Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 73


__ADS_3

Sampai malam menjelang Ranum sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya sebagai tanda-tanda gadis itu akan pulang.


"Dia itu pergi kemana membawa bayiku? Apa jangan-jangan dia ingin berniat kabur dariku?" Al terlihat mengeraskan rahangnya ketika ia bertanya demikian. "Kamu, Bagas! Jangan diam saja cari Ranum sampai ketemu. Dan bukankah kamu memiliki mata-mata selama ini, coba tanyakan kepadanya pergi kemana perginya gadis itu!"


"Maaf Tuan, bukankah Anda sendiri yang telah meminta saya untuk berhenti saja memata-matai Ranum? Lalu kenapa sekarang Anda menanyakan tentang keberadaan mata-mata itu lagi?" Meski takut Bagas tetap bertanya begitu kepada Al.


Al yang mendengar itu menarik kerah baju Bagas. "Apa yang kamu katakan Bagas? Jadi, menurutmu ini semua salahku yang telah menyuruhmu berhenti untuk memata-matai Ranum, begitu?" Al kini beralih menarik dasi Bagas, sehingga laki-laki itu terlihat kesulitan untuk sekedar bernafas karena Al sangat kuat marik dari pada leher laki-laki itu.


Sonia yang baru saja masuk begitu terkejut melihat Al menarik dasi kekasih pujaan hatinya, sehingga terlihat wajah Bagas memerah. "Tuan Al, apa yang Anda lakukan?!" Sonia bertanya dengan setengah berteriak karena ia khawatir melihat Bagas yang sudah hampir kehabisan nafas. "Hentikan Tuan! Anda bisa saja membvnvh calon suamiku!" Sonia menarik jas yang dikenakan oleh Al. "Ayo Tuan, lepaskan Bagas. Jangan sampai dia kehabisan nafas!" Sonia merasa Al sudah kumat penyakit gangguan mentalnya dengan gerakan cepat ingin menggigit lengan Al akan tetapi Bagas menghalanginya.


"Ja-jangan, So-Sonia," kata Bagas terbata-bata sehingga membuat Al tersadar dan langsung mendorong laki-laki itu sampai terjatuh ke lantai.


"Pokoknya kamu cari Ranum sampai ketemu, kalau belum ketemu. Kamu jangan menampakkan wajahmu itu di hadapanku!" kata Al ketus yang kemudian pergi.


Sonia yang melihat Al telah pergi segera membantu Bagas untuk berdiri sambil bertanya, "Kamu tidak apa-apa 'kan?"

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa, andai saja jika kamu tidak datang. Mungkin aku sudah beda alam," jawab Bagas dengan serius.


Sonia langsung memvkvl-mvkvl kecil dada bidang Bagas. "Jika kamu m@ti siapa yang akan menjadi, calon suamiku? Coba jawab aku!"


"Bukan saatnya kita membahas ini, sekarang kita lebih baik mencari Ranum saja," kata Bagas sambil menyingkirkan beberapa helai anak rambut Sonia. "Mau menungguku di sini, atau ikut bersamaku?"


Tangan Sonia terulur mengelus pipi Bagas. "Aku akan ikut kemanapun kamu pergi, karena separuh nafas dan detak jantungku ada pada dirimu."


"Pantasan saja kota Jakarta ini selalu hujan, karena aku tidak pernah melihat senyuman wanita yang selama ini telah mengisi relung hatiku," balas Bagas menimpali Sonia.


***


Ranum berterima kasih kepada Ryder karena laki-laki itu telah bersedia membantunya untuk membawa sang ayah ke rumah sakit.


"Apa kamu lapar?" tanya Ryder ketika Ranum masih saja mengucapkan terima kasih kepadanya. "Kamu tunggu disini sebentar saja, aku mau membeli makanan untukmu, karena perutku juga merasa sangat lapar," kata Ryder. Padahal ia mengatakan itu karena ia merasa saat ini pasti Ranum lapar karena gadis itu belum makan apapun dari tadi siang hingga malam begini.

__ADS_1


"Ry, sekali lagi terima kasih atas kebaikan yang kamu berikan kepadaku." Ranum tulus ketika gadis itu mengatakan terima kasih kepada Ryder.


"Aku ikhlas menolongmu Ranum, bukan karena apa-apa. Jadi, kamu jangan berpikiran aku melakukan ini semua hanya karena aku menaruh rasa padamu, kamu salah besar. Sebab sesama manusia harus saling mengulurkan tangan dimana kita harus saling membantu satu sama lain sebagai makhluk sosial," balas Ryder.


Rasa bersalah kini timbul di dalam benak Ranum karena gadis itu menyesal sudah sempat berburuk sangka kepada Ryder. Laki-laki yang selalu saja ia hindari itu.


"Oh ya, apa kamu tidak ingin mengganti baju sekolahmu? Kalau kamu mau ganti ayo, kita ke toko yang ada di seberang jalan sana." Ryder menunjuk toko baju yang berada di tepat seberang jalan itu. "Ayo kamu bisa memilih baju mana saja yang kamu inginkan." Ryder terlihat meraih tangan Ranum. "Ganti dulu gih baju sekolahmu, karena tidak enak selalu dilihat sama orang yang berlalu lalang," kata Ryder pelan. Akan tetapi ia malah melihat Ranum dengan cepat menggeleng.


"Ry, aku tidak bisa mengganti baju sekolahku."


"Karena apa?"


Ranum diam karena ia tidak tahu harus menjawab Ryder dengan apa.


"Ranum, aku yang akan membelikan baju untukmu. Jadi, kamu jangan memikirkan masalah uang." Ryder malah mengira Ranum tidak mau mengganti seragam sekolahnya karena tidak memiliki uang. "Ayo, ikut aku saja," ajak Ry sekali lagi.

__ADS_1


"Ry, biarkan saja aku memakai seragam sekolah ini, tidak apa-apa kok." Ranum tersenyum saat mengatakan itu. Supaya Ryder mengira kalau ia benar-benar tidak apa-apa memakai seragam sekolah itu.


__ADS_2