
Pagi menjelang ketika Ranum dan Anggun sarapan bersama tiba-tiba saja Al pulang dengan menggunakan baju yang biasa saja. Tidak seperti biasa yang selalu saja menggunakan setelan jas.
"Selamat pagi Mama, apa kabar hari ini?" tanya Al pada sang ibu. Namun, Anggun yang ditanya Ranum yang malah salah tingkah.
"Semakin baik dari hari-hari sebelumnya," jawab Anggun berhias senyum ketika ia melihat putranya yang juga tersenyum ke arahnya. "Tadi malam, kenapa kamu tidak pulang, Al?" Sekarang giliran Anggun yang bertanya, karena ia tahu Al tidak pulang tadi malam. Sebab wanita paruh baya itu hanya melihat Ranum dan Sonia ketika ia dan Flora tadi malam sedang menjaga Agna. Oleh sebab itu, ia langsung bertanya kepada sang putra semata wayangnya itu.
Al sempat melirik Ranum yang saat ini tidak berani mengangkat wajah. Sebelum laki-laki itu menjawab pertanyaan sang ibu. "Lho, bukannya aku sudah bilang sama Ranum kalau aku ada lembur di kantor, apa Ranum tidak memberitahu Mama?"
"Hm, maaf Mas Al tadi malam aku sangat ngantuk sekali, sehingga aku lupa memberitahu mama kalau Mas Al tadi malam lembur," kata Ranum yang malah menjawab pertanyaan sang suami. "Sekali lagi aku minta maaf ma."
"Tidak apa-apa Ranum, mama pikir kamu dan Al sedang bertengkar makanya tadi mama bertanya seperti itu, karena kamu juga tadi malam pulang di antar Sonia bukan Al. Tapi kamu tenang saja sekarang semua sudah jelas, kalau Al lembur tadi malam, Jadi, mama tidak merasa curiga," ucap Ranum, yang ternyata berpikiran kalau anak dan menantunya itu sedang bertengkar. "Kalau begitu ayo Al, kita sarapan bersama, dan kamu Ranum layani suami kamu seperti biasa," kata Anggun sehingga membuat Ranum semakin salah tingkah. "Ayo Al, duduk biar Ranum yang akan mengambilkanmu nasi dan lauk," sambung Anggun.
"Bundanya Agna, Mama harus panggil Ranum dengan nama Bundanya Agna," ujar Al tiba-tiba.
Anggun yang mendengar itu menatap sang putra. "Mama lupa, kalau Ranum mau dipanggil bunda oleh Agna," celetus Anggun sambil menutup mulutnya sendiri sebab ia merasa lucu saat membayangkan cucunya, Agna besar nanti dan akan memanggil Ranum dengan sebutan bunda. "Mama akan usahakan supaya Mama memanggil Ranum, bunda Agna, semoga lidah Mama tidak keseleo Al," lanjut Anggun yang terlihat jelas sedang mengulum senyum.
"Harus dong Ma," sahut Al.
Sedangkan Ranum berdiri karena ia akan mengambil nasi untuk Al akan tetapi sang suami malah menahan tangan istrinya itu. "A-ada a-apa Mas Al?" tanya Ranum terbata-bata. Sebab di punggung tangan Al terlihat jelas bekas cakarannya tadi malam, karena kukunya sangatlah panjang. Sehingga membuat gadis itu menjadi gugup. "Mas Al, a-ada a-apa?" tanya Ranum sekali lagi.
__ADS_1
"Tidak usah, aku bisa mengambil nasi dan lauk sendiri, kamu duduk saja dan lanjutkan sarapanmu. Supaya air asimu semakin banyak sebab tadi malam sudah di kuras habis-habisan," ujar Al.
Namun, siapa sangka kalimat Al berhasil membuat Ranum mengangkat wajahnya dan menatap Al. Dan pada saat itu juga kedua bola mata wanita itu hampir saja meloncat dari tempatnya karena matanya malah melihat bekas ikan ****** di leher sang suami.
"Hah! Benarkah itu bekasku tadi malam? Bukankah aku tidak pernah melakukan itu, tapi kenapa sekarang tanda itu hampir mirip dengan yang ada pada leherku?" gumam Ranum membatin karena wanita itu tidak ingat, bahwa tadi malam ia juga sangat liar sehingga mengukir banyak sekali tato yang berwarna merah di leher laki-laki itu. "Jawaban apa yang akan aku berikan kepada mama? Jika mama malah menanyakan tanda merah di leher Tuan Al." Ranum masih saja membatin membuat Al tiba-tiba saja memegang kening sang istri.
"Kamu sakit?" tanya Al.
Ranum yang ditanya hanya bisa menggeleng. "Tidak Mas, aku tidak sakit," jawab Ranum singkat yang kemudian kembali duduk lagi, untuk menghabiskan sarapannya.
"Oh, aku kirain kamu sakit," balas Al sebelum laki-laki itu duduk dan akan ikut sarapan. Al juga berlagak biasa saja seperti tidak pernah ada yang terjadi antara dia dan Ranum. "Selesai sarapan, ada hal yang ingin aku sampaikan Ma," kata Al membuat Anggun dan Ranum menatap laki-laki itu secara bersamaan.
"Selesai sarapan Ma, sarapan dulu gih," jawab Al.
***
Beberapa jam sebelum Al pulang ke rumahnya, ia terlihat sangat senang karena ia bisa mendengar serta melihat sendiri kejadian yang tadi malam dengan sangat jelas. Karena rupanya tadi malam laki-laki itu sudah menyuruh Bagas untuk menaruh cctv yang tersembunyi di dalam ruangan VVIP itu.
"Apa kamu sudah memberikan uang lebih pada Feni?" tanya Al saat masih saja menonton videonya sendiri dan Ranum ketika ia sedang bercocok tanam dengan sang istri. "Bagas, apa kamu mendengarku?"
__ADS_1
Bagas yang sedang berdiri di pojokan segera mendekati tuannya. "Kecilkan dulu Tuan volumenya, karena saya takut telinga saya jadi ternoda," ucap Bagas yang malah mengabaikan pertanyaan tuannya itu. "Tolonglah Tuan, jangan buat saya takut sebab suara de sa han Anda dan Ranum terdengar sangat jelas sekali," sambung Bagas sambil menutup kedua kupingnya.
Al replekas saja mematikan rekaman itu sambil berkata, "Bukankah kamu sebentar lagi akan merasakannya? Bagaimana nikmatnya surga dunia itu." Sudut bibir Al sedikit terangkat. "Itu semua terasa sangat nik mat!" celetuk Al yang membuat Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Cukup Tuan, karena bulu kuduk saya mendadak bangun dari tidurnya," kata Bagas, membuat Al tiba-tiba saja terkekeh-kekeh. "Kenapa Anda malah tertawa, Tuan?"
"Kamu ada-ada saja, Bagas. Bilang saja bulu kudukmu berdiri. Tanpa harus menggunakan kata mendadak bangun dari tidurnya," balas Al dengan suara tawa laki-laki itu semakin keras.
"Bahas yang lain saja Tuan, tadi bukankah Anda menanyakan tentang bonus buat Feni?"
Al mengangguk sambil berusaha menahan gelak tawanya. "Aku sampai lupa akan hal itu. Oh iya, gimana bonus untuk wanita itu, apa sudah kamu berikan?"
"Sudah saya berikan dua kali lipat Tuan Al, seperti yang Anda minta," jawab Bagas.
"Good, kerja bagus. Jadi, langkah selanjutnya apa yang harus aku lakukan?"
"Rencana kedua Tuan, Anda harus membahas masalah surat perceraian itu dengan Ranum. Dan untuk rencana ketiga Anda harus mengeluarkan kartu As. Karena mungkin saya tidak akan bisa membantu Anda mengingat saya akan melamar Sonia dan akan langsung menikah dengannya. Agar gadis itu tidak terus-terusan menganggap saya tidak serius." Bagas menghela nafas ketika ia berkata seperti itu. "Saya harap Anda mengerti Tuan, karena saya juga harus merasakan bagaimana rasanya membina rumah tangga," lanjut Bagas.
Al menepuk bahu Bagas. "Niat baik jangan ditunda-tunda, sebaiknya lebih cepat lebih baik," ujar Al.
__ADS_1