
Ranum yang melihat Sonia dan Bagas yang ada di depan pintu itu dengan cepat merapikan rambutnya, karena ia tahu pasti saat ini pasangan kekasih itu sangat heran melihat penampilannya.
"Bagaimana keadaan Tuan Al?" tanya Bagas yang malah menanyakan keadaan Al.
Ranum yang ditanya dengan cepat menjawab, "Tuan Al baik-baik saja, sekarang ayo kita bawa dia pulang."
Mendengar itu Bagas dan Sonia belum ada yang berani masuk ke dalam ruangan itu. Sebab pasangan kekasih itu mengira Al di dalam pasti sedang dalam keadaan yang memprihatinkan dan ditambah pasti saat ini ayahnya Agna itu tidak mengenakan benang sehelaipun.
"Tuan Al sudah tidak sadarkan diri Bagas, jadi kamu perlu bantuan beberapa orang untuk membawa Tuan Al pergi dari sini," ucap Ranum ketika ia hanya melihat Bagas dan Sonia melongo saja. "Satu lagi, Tuan Al sudah berpakaian lengkap," lanjut Ranum. Memberitahu Bagas supaya sang tangan kanan suaminya itu mau masuk melihat keadaan Al di dalam, yang saat ini sedang tidak sadarkan diri setelah laki-laki itu mencetak gol beberapa kali di gawang milik sang istri.
Bagas yang mendengar itu langsung melangkahkan kakinya masuk, karena ia ingin melihat tuannya itu di ikuti oleh Sonia di belakangnya. "Ngapain kamu ikut, Sonia? Sekarang lebih baik kamu antar Ranum pulang saja, karena dari tadi suster Flo terus saja menelponku. Aku takut terjadi sesuatu dengan Nona muda Agna dan Nyonya besar."
"Aku mau membantumu untuk membawa Tuan Al ke dalam mobil Bagas, tapi kenapa kamu malah menyuruhku untuk pulang mengantar Ranum?" tanya Sonia sambil terus melangkahkan kakinya untuk mengikuti kekasih pujaan hatinya itu. "Aku akan membantumu, setelah itu kita bisa pulang bersama-sama."
"Ide yang tidak aku terima, sekarang pulang. Pakai saja mobilku, nanti aku akan pulang naik taksi bersama Tuan Al." Bagas benar-benar ingin melihat Sonia pulang. "Sana tunggu apalagi, dan jangan lupa kasih Ranum ini," kata Bagas sambil memberikan Sonia salep.
Rupanya sebelum ia menjemput Ranum, Bagas sudah membeli salep itu atas permintaan Al. Dan tanpa di duga, ternyata ini semua adalah rencana Al juga. Tanpa di ketahui oleh Ranum dan Sonia, hanya Bagas sendiri yang tahu ini semua. Dan Feni itu adalah wanita yang sengaja dibayar oleh Al, karena ayahnya Agna itu ingin melihat serta tahu apakah Ranum juga mencintainya atau tidak. Namun, siapa sangka ibunya Agna itu malah mengungkapkan perasaannya juga pada sang suami di saat dirinya dalam keadaan sedang bercocok tanam dengan sang suami.
"Selep ini lagi, sebenarnya salep apa ini?" tanya Sonia si polos dan sedikit gesrek itu.
__ADS_1
"Kamu nanti juga akan tahu, sekarang lebih baik kamu pulang. Karena Ranum di luar sepertinya sudah merasa bosan menunggumu," jawab Bagas yang kini sudah melihat Al, dan benar saja ayahnya Agna itu sudah menggunakan pakaian yang sudah lengkap. Detik itu juga Bagas berpikir kalau Ranum yang telah memasangkan sang suami baju serta celananya. "Pulang Sonia, kasihan Ranum, karena mungkin saat ini dia malu melihat Agna," sambungnya lagi.
Membuat Sonia menghentak-hentakkan kakinya. "Ish ... kamu ini, kita pulang bersama tidak mau. Ya sudah, aku mau pulang minta saja bantuan sama beberapa penjaga disini," ucap Sonia yang mau mengalah. Meskipun gadis itu sedikit kesal dengan sang kekasih pujaan hati, karena terus-terusan menyuruhnya untuk pulang. "Aku pulang Bagas, bay!"
"Iya, cepatlah jangan pulang-pulang tapi kamu malah diam di tempat," kata Bagas yang melihat Sonia tidak bergerak sedikitpun. "Sonia ...."
"Iya, aku akan pulang! Dasar laki-laki bawel!" gerutu Sonia sambil berbalik badan ingin keluar. "Dasar Bagas, mau di bantu malah menyuruhku untuk pulang saja, benar-benar laki-laki yang tidak bersyukur mau di bantu oleh gadis yang cantik ini," lanjut Sonia berbicara pada dirinya sendiri sambil berjalan keluar. Dan ia saat ini tidak peduli meskipun Bagas mendengar semua kalimat-kalimatnya yang tadi.
***
Di dalam mobil Sonia langsung memberikan salep itu kepada Ranum. "Nih ambil, dari Bagas," ucap Sonia. Sehingga membuat Ranum yang menatap ke luar jendela langsung saja menatap Sonia. "Ambil gih, jangan kebanyakan mikir."
"Aku ingin tahu salep itu sebenarnya digunakan untuk apa," kata Sonia tiba-tiba sehingga membuat lamunan Ranum menjadi buyar. "Salep untuk apa?" tanya gadis itu yang berharap Ranum kali ini akan menjawab pertanyaannya itu.
"Ini ... ini salep untuk leherku," jawab Ranum berbohong sambil menunjukkan lehernya yang ada banyak sekali bekas ikan cupangnya. "Sekarang jangan bertanya lagi, Oke!"
"Kok aku belum yakin, ya," balas Sonia menimpali. "Apa jangan-jangan kamu membohongiku?"
Ranum menggeleng kuat. "Buat apa aku membohongimu? Itu semua tidak ada gunanya." Meski Ranum ragu saat mengatakan itu. Namun, wanita itu harus tetap bisa membuat Sonia yakin. Bahwa salep itu untuk lehernya. "Nyetir saja yang benar, jangan sampai kamu menabrak orang."
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, yang tadi gimana rasanya, apakah enak atau sakit?" tanya gadis yang super duper kepo itu. "Kasih tahu aku, biar nanti aku juga tidak kaget ketika merasakan itu semua, aku mohon ...."
Ranum menatap gadis yang sangat gesrek itu. "Tidak sakit, nanti kamu juga akan doyan," seloroh Ranum menjawab sambil mengulum senyum. "Sudah, jangan tanyakan hal ini lagi. Karena kamu sebentar lagi pasti tahu bagaimana rasanya, karena kamu dan Bagas sebentar lagi akan menikah," ucap Ranum sehingga membuat Sonia menginjak pedal rem secara mendadak. Dan untung saja jalan raya saat ini tidak begitu ramai sehingga kedua wanita yang beda status itu tidak mendengar bunyi klakson yang bersahut-sahutan, karena ulah Sonia yang mengerem secara mendadak.
"Benarkah Bagas akan menikahiku?" Sonia langsung bertanya seperti itu pada Ranum, dengan mata yang memancarkan kalau gadis itu merasa sangat senang. Hanya karena ia mendengar perkataan Ranum yang tadi.
"Iya, Bagas akan menikahimu dalam waktu yang dekat ini," jawab Ranum dengan mimik wajah yang sangat serius. "Karena aku mendengar sendiri, percakapan Tuan Al dan Bagas tepat satu minggu yang lalu."
"Apa katanya?" Sonia sepertinya tidak puas dengan jawaban Ranum hingga gadis itu bertanya lagi. "Ayo Ranum, apa katanya?"
"Jalan dulu, nanti aku jawab. Karena saat ini kamu berhenti tepat di tengah-tengah jalan raya, dan lihatlah pengendara yang lain sepertinya terlihat marah karena kelakuan kamu ini."
Sonia melihat dari kaca spion mobilnya. "Aku sampai lupa, ya sudah nanti di rumah kamu harus menceritakan aku mulai dari A sampai Z," ucap Sonia yang kini kembali menginjak pedal gas.
"Nanti kalau aku tidak ketiduran, bukankah kamu sudah melihat sendiri ini sudah hampir larut malam," sahut Ranum.
...****************...
__ADS_1