
Di toilet Ranum ditahan oleh Morea dan Remon, rupanya Morea benar-benar mengikuti Ranum mulai dari sekolah hingga ke rumah sakit.
"Pergi dari kehidupan Al atau, kamu dan calon bayimu ini akan lenyap dari muka bumi ini," ancam Remon sambil mengarahkan sebilah pisau ke pipi Ranum.
"Iya, kamu harus pergi kalau mau selamat, gadis yang masih duduk di bangku SMA tapi sudah hamil di luar nikah!" sahut Morea yang mengejek Ranum. "Sekarang pilihan ada ditanganmu, mau pergi dari kehidupan Al, atau kamu memilih untuk menukar itu semua dengan nyawamu dan juga nyawa bayi h@rammu ini." Morea terlihat mengelus perut Ranum. "Sekarang bawa pergi ayahmu yang sudah sekarat itu juga, kalau kamu masih sayang dengan nyawamu," sambung Morea.
Tubuh Ranum saat ini gemetaran, karena gadis yang sedang hamil itu sangat ketakutan mendengar kalimat ancaman yang dikatakan oleh Morea dan Remon. "Mbak Morea, apa salahku sehingga Mbak mengancamku seperti ini?" Meski Ranum takut tapi gadis itu memberanikan diri untuk bertanya kepada Morea yang kini sedang menatapnya sinis.
"Salahmu! Karena telah masuk ke dalam keluarga Al, dan sekarang salahmu juga karena sudah berhasil mengandung darah daging Al di dalam perutmu ini," jawab Morea sambil mencengkram dagu Ranum dengan sangat erat. "Lebih baik kamu pergi, dan jangan banyak tanya!" bentak Morea yang merasa kesal dengan gadis yang hamil itu. Karena Morea juga tidak mungkin mengatakan kalau Ranum sedang mengandung bayi yang akan mendapat setengah harta warisan dari keluarga Daniel.
Sedangkan Remon terlihat menurunkan pisau itu dari wajah Ranum. "Sekarang apa pilihanmu?"
Bukannya menjawab Ranum malah melihat pintu toilet yang tidak dikunci itu. Sekarang otaknya sedang berpikir supaya bisa kabur dari sana. Karena Ranum merasa tidak ada yang bisa ia pilih di antara pilihan yang Morea dan Remon berikan tadi.
"Gadis b*doh! Jawab apa yang dikatakan oleh pacarku!" geram Morea yang semakin erat mencengkram dagu Ranum.
Ranum menggeleng. Dan pada saat itu juga ia menendang se la ng ka ngan Remon. Gadis itu juga langsung memutar tangan Morea lalu ia dengan gerakan cepat mendorong wanita ular itu pada Remon yang saat ini tengah menahan rasa sakit karena burungnya berhasil ditendang oleh Ranum.
Saat itu juga Ranum tidak menyia-nyiakan kesempatan, gadis itu langsung kabur sambil berkata, "Aku tidak akan memilih keduanya!" Ia kemudian berlari sekuat tenaga. Karena tujuannya saat ini ia harus bisa menjauh dari dua manusia yang ia anggap sebagai penjahat itu. "Aku harus segera sampai ke Ryder, supaya dua manusia yang tidak pantas disebut manusia itu tidak bisa menemukan aku lagi." Karena Ranum tidak hati-hati ketika ia berlari tiba-tiba saja gadis itu malah menabrak Ryder yang saat ini berniat ingin menyusulnya ke toliet.
"Hai, kamu kenapa?" tanya Ryder sambil mengulurkan tangannya menahan pinggang Ranum supaya gadis itu tidak jatuh.
"Ry, bawa aku pergi dari sini dulu, karena ada penjahat yang ingin mencelakaiku," jawab Ranum yang berusaha untuk kembali berdiri. "Ayo Ry, kita ke ruang rawat inap Ayahku," ajak Ranum dengan raut wajah yang masih sangat ketakutan.
__ADS_1
Ryder yang mendengar itu, tanpa aba-aba langsung mengendong tubuh Ranum dan segera berlalri membawa gadis itu untuk menuju ke kamar rawat inap Rudy. "Jangan banyak tanya, kamu diam saja, aku menggandongmu supaya kita cepat sampai," kata Ryder dengan nafas yang baru mulai ngos-ngosan karena ia tidak tahu gadis yang ia gendong sedang berbadan dua.
"Ry, turunkan aku, karena aku bisa jalan sendi–"
"Sstt, kamu diam saja," potong Ryder dengan cepat. Sambil terus saja berlari.
***
Setelah mendapat pesan singkat dari Ryder yang Sonia pikir itu Ranum. Gadis itu lalu dengan segera mengajak Bagas menuju ruang VIP dimana tempat Rudy sekarang berada.
"Kata Ranum, kita harus ke ruang VIP," ucap Sonia sambil bertatap muka dengan Bagas.
"Di sini ada banyak sekali ruang VIP, Sonia. Jadi, menurutmu kita harus memeriksanya satu-persatu begitu?"
"Dengarkan aku, kita tunggu Tuan Al dulu, karena katanya dia sedang dalam perjalanan di sini." Bagas lalu melepaskan leher baju Sonia yang ia tarik. "Duduk dulu, di kursi tunggu itu, sembari menunggu Tuan Al."
Sonia menghela nafas. "Bilang dari tadi tanpa harus tarik-tarik leher bajuku!"
"Ngomong-ngomong kata Ranum siapa yang sakit?" tanya Bagas tiba-tiba, karena ia baru menyadari kalau Sonia hanya mengatakan kalau mereka harus pergi ke ruang VIP.
"Aku nggak tau juga, karena nomor yang tadi aku hubungi sudah tidak aktif."
***
__ADS_1
Setelah beberapa menit akhirnya Ryder sudah berhasil membawa Ranum masuk ke ruang rawat inap Rudy, akan tetapi Ryder tidak menyadari kalau saat ini enam pasang mata memperhatikannya yang sedang menggendong Ranum. Dengan nafas yang ngos-ngosan Ryder menurunkan Ranum dari gendongannya.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Ryder. Tanpa ia sadari Ranum saat ini sedang menatap mata hazel milik Al. "Ranum, kamu baik-baik saja 'kan?" tanya Ryder sekali lagi.
Ranum yang ditanya hanya bisa mengangguk sambil menatap Al, Bagas dan Sonia secara bergantian.
"Ini yang kalian berdua sebut sakit, malah sedang asik berpacaran, cih! Buang-buang waktuku saja!" desis Al. Ketika laki-laki itu memperhatikan Ryder mulai dari bawah sampai atas.
Sedangkan Ryder yang mendengar suara selain ia dan Ranum di dalam ruangan itu spontan langsung saja menoleh. Karena kebetulan posisinya sejak tadi membelakangi ketiga manusia yang berbeda jenis kelamin itu.
"Sudahlah Bagas, aku pulang dulu. Kamu urus saja dia." Setelah mengatakan itu Al lalu pergi begitu saja melewati Ranum dan Ryder yang sama-sama masih mematung.
"Tu-Tuan Al," panggil Ranum lirih. Membuat laki-laki yang telah menjadi suaminya itu menghentikan langkah kakinya. "I-ini, ti-tidak, se-seperti ya–"
"Urus saja pacarmu, setelah kamu puas pacaran baru pulang," potong Al. Dan dengan langkah lebar kembali melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana.
Sonia dan Bagas yang melihat serta mendengar Al tahu bahwa laki-laki itu saat ini sedang cemburu.
"Dia siapa?" tanya Ryder yang penasaran dengan Al.
"Dia, dia … dia su–"
"Kamu dari mana saja?" Sonia dengan cepat bertanya sehingga kalimat Ranum terputus.
__ADS_1