
Malam pun menjelang akan tetapi gadis yang sedang hamil itu sampai pvkvl 22:30 belum juga bisa memejamkan mata hanya karena sang suami belum juga pulang.
"Pergi kemana Tuan Al? Kenapa sampai sekarang tidak kunjung pulang?" Ranum terus saja mondar mandir sambil mengintip dari balik jendela, karena ia berharap bisa melihat Al ketika pulang nanti. "Apa aku harus menanyakan keberadaan Tuan Al kepada Bagas saja? Karena saat ini aku benar-benar khawatir sesuatu hal yang buruk terjadi padanya." Ranum terlihat mengambil ponselnya akan tetapi saat ia akan menelpon Bagas. Ponselnya terlebih dahulu bergetar menandakan bahwa ada orang yang meneleponnya.
"Sonia, ada apa dia meneleponku, dan tumben-tumbenan matanya masih melek sampai jam segini." Setelah mengatakan itu Ranum langsung mengangkat panggilan gadis yang cempreng itu.
"Halo, kamu kemana saja? Kenapa panggilanku lama sekali kamu angkat?" tanya Sonia serak dari seberang sana. Karena sepertinya saat ini gadis itu sedang menahan rasa ngantuk.
"Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kamu belum tidur sampai sekarang? Dan malah meneleponku seperti ini." Ranum mengabaikan pertanyaan Sonia yang tadi. "Katakan, ada apa kamu menelponku malam-malam begini?"
Sonia terdengar menguap beberapa kali. "Salahkan Bagas, karena kenapa laki-laki itu malah menyuruhku untuk memberitahumu, kalau Tuan Al malam ini tidak akan pulang. Jadi, kamu kunci saja pintu rumah itu tanpa terkecuali," jawab Sonia dengan suara yang semakin terdengar sangat kecil dan pelan.
"Kenapa Tuan Al ataupun Bagas tidak memberitahuku langsung?" tanya Ranum dengan perasaan yang sudah mulai tak menentu.
Di seberang sana Sonia yang di tanya gadis itu hanya menjawab pertanyaan Ranum dengan cara menguap dengan suara yang membuat gendang telinga gadis yang sedang hamil itu sakit.
"Sonia, apa kamu mendengar pertanyaanku?" tanya Ranum sekali lagi.
"Aku tidak bisa memberikan jawaban dari pertanyaan kamu itu Ranum, oleh sebab itu aku diam. Dan jika kamu mau tahu kenapa mereka tidak menghubungimu, maka telepon saja Bagas karena saat ini Tuan Al pasti sedang tidak sadarkan diri," ucap Sonia keceplosan yang mengatakan kalau Al tidak sadarkan diri.
__ADS_1
"Tidak sadarkan diri, apa maksudmu Sonia?" perasaan Ranum semakin tidak menentu ketika mendengar ucapan Sonia. "Sonia, jawab aku jangan diam saja. Tuan Al kenapa sampai bisa tidak sadarkan diri?"
"Tanyakan kepada Bagas, aku mau bobok syantik dulu." Setelah mengatakan itu Sonia memutuskan sambungan teleponnya.
Ranum menggenggam ponselnya dengan sangat erat, kini gadis itu mulai terlihat ingin menghubungi Bagas seperti yang dikatakan oleh Sonia. "Semoga saja apa yang dikatakan oleh Sonia tadi tidak benar, kalau Tuan Al tidak sadarkan diri," gumam Ranum pelan sebelum menekan tombol hijau untuk menghubungi Bagas.
Setelah beberapa detik akhirnya Bagas mengangkat panggilan Ranum.
"Halo, Ranum. Ada apa kamu meneleponku?"
"Tuan Al tidak sadarkan diri karena dia kenapa?" Ranum langsung saja bertanya balik kepada Bagas, karena saat ini gadis itu sangatlah penasaran. "Katakan Bagas, supaya aku tidak berpikiran buruk tentang keadaan Tuan Al saat ini."
"Aku sudah salah besar memberitahu Sonia kalau saat ini Tuan Al sedang tidak sadarkan diri karena terlalu banyak meminum minuman beralkohol, anak itu benar-benar tidak bisa menjaga rahasia," gumam Bagas membatin sebelum menyiapkan jawaban yang tepat untuk Ranum.
"Tuan Al, hanya kecapekkan saja Ranum, oleh sebab itu dia tadi pingsan di kantor. Makanya Tuan Al tidak pulang malam ini. Jadi, aku harap kamu mengerti," jawab Bagas berbohong.
Ranum yang mendengar jawaban Bagas bukannya merasa tenang kini gadis itu semakin merasa gelisah. "Kamu sedang membohongiku, Bagas. Karena Tuan Al pernah bercerita kepadaku tentang masalah pekerjaan yang mau secapek dan selelah apapun dia. Kalau untuk pingsan hanya karena masalah pekerjaan itu tidak pernah terjadi dalam sejarah hidupnya," kata Ranum yang mengingat kalau Al pernah menceritakannya tentang hal itu. "Lebih baik kamu jawab aku dengan jujur saja Bagas, dan aku berjanji tidak akan memberitahu Tuan Al. Tentang kamu yang memberitahuku ini."
"Tuan Al memang baru kali ini pingsan hanya karena kecapekan, kalau tidak percaya besok pagi ketika Tuan Al pulang, langsung tanyakan saja tentang ini." Bagas tetap teguh pada pendiriannya yang tidak mau memberitahu tentang kebenarannya saat ini. "Aku tutup dulu teleponnya Ranum, karena aku mau beristirahat."
__ADS_1
Ranum hanya bisa menghela nafas, ketika ia mendengar suara Bagas yang benar-benar memutuskan panggilan teleponnya. "Sepertinya aku harus menanyakan tentang ini langsung kepada Tuan Al," ucap Ranum yang kemudian menaruh kembali benda pipihnya itu di atas nakas.
***
Bagas bukannya tidur tapi laki-laki itu masih bekerja mempersiapkan bahan rapat besok pagi di perusahaan Ezza Fashion.
"Begini, jika Tuan Al selalu saja mabuk-mabukkan, maka semua pekerjaan kantor terpaksa aku yang handel demi kelancaran rapat besok pagi." Bagas menguap karena laki-laki itu sudah sangat ngantuk. Akan tetapi di saat melihat wajah Al yang begitu letih dan lesu yang sedang terlelap di atas kasur. Bagas menjadi berpikir lagi. Kalau bukan dirinya tidak ada orang lain lagi yang akan dipercaya oleh Al untuk melakukan ini semua. "Ini semua aku lakukan hanya demi Tuan Al, karena dia telah membantuku di saat masa terpurukku dulu, dimana orang-orang pergi meninggalkan aku dan hanya Tuan Al yang mengulurkan tangan kepadaku," gumam Bagas pelan.
Jika Bagas mengingat bagaimana dulu Al membantunya maka laki-laki itu tidak akan pernah membuat Al merasa kecewa saat ia melakukan pekerjaan seperti saat ini. "Aku akan selalu berdoa supaya Ranum dan Tuan Al bersama sampai ajal memisahkan mereka, karena jauh ini aku melihat Tuan Al tidak pernah bermalam dengan wanita manapun sejak dia dan Ranum menikah." Benar apa yang dikatakan oleh Bagas kalau Al tidak pernah tidur dengan wanita malam lagi sejak menikah dengan Ranum. Karena Al sekarang akan datang ke Club hanya untuk minum-minum saja tidak lebih dari itu.
Ketika Bagas masih saja menatap deretan tulisan-tulisan yang ia rangkum tiba-tiba suara Al memanggil dirinya.
"Bagas …," panggil Al dengan suara yang sangat kecil. "Bawa aku pulang, pasti gadis itu saat ini sedang menungguku pulang," sambungnya dengan mata yang masih terpejam.
Bagas yang mendengar itu memilih untuk diam saja, karena ia berpikir tidak mungkin membawa Al pulang dalam keadaan mabuk berat begini.
"Bagas, apa kau tidak mendengarku?"
"Tidurlah Tuan, karena Ranum saat ini pasti sudah tidur juga mengingat sudah pvkvl 0:00," jawab Bagas dengan tenang.
__ADS_1
...----------------...