
Sambil mendekat ke arah Ranum dan Ryder, Sonia menyenggol lengan Bagas berharap supaya laki-laki itu menyusul Al. Karena sepertinya gadis itu tahu kalau saat ini Al sedang cemburu gara-gara melihat Ranum yang digendong oleh Ryder.
"Sonia, a-aku, habis dari to-toilet," jawab Ranum terbata-bata setelah lama terdiam.
"Iya, sudah tidak apa-apa. Ayo kita ngobrol di luar saja karena aku takut nanti ayah kamu terganggu mendengar suara kita." Sonia lalu memegang lengan Ranum untuk membawa gadis itu keluar dari ruangan itu. "Eh, aku lupa ajak teman kamu gih, untuk keluar juga supaya aku bisa berkenalan," seloroh Sonia yang seketika mendapat tatapan tajam dari Bagas yang saat ini masih berada di ambang pintu. "Siapa tahu, kita cocok dan bisa jadi TTM gitu," sambung Sonia lagi karena jujur saat ini ia hanya ingin melihat Bagas merasa cemburu atau tidak.
Ranum yang mendengar itu langsung berbisik di telinga Sonia. "Jangan buat masalah dengan Bagas, cukup aku yang mendapat masalah dari Tuan Al gara-gara Ryder tadi menggendongku."
"Oh, namanya Ryder, cocok dengan wajahnya yang agak mirip orang turki. Tampan, semoga saja aku mendapatkan laki-laki seperti Ry," kata Sonia yang benar-benar ingin membuat Bagas merasa cemburu. "Bolehlah, aku minta nomornya, nanti kamu kirimnya." Sonia tidak menyadari kalau Bagas mendekat ke arahnya. Dan pada saat ia akan mencoba merayu Ryder tiba-tiba saja Bagas berbisik di daun telinga gadis itu.
"Jangan gatal Sonia, ingat aku juga bisa sepertimu. Bahkan aku bisa meniduri wanita mana saja yang aku mau, tanpa di dasari dengan rasa cinta. Jika kamu berani macam-macam di belakangku!" Setelah mengatakan itu Bagas berlari mengejar Al.
__ADS_1
"Ish, menyebalkan sekali! Padahal aku hanya bercanda saja tadi, tapi kenapa laki-laki itu malah menganggapnya serius, dasar Bagas!" gerutu Sonia membatin.
Ranum yang tadi mendengar kalimat Bagas meskipun laki-laki itu berbisik menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena ia merasa Sonia dan Bagas sama-sama dua manusia yang takut kehilangan satu sama lain. Tapi selalu saja membuat masalah.
***
Setelah Ryder berpamitan untuk pulang, Ranum dengan cepat menceritakan kejadian di toilet yang telah ia alami beberapa jam yang lalu.
"Aku tidak apa-apa, tapi … aku takut dengan kalimat ancamannya," jawab Ranum jujur.
Sonia langsung memeluk Ranum berharap gadis yang sedang hamil itu merasa kalau saat ini ada Sonia yang bersamanya. Sehingga gadis itu merasa tidak akan merasa takut lagi. "Aku akan memberitahu semua ini kepada Bagas, supaya Bagas langsung bisa memberitahu Tuan Al. Meskipun Ranum memintaku untuk merahasiakan ini," batin Sonia.
__ADS_1
"Tapi kamu benar-benar akan merahasiakan ini dari siapapun kan, Sonia?" tanya Ranum. Sambil membalas pelukan Sonia.
"Iya, kamu tenang saja. Karena mulutku ini juga tidak ember," jawab Sonia berharap supaya Ranum benar-benar percaya kepadanya.
"Aku tidak pernah menyangka kalau ternyata Mbak Morea orangnya sangat jahat," kata Ranum yang melepaskan pelukannya dari tubuh Sonia. "Pokoknya mulai sekarang, aku harus hati-hati dengannya. Karena Mbak Morea dengan pacarnya itu bisa kapan saja mencelakaiku."
Sonia mengangguk tanda setuju. "Iya, kamu harus hati-hati. Karena sepertinya Morea itu ingin kamu pergi jauh dari kehidupan Tuan Al, sebab kamu saat ini sedang mengandung sang pewaris setengah harta kekayaan Tuan besar Daniel."
Ranum saat itu juga langsung berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Sonia ada benarnya juga. Dimana Morea mengincarnya hanya karena di rahimnya ada darah daging Al yang akan menjadi pewaris.
"Ranum, itu tandanya kamu sekarang tidak bisa kemana-mana lagi sendirian tanpa di temani oleh aku. Karena aku yakin Morea akan terus saja mengancammu, kalau kamu tidak pergi dari kehidupan Tuan Al," ucap Sonia.
__ADS_1
"Oleh sebab itu aku memberitahumu, Sonia, supaya kamu bisa mengingatkan aku tentang ada orang jahat yang mengincarku," balas Ranum menimpali. "Jaga rahasia ini, supaya Tuan Al tidak semakin membenci Mbak Morea," sambung Ranum.