata apa-apa lagi. Saking bahagianya ayahnya Agna. "Suster Flo, harus tahu tentang ini." Al lalu dengan cepat menelepon suster itu.
"Halo, Tuan Al. Apa ada sesuatu yang tarjadi?" tanya Flora. Yang kebetulan saat ini, wanita itu sedang bersama Sonia dan Bagas ada di taman samping rumah itu. Karena tadi ketika Daniel datang Bagas langsung saja pergi dari ruang tamu mengajak Sonia dan Flora itu semua atas perintah Al.
"Kamu ajak Bagas dan Sonia masuk, karena saat ini sesuatu keajiban telah terjadi." Suata Al terdengar sangat antusias, ketika laki-laki itu mengatakan itu semua.
__ADS_1
"Ada apa Tuan? Jangan buat kami penasaran seperti ini," kata Flora yang penasaran. Kebetulan juga suara volumenya ia besarkan sehingga Bagas dan Sonia juga bisa mendengar Al dengan jelas.
"Masuk, saja dan langsung ke kamar Mamaku," sahut Al yang kemudian memutuskan panggilannya.
***
Tiga hari berlalu setelah Anggun sadar dari komanya. Kini rumah itu menjadi semakin ramai meskipun wanita paruh baya itu harus menggunakan kursi roda, karena kakinya masih cedera gara-gara kecelakaan itu.
"Agna, cucu Nenek, maaf sayang Nenek tidak bisa mengendong kamu dulu," kata Anggun saat melihat Ranum menggendong Agna. "Tumbuh menjadi anak yang sehat sayang, meskipun kamu lahir prematur," lanjut Anggun dengan mata yang memancarkan binar bahagia. Ketika bayi yang belum genap satu bulan itu menatap dirinya.
"Tidak apa-apa nenek, nanti kalau nenek sudah sembuh baru ngendong Agna sepuasnya," ucap Ranum yang duduk di atas sofa menyahut dengan perasaan yang senang. Karena wanita itu beryukur kalau Anggun bisa sadar dari koma secepat ini. Sehinga ia bisa melihat senyaum wanita paruh baya itu lagi. "Mama harus cepat sembuh, supaya bisa ajak Agana main."
Saat Anggun akan membalas ucapan Ranum, tiba-tiba saja Flora datang ingin meberikan wanita paruh baya itu meminum obat.
"Sini dulu sus, kita ngobrol bareng-bareng." Anggun melambaikan tangan pada Flora.
"Iya Nyonya," balas Flora.
"Titip Agna dulu suster Flo, karena hari ini aku harus pergi ke kantor Mas Al," kata Ranum dengan sedikit malu-malu menyebut Al dengan panggilan mas. "Tidak apa-apa 'kan Suster Flo?"
"Tidak apa-apa Nyonya, Anda bisa pergi sekarang. Dan sini dedek Agna, biar saya gendong."
__ADS_1
***
Ini untuk yang pertama kalinya Ranum pergi ke perusahaan Ezza Fashion, dengan menggunakan baju yang kebesaran seperti apa yang diminta oleh Al, wanita itu dengan ragu-ragu menginjakkan kaki di perusahaan yang sangat terkenal itu.
"Sebenarnya ada apa Tuan Al menyuruhku datang ke sini?" tanya Ranum di dalam benaknya. Tanpa ia melihat ternyata Bagas sudah menunggunya di pintu masuk.
"Nyonya Ranum, sini," panggil Bagas, ketika ia melihat Ranum yang pelenga-pelongo saja di depan perusahaan itu. "Tuan Al sudah menunggu Anda dari tadi," lanjutnya lagi.
Sedangkan Ranum menjadi sedikit heran dengan cara berbicara Bagas pada dirinya, yang tidak seperti biasanya. "Bagas," gumam Ranum pelan. "Kenapa dia memanggil aku dengan sebutan nyonya? Itu terdengar sangat aneh sekali, karena tidak biasanya dia memanggilku seperti itu."
Bagas terlihat berjalan ke arah Ranum, sambil berkata, "Anda lama sekali, sehingga membuat Tuan Al yang menunggu ada menjadi uring-uringan."
"Bagas, apa yang kamu katakan? Sungguh aku saat ini tidak mengerti dan paham," kata Ranum membalas ucapan Bagas. "Dan kenapa juga bahasamu menjadi formal begini padaku?"
Bagas yang sudah berdiri di depan Ranum tersenyum. "Mohon kerjasamanya, karena di dalam ruangan Tuan Al, ada seorang ayah dan anak yang secara terang-terangan melamar Tuan Al," jawab Bagas dengan sangat pelan.
Ranum mengerutkan dahi. "Tuan Al dilamar?"
"Masuk saja, supaya lebih jelas," ucap Bagas.
......................
__ADS_1