
"Mana ponselmu? Biar aku sendiri yang menulis nomorku."
Ramun dengan cepat memberikan Al ponsel yang ia letakkan di bawah bantalnya. Dan ketika Al melihat ponsel Ranum, laki-laki itu mengerutkan dahinya karena melihat benda pipih gadis itu yang retak di mana-mana ditambah Ranum menggunakan gelang karet untuk mengingat ponsel itu juga.
"Ponsel kamu rupanya sudah lelah berjuang, lalu kenapa tidak kamu buang saja?" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari mulut Al.
"Maaf Tuan, meski bentuknya begini tapi ini masih bisa digunakan. Dan almarhum Ibuku juga pernah berkata, selama apa yang masih bisa digunakan maka kita tidak boleh membuangnya."
Al tidak habis pikir dengan Ranum, ponsel yang sudah tidak pantas disebut ponsel lagi malah tidak mau di buang oleh gadis itu. "Besok pagi saja aku akan memberikanmu nomerku, karena mataku sudah sangat ngantuk." Al kemudian menunjuk ponsel yang masih Ranum pegang. "Simpan saja dulu ponselmu yang memiliki sejuta kenangan itu." Sesaat setelah mengatakan itu Al langsung pergi.
***.
"Apa semuanya sudah kamu siapkan, Bagas," tanya Al sambil memasang dasinya di depan cermin lemari kamarnya."
"Semuanya sudah siap Tuan tinggal kita berangkat saja sekarang." Bagas kemudian memberikan Al jam tangan yang akan dikenakan oleh laki-laki itu. "Jika Anda sudah siap lebih baik kita cepat berangkat saja Tuan berhubung cuaca di pagi ini sangat cerah karena nanti kalau kita berangkat kesiangan, otomatis penerbangan kita bisa ditunda karena bisa saja cuacanya menjadi berubah mendung mengingat Jakarta saat ini sudah memasuki musim hujan," kata Bagas mengingatkan Al.
"Kamu benar juga Bagas kalau begitu ayo kita bergegas saja biar kita tidak terlalu membuang-buang waktu," ajak Al langsung.
__ADS_1
"Apa Anda tidak berpamitan dulu kepada Ranum?" tanya Bagas yang berpikir kalau Al melupakan Ranum.
"Oh ya, aku sampai lupa. Ponsel pengeluaran terbaru di 2023 ini, apa kamu sudah membelinya untukku?"
"Perasaan baru kemarin Anda membeli ponsel baru Tuan, lalu kenapa Anda sudah meminta untuk dibelikan ponsel baru lagi?"
"Aku butuh jawaban Bagas bukan malah pertanyaan."
Bagas tidak tahu saja ponsel itu sengaja Al belikan untuk Ranum. Akan tetapi Bagas yang belum tahu bertanya begitu kepada Al.
"Dimana ponsel itu Bagas? Apa jangan-jangan kamu lupa membelikannya untukku?"
"Tidak perlu, karena aku sudah percaya kepadamu." Al segera mengambil paper bag yang diberikan oleh Bagas. "Ini untuk Ranum bukan aku. Karena aku melihat ponsel gadis itu sudah tidak pantas lagi digunakan, karena layarnya saja sudah retak hampir ke seluruh LCD-nya dan juga dia mengikat ponselnya itu dengan gelang karet, sehingga ponsel itu terlihat seperti ponsel rongsokan."
Bagas menyipitkan matanya karena ia tidak percaya Al menyuruhnya membeli ponsel mahal-mahal hanya untuk diberikan kepada Ranum. "Apa saya tidak salah dengar Tuan?"
"Jika kamu budek maka kamu salah dengar Bagas, dan jika pendengaranmu masih normal maka apa yang aku katakan tadi memang benar apa adanya."
__ADS_1
***
Ranum tidak percaya kalau Al memberikannya ponsel yang harganya sangatlah mahal. Gadis itu tidak berani langsung mengambilnya karena ia masih ragu mengingat dirinya berasal dari kaum rakyat jelata jadi, Ranum merasa sangat tidak pantas menggunakan ponsel yang berlogo Apel digigit setengah itu.
"Ambil saja, dan lempar ponsel kamu yang sudah stroke itu, karena mataku semalam sakit gara-gara melihatnya dan juga aku menjadi bermimpi buruk hanya karena mengingat ponselmu itu," kata Al yang berusaha membuat Ranum menerima ponsel yang sudah ia suruh Bagas membelinya. "Jangan kebanyakan mikir, karena hari ini adalah jadwal keberangkatanku ke Negara A jadi kamu jangan membuatku terlambat hanya karena perkara ponsel seperti ini," sambung Al yang kini sudah menaruh kotak ponsel itu di dekat Ranum yang sedang duduk sambil bersandar.
"Tuan Al, ini terlalu berlebihan, kalau Anda berniat ingin membelikanku ponsel kenapa tidak ponsel yang sekan saja? Tapi masih layak digunakan dan lebih murah lagi, dari pada ponsel mahal-mahal seperti ini aku rasa tanganku saja sampai gemetaran jika akan memegangnya."
"Kamu yang jangan terlalu berlebihan Ranum, pakai saja dan tadi aku sudah mengisi nomor ponselku disana." Al jadi berpikir kalau Ranum adalah wanita yang sangat langka. Karena dimana wanita lain akan senang jika dibelikan sesuatu dengan harga yang mahal pasti wanita itu akan senang. Tapi tidak untuk Ranum, gadis itu tampak enggan untuk menatap ponsel yang masih ada di dalam kotaknya.
"Aku tidak akan jatuh miskin Ranum, hanya karena membelikan kamu satu ponsel seperti ini, sekalian satu konter aku borong dengan ponsel yang seperti ini semua, percayalah aku akan sanggup membelinya." Al saat ini dalam fase sedang menyombongkan diri. "Aku mengatakan ini bukan mau pamer, tapi aku cuma mau memberitahu kamu kalau Altezza ini." Al menepuk dadanya sendiri beberapa kali. "Tidak pelit dan semiskin yang kamu kira."
"Sudahlah ambil saja Num, daripada nanti kamu menyesal gimana coba?" Sonia yang kebetulan sudah ada di sana malah berkata begitu. "Ambil ya, karena aku juga tidak pernah dikasih ponsel mahal oleh Bagas, laki-laki menyebalkan yang sedang berdiri di sebelah Tuan Al itu selalu saja mengatakan menabung pangkal kaya, tapi buktinya dia sampai sekarang tetap jadi sekretaris Tuan Al bukan menjadi bos. Itu tandanya dia masih miskin meski tetap menabung," seloroh Sonia.
Bagas yang mendengar itu, sama sekali tidak menghiraukan ucapan Sonia. Laki-laki itu malah memilih untuk tetap diam saja.
"Aku akan berangkat ke Negara A, aku harap kamu bisa menjaga diri baik-baik disini jangan sampai kejadin yang seperti kemarin terjadi. Dan buat kamu Sonia, jangan membuat apartemaku ini seperti kapal pecah. Seperti yang sering kamu lakukan di apartamen Bagas. Apa kamu paham?"
__ADS_1
"Siap Taun Al, aku janji tidak akan membuata apartemen ini seperti kapal pecah. Kalaupun itu terjadi Bagas pasti akan siap bertangung jawab atas semua kekacauan yang aku lakukan." Sonia membuat Bagas melotot ke arahnya. "Secara Bagas 'kan banyak tabungan Tuan, jadi hal kecil seperti itu pasti akan bisa dia atasi dengan sejumlah uang yang dia miliki."
"Sonia, jangan membuat tensiku naik lagi, kamu lebih baik menurut tanpa banyak bicara," Kata Bagas.