
"Nona muda Agna sudah demam berapa hari Nyonya?" tanya Siska yang rupanya menangani Agna di klinik itu saat ini.
"Tepat tadi jam 4 subuh, Dok," jawab Ranum yang terus saja menenangkan Agna. Karena bayi itu malah semakin rewel ketika mereka baru saja datang ke klinik.
"Ini saya kasih obat pereda demam buat Nona muda Agna, dan Anda juga jangan lupa untuk selalu mengompres dedek Agna. Karena mengompres bisa membuat demam Nona muda Agna bisa turun," ujar Siska sambil memberikan Ranum obat Agna. "Nanti kalau tiga hari demamnya tidak kunjung turun, Anda bisa membawanya lagi datang kesini, Nyonya," sambung Siska.
"Baik Dokter, kalau begitu saya pulang dulu," kata Ranum berpamitan. Namun, saat Ranum akan keluar ucapan Siska malah membuat langkah kaki wanita itu terhenti.
"Kemarin Bagas dan Sonia kesini, dan ternyata Sonia sudah berisi." Siska begitu senang saat ia menceritakan kepada Ranum tentang kehamilan Sonia. "Pasangan itu sungguh luar biasa sekali, mereka terlihat saling menyayangi satu sama lain. Dan kemarin mereka juga bilang mau pergi liburan ke Lombok, apakah pasangan pengantin baru itu jadi pergi?"
Ranum menoleh sambil menjawab, "Iya Dok, mereka jadi pergi tepat hari ini. Dan aku merasa senang mendengar kabar ini kalau Sonia hamil." Ranum jadi ingat dan kata-katanya kalau Agna akan punya teman. "Mudah-mudahan anak Bagas dan Sonia cewek, supaya Agna ada teman main," ucap Ranum.
Siska yang mendengar itu tersenyum. "Kenapa Nyonta tidak bikin lagi? Biar Nona muda Agna punya adek."
"Dokter Siska, Agna masih kecil, nanti saja kalau Agna sudah TK baru Agna boleh punya adek." Pipi Ranum bersemu merah karena ia malu ketika Siska bertanya seperti itu. "Iya sudah, lain kali saja kita ngobrol-ngobrolnya Dok, karena mungkin Mas Al sudah bosan menunggu di luar," ujar Ranum.
"Baiklah, Anda hati-hati di jalan dan sekali lagi saya ingatkan tetap kompres Nona muda Agna dengan air yang sedikit panas."
Ranum mengangkat jempolnya, sebagai tanda mengiyakan Siska.
*
Setelah Ranum keluar Al langsung saja mendekati istrinya. "Agna di kasih obat apa?"
"Seperti biasa obat penurun panas," jawab Ranum yang memberikan Al obat Agna. "Mas, Agna sepertinya mau ne nen, sekarang lebih baik kita cepat pulang."
Al melihat obat yang tadi di berikan oleh Ranum. "Cuma obat ini saja?"
Ranum menjawab Al dengan anggukan kecil. "Mas," panggil Ranum yang merasa Al tidak mendengar kalimatnya yang tadi. "Agna mau ne nen," kata Ranum sekali lagi.
"Iya, ayo kita pulang. Nanti kamu kasih
__ADS_1
Agna ne nen di dalam mobil saja, karena disini terlalu banyak orang," bisik Al pelan. "Sini Agna, aku yang menggendongnya gantian." Al lalu mengambil Agna dari gendongan Ranum. "Sekarang ayo jalan, nanti ambil Agna lagi ketika kita sampai di parkiran," lanjut Al.
"Mas, ternyata Sonia benar-benar-benar hamil," tutur Ranum memberitahu sang suami. Kalau Sonia memang benar hamil. "Kata Dokter Siska, usia kandungannya baru berjalan empat minggu," kata Ranum antusias.
"Apa kamu mau membuatkan Agna, adik? Oleh sebab itu kamu terlihat sangat senang sekali, ketika kamu menceritakan tentang kehamilan Sonia."
Mendengar kalimat Al, Ranum tidak berani menyahut ataupun sekedar menjawab pertanyaan sang suami. Ia rupanya lebih memilih untuk diam saja, karena wanita itu tidak tahu harus menjawab apa.
"Kenapa kamu diam? Apa kamu mau membuatkan adik untuk Agna?" tanya Al menggoda sang istri karena entah mengapa laki-laki itu, sangat suka melihat rona wajah Ranum yang memerah seperti saat ini di
saat ia bertanya tentang akan membuatkan Agna adik.
"Mas, jangan bahas itu di sini, aku malu," jawab Ranum pelan.
"Oke, di rumah sekalian kita praktekkan langsung." Saat Al mengatakan itu detik itu juga Ranum mencubit pinggang Al dengan pelan. "Akh ... sakit," ringis Al berpura-pura.
"Ish, lebay ...," ucap Ranum yang kemudian mendahului Al. "Bunda duluan Agna, kamu sama Ayah nanti belakangan!" seru Ranum yang semakin mempercepat langkah kakinya, sebab saat ini air asinya merembes keluar dari bajunya. Oleh sebab itu ia memilih untuk berjalan terlebih dahulu.
***
Di rumah, ketika Al melihat Agna sudah tertidur pulas dan demam bayi itu sedikit turun membuat laki-laki itu bernafas lega.
"Ranum, makan malam dulu, karena Mama sudah menunggu kita," kata Al pelan. Karena laki-laki itu takut kalau Agna terbangun sebab bayi itu baru saja terlelap.
"Mas duluan saja, aku mau melipat baju Agna dulu," balas Ranum menimpali.
"Kita sama-sama saja, aku akan menunggumu." Al tidak mau pergi sendiri ke ruang makan meski Ranum sendiri yang memintanya.
"Kasihan mama karena menunggu kita, Mas saja yang duluan nanti aku menyu–" Kalimat Ranum menggantung di udara sebab Al kini sudah duduk di dekatnya. Dan malah membisikkan wanita itu kata-kata yang membuat bulu kuduk Ranum berdiri.
"Aku mau makan malam yang lain, berhubung Agna tidur pulas."
__ADS_1
Ranum menoleh ke samping di mana Al sedang duduk. "Mas, aku datang bulan," ucap Ranum pelan.
"Masih ada cara lain."
Ranum menyerngit karena heran. "Cara lain seperti apa?" tanya Ranum.
"Sini aku bisikin," jawab Al yang kemudian berbisik di telinga Ranum.
Sesaat setelah Ranum mendengarnya gadis itu menggeleng kuat. "Tidak Mas, aku tidak bisa," tolak Ranum sambil menggeleng kuat.
"Nanti akan aku ajari, kamu tinggal mempraktekkannya," ujar Al.
"Aku tidak mau." Lagi-lagi Ranum menolak. "Lebih baik kita pergi makan malam saja," ajak Ranum yang kini terlihat berdiri. Namun, siapa sangka Al dengan cepat membawa tubuh wanita itu ke sofa.
"Kita main di sini saja, karena kalau di sana nanti Agna terganggu."
"Mas, aku datang bu–" Kalimat Ranum lagi-lagi terputus saat Al me lu mat, bi bir tipis wanita itu. Dan pada akhirnya Ranum tidak bisa menolak keinginan sang suami. Sehingga pada menit berikutnya terjadilah penghisapan lolipop berukuran jumbo.
***
Sedangkan di ruang tamu Anggun dan Flora sedang menunggu Al yang tadi katanya mau memanggil sang istri.
"Nyonya kita makan saja duluan, karena mungkin saja Tuan Al dan Nyonya Ranum akan makan malam nanti belakangan," kata Flora.
"Kita tunggu saja Sus, karena aku tidak enak makan malam cuma berdua yang biasanya selalu berempat bahkan berenam," timpal Anggun yang tidak mau makan duluan.
"Baiklah Nyonya jika Anda mau menunggu Tuan Al." Flora akhirnya mengalah.
...****************...
__ADS_1