
"Pergi kemana dia? Tidak biasanya aku menunggunya sudah hampir 30 menit," kata Sonia yang terus saja mondar-mandir di depan gerbang sekolah Ranum. "Apa jangan-jangan Ranum pulang duluan, gara-gara aku telat menjemputnya tadi?" Sonia bertanya kepada dirinya sendiri sebelum gadis itu memberanikan diri bertanya kepada seorang satpam yang berjaga di sekolah itu. "Tanya atau tidak ya." Ketika Sonia masih menimbang-nimbang ia akan bertanya atau tidak. Tiba-tiba saja satpam itu malah datang menghampirinya.
"Dek, cari kamu sedang mencari Ranum ya?" tanya pak satpam yang bernama Pak Solihin itu. Kebetulan Solihin tahu nama Ranum karena ternyata gadis itu sering memberikannya roti untuk sarapan dan juga Ranum ternyata suka memberikan Solihin bekal yang gadis itu bawa.
"I-iya Pak, apa Bapak melihatnya? Dan pergi kemana dia?" Sonia langsung memberikan dua pertanyaan untuk Solihin.
"Saya kurang tahu Dek, tapi dia sempat berpesan kepada saya mengatakan kalau ada yang mencarinya dia bilang suruh pulang saja." Solihin memberitahu Sonia. "Kebetulan saya tadi pagi sedang bersih-bersih jadi saya tidak terlalu memperhatikan kemana Ranum pergi, oleh sebab itu saya hanya mengiyakan saja permintaannya yang berpesan kepada saya," sambung Solihin lagi.
"Jadi, maksud Bapak, Ranum bolos begitu?"
"Iya Dek, Ranum pergi sekitar 15 menit saat jam pelajaran akan dimulai, dan sampai sekarang Ranum belum kembali, jawab Solihin dengan jujur.
"Iya sudah, terima kasih atas informasi yang Bapak berikan. Kalau begitu saya permisi dulu," ucap Sonia berpamitan dengan sopan.
*
__ADS_1
Di dalam mobil Sonia langsung menghubungi Bagas. Supaya Bagas bisa langsung memberitahu Al, tanpa berlama-lama tangan gadis itu lansung saja menekan tombol memanggil dan tidak lama Bagas sudah mengangkat panggilan telepon itu.
"Halo, Sonia jangan menungguku dulu. Aku masih sangat sibuk," ucap Bagas di seberang telepon padahal Sonia belum saja membuka suara. "Nanti aja pas kita bertemu bertatap muka baru kamu berbicara sepuasnya denganku mau itu penting atau tidak terserah, yang penting untuk saat ini jangan menungguku dulu," sambungnya lagi.
Sonia yang merasa kesal karena Bagas asal nyerocos saja sebelum ia membuka suara langsung memekik, "Dengarkan aku dulu Bagas! Ranum saat ini tidak ada di sekolahnya!"
Bagas yang mendengar suara cempreng Sonia refleks menjatuhkan ponselnya dari telinganya. "Apa?! Coba ulangi lagi, tapi jangan dengan suaramu yang cempreng itu Sonia," pinta Bagas.
"Ranum, tidak ada di sekolahnya. Entah pergi kemana gadis yang sedang hamil itu!" kata Sonia ketus karena ia merasa kesal dengan Bagas.
"Bagaimana bisa Ranum tidak ada di sekolahnya, Sonia, coba kamu jelaskan semuanya kepadaku?" tanya Bagas. Laki-laki di seberang telepon itu memilih mengabaikan pekerjaannya karena ia saat ini sedang membahas masalah Ranum. "Sonia, kenapa kamu malah diam saja?"
"Dasar Bagas, b*doh! Jika aku tahu pasti aku tidak akan kebingungan begini dalam mencari Ranum," gerutu Sonia sambil menyetir meninggalkan sekolah itu.
***
__ADS_1
Di sini lain, Ranum tidak kuasa menahan suara isak tangisnya agar tidak terdengar sangat menyedihkan tatkala gadis itu menc*um wajah Rudy yang terbaring lemas di atas sofa. "Ayah, ini aku Ranum. Kenapa Ayah bisa begini?" tanya Ranum dengan air mata yang terus bercucuran layaknya seperti air mancur.
"Ra-Ranum, maafkan Ayah," ucap Rudy lirih ketika ia melihat putrinya berlinangan air mata. "Jangan bersedih, ha-hanya de-demi pria tu-tua yang, ti-tidak tahu di-diri i-ini," sambungnya dengan suara yang terbata-bata.
"Ayah, jangan katakan apa-apa lagi, sekarang aku akan membawa Ayah untuk pergi ke rumah sakit." Ranum menggenggam tangan Rudy dengan sangat erat. "Ayah akan segera pulih dan sehat seperti sedia kala, aku janji kepada Ayah." Ranum terlihat mengecup beberapa kali tangan Rudy.
"Lebih cepat lebih baik, bawa saja ayahmu pergi dari rumahku ini! Karena gara-gara ayahmu ini hartaku semakin hari semakin berkurang!" Angel mengatakan itu sambil berdecak pinggang. "Tunggu apalagi, enyahlah kalian berdua rakyat jelata dari rumahku ini! Karena kalian hanya membawa virus kemiskinan masuk ke dalam rumah ini." Angel menatap Ranum dan Rudy secara bergantian dengan tatapan sinis. "Rumahku ini harus segera disterilkan setelah kalian berdua pergi, karena selain membawa virus kemiskinan kalian berdua juga membawa virus kesialan!"
Ranum yang mendengar itu mengepalkan tangannya dengan kuat, sungguh gadis yang masih lugu dan polos itu merasa sudah tidak tahan lagi dengan kalimat-kalimat pedas yang keluar dari mulut Angel. Gadis itu kini terlihat berdiri dan langsung saja menunjuk wajah Angel dengan air mata yang tidak bisa berhenti mengalir dari kedua netranya. "Setelah apa yang selama ini Ayahku lakukan, baru tante berkata begitu! Sungguh tante adalah orang yang mencintai Ayahku sebutuhnya saja bukan seutuhnya!" Suara Ranum menggema di ruang keluarga itu. Karena ia merasa sudah cukup Angel menghina dirinya dan juga keluarganya.
"Ketika Ayahku masih sehat, segar bugar. Tante dengan begitu teganya menjadi orang ketiga di antara Ayah dan almarhum Ibuku. Dan sekarang setelah Ayahku sakit begini, tante malah membuangnya seenaknya saja. Dimana hati nurani tante?!" teriak Ranum dengan suaranya yang sudah mulai serak. "Selama ini aku diam saja, bukan berarti aku tidak tahu apa-apa. Tante salah! Justru aku tahu bahwa tentelah yang telah mendorong adikku, Aish dari atas tangga sehingga adikku itu langsung menghembuskan nafas saat itu juga!"
Mendengar itu Angel langsung menatap Inem yang sedang berdiri agak jauh dari dapur. Wanita itu juga kini terlihat mendekati Ranum sambil berkata, "Menuduh tanpa bukti 10 tahun di penjara, apa kamu mau hal itu terjadi kepada gadis SMA yang sedang hamil ini mendekam di jeruji besi selama itu?" Angel tersenyum mengejek padahal di dalam benaknya wanita itu merasa gelisah dan takut karena Ranum tahu rahasia yang selama ini berusaha ia tutupi.
"Bagaimana aku bisa memiliki bukti, sedangkan rekaman cctv yang ada di rumah ini saja semuanya tante hapus, demi menghilangkan bukti tindakan kriminal tente itu!" Ranum menatap Angel dengan sorot mata tajam. Karena saat ini gadis itu benar-benar merasa sangat marah. "Ingat tante, mau sepandai-pandainya tupai melompat pasti tupai itu pernah terjatuh, begitu pula dengan tante mau sebaik dan serapi apapun tante menyimpan bangkai pasti tidak lama lama lagi bau bangkai itu akan tercium!"
__ADS_1
"Kurang ajar! Dasar anak je la ng, yang tidak tahu diri!" teriak Angel yang merasa geram dengan Ranum. "Aku akan memberikan kamu pelajaran, supaya mulutmu itu tidak terlalu lancang!" Angel terlihat ingin men*mpar pipi Ranum akan tetapi Ryder berlari dan dengan cepat menahan tangen Angel.
"Jangan main tangan tante, ingat sekarang ada undang-undang perlindungan anak. Jangan sampai tante sendiri yang masuk ke dalam jeruji besi itu," kata Ryder tanpa ada rasa takut sedikitpun kepada Angel. "Ayo Ranum, kita bawa sekarang saja ayah kamu ke rumah sakit, dan jangan buang-buang waktu hanya untuk meladeni manusia yang berhati iblis!" kata Ryder yang ikut-ikutan kesal dengan sifat angkuh dan sombong Angel.