
"Nyonya apa kita pulang saja? Karena sepertinya di sini hanya akan menambah luka pada hati Anda saja." Bagas yang merasa kasihan kepada Anggun berkata begitu. Karena ia tidak bisa melihat wanita paruh baya itu bersedih seperti saat ini. "Nyonya," panggil Bagas.
"Iya, antar aku pulang saja Bagas, karena memang benar berada di sini hanya akan menaburi air garam pada luka hatiku," jawab Anggun menyahut Bagas. "Memang benar seni paling menyakitkan adalah seni mengukir luka pada hati dengan cara mencintai orang yang salah seperti ini." Anggun memang mengkui dirinya wanita yang sangat b*doh karena telah mencintai laki-laki seperti Daniel sampai sedalam ini. Tapi tidak ada yang bisa ia lakukan karena memang Daniel adalah cinta pertama dan terakhir baginya.
"Rumah utama atau rumah Tuan Al?" tanya Bagas sekali lagi.
"Rumah utama saja, karena aku yakin Al tidak akan membawa Ranum pulang ke rumah itu malam ini." Anggun yakin karena ia tahu bagimana sifat putranya itu. Yang tidak akan mau pulang sampai berminggu-minggu jika ia marahi. Apa lagi beberapa jam yang lalu ia sampai lepas kendali hingga men*mpar pipi Al dan mungkin saja gara-gara itu Al bisa tidak pulang berbulan-bulan. "Karena tadi, aku marah dan tangan ini dengan sangat lancang men*mparnya di depan Ranum," kata Anggun secara tiba-tiba yang memberitahu Bagas.
***
Di tempat lain Al rupanya membawa Ranum pergi ke hotel hanya untuk menginap malam ini saja. Di karenakan kepala laki-laki itu tiba-tiba terasa sangat pusing.
"Turun, kita malam ini akan menginap di hotel ini," kata Al yang memberitahu Ranum.
Ranum kesulitan untuk menelan salivanya mendengar itu. Karena di pikiran Ranum hotel hanya tempat orang-orang yang sering melakukan adengan adu gambrut. "Tu-Tuan Al, kenapa harus di hotel ini?" Meski merasa ragu tapi Ranum tetap saja bertanya demikian.
"Jadi, kamu mau tidur di pinggir jalan begitu?" Al bertanya balik.
"Bukan begitu Tuan, tapi hotel ini kan biayanya permalamnya di sini sangatlah mahal. Lebih baik kita malam ini menginap di kos-kosan Sonia saja, dari pada Anda membuang-buang uang Anda." Ranum lupa siapa Al.
Laki-laki kaya raya yang bersembunyi di balik perusahaan Ezza Fashion padahal laki-laki itu juga memiliki usaha di bidang kuliner makanan yang paling terkenal di kota Jakarta. Tapi itu semua tidak ada yang tahu kecuali Bagas. Karena Al sengaja merahasiakan itu semua dari mama dan papanya sebab Al tidak mau kalau sampai Daniel akan berniat melakukan sesuatu yang bisa membuatnya kehilangan segalanya. Mengingat papanya itu sangatlah rakus dengan harta kekayaan.
__ADS_1
"Jangan pikirkan itu Ranum, lebih baik sekarang kita masuk saja." Al kemudian meletakkan tangan Ranum di lengannya supaya mereka terlihat seperti pasangan suami istri karena sebarnya hotel itu hanya untuk pasangan yang sudah sah menjadi suami istri saja yang boleh mendatanginya.
"Tapi … Tuan."
"Kepalaku sangat pusing Ranum, jadi jangan kamu tambah-tambah lagi dengan perkataan kamu yang bisa saja membuat kepalaku menjadi semakin pusing ini menjadi berlipat-lipat ganda," kata Al sambil melangkahkan kakinya. "Kamu sepertinya harus banyak diam jika bersamaku."
"Sepertinya memang harus begitu, Tuan."
"Panggil aku Al, Ranum, seperti aku memanggil nama kamu. Sudah di bilangin masih saja dengan kata Tuan, Tuan, Anda, Anda …," protes Al yang tidak mau di panggil tuan lagi oleh Ranum. "Banyak kata panggilan di dunia ini tapi kenapa kamu lebih memilih untuk memanggilku tuan?"
"Hm, maaf aku tidak bisa Tu–"
"Al panggil aku Al!" ketus Al memotong ucapan Ranum. "Aku akan memberikan kamu waktu sampai besok pagi untuk memberikan aku kata panggilan jika kamu tidak mau memanggilku dengan namaku sendiri."
*
"Apa Anda adalah pasangan suami istri?" tanya resepsionis itu sebelum memberikan Al kartu salah satu kamar hotel itu.
"Iya, kami berdua adalah suami istri." Al kemudian memperlihatkan cicin kawiannya kepada resepsionis itu. Untung saja Ranum memakainya juga.
"Maaf, Tuan. Tapi bolehkah saya melihat KTP dan buku nikah Anda dulu?"
__ADS_1
Al mengambil dua KTP dari dalam dompetnya. "Ini KTP kami, dan untuk buku nikahnya saya tidak membawanya." Al lalu memberikan resepsionis itu untuk melihat ponselnya. "Di sana ada beberapa foto ketika kami sedang melakukan ijab kabul. Anda bisa melihatnya sendiri dan di saja juga ada beberpa video waktu kami ada di KUA."
Resepsionis itu pada akhirnya percaya kepada Al setelah melihat semua bukti-bukti yang Al berikan. "Kalau begitu silahkan Anda menuju ke lorong itu Tuan, karena cuma kamar itu yang kosong untuk saat ini. Dengan nomor 504 dan ini kartu Anda."
Al tanpa mengucapkan sepatah kata langsung mengambil kartu itu dan segera mengajak Ranum untuk pergi ke kamar nomor 504.
"Aku sudah salah menilai hotel ini ternyata disini hanya di perbolehkan untuk pasangan suami istri saja," gumam Ranum pelan.
"Begitu juga dengan kehidupan ini, bahwa kamu tidak boleh mengambil kesimpulan sendiri, tentang apa yang ada di dalam pikiranmu itu. Karena yang kamu anggap jahat belum tentu jahat dan yang kamu anggap baik belum tentu baik." Al ternyata mendengar apa yang di katakan Ranum tadi. Oleh sebab itu Al membalas perkataan istrinya itu.
"Aku menganggap ibu tiriku jahat, berarti aku salah?"
"Kamu salah, karena tidak bisa membuktikan kalau ibu tiri kamu itu jahat," jawab Al yang ingin sengaja memancing Ranum. Tentang apa sebenarnya yang telah terjadi lima bulan yang lalu tapatnya ketika Aish meninggal. Rupanya Al masih mengingat itu semua dan masih tersimpan rapi di dalam memori ingatannya. Meskipun laki-laki itu pernah masuk rumah sakit, tapi ternyata ingatannya mengalahkan ingatan seorang wanita.
"Ibu tiriku jahat karena … dia, telah membuat adiku jatuh dari tangga sehingga menyeabkan Aish kehilangan … ." Ranum menggantung kalimatnya karena ia baru sadar kalau apa yang keluar dari mulutnya itu keceplosan.
"Kehilangan apa Ranum?"
Ranum menggeleng sambil menutup mulutnya sendiri. Karena ia merasa telah melanggar janjinya untuk tetap merahasikan ini dari semua orang.
"Ranum, katakan!"
__ADS_1
"Tuan Al, ucapanku yang tadi itu hanya sebuah lelucon, maafkan mulutku yang sudah lancang karena telah berbohong ini."