
"Ini Tuan, pakai baju Anda dulu." Bagas menyerahkan baju kaos untuk Al yang sedang duduk di bangku tunggu di depan kamar rawat inap Ranum. "Pakai Tuan, sebelum ada yang melihat Anda bertelanjang dada seperti ini," lanjut Bagas.
Al kemudian mengambilnya dan dengan cepat mengenakan baju itu. "Jika dia tidak selamat, maka siapkan acara pemakamannya," kata Al tiba-tiba. "Karena aku tidak yakin gadis itu akan selamat, sebab dia sepertinya sudah terlalu lama di dalam bathtub dan pergelangan tangannya juga sudah terlalu banyak mengeluarkan darah, itu artinya kemungkinannya untuk hidup sangat kecil."
Bagas yang mendengar itu semua menggeleng kuat. "Ranum gadis yang kuat Tuan, maka dari itu dia pasti bisa melewati masa-masa ini, apalagi di dalam perutnya ada janin yang akan mendoakan keselamatan ibunya." Entah mengapa Bagas selalu saja yakin tentang apapun yang berkaitan dengan Ranum karena laki-laki itu sangat ingin Al dan Ranum hidup bahagia dalam sebuah keluarga kecil. Karena Bagas berpikiran kalau Ranum memang jodoh yang dikirimkan Tuhan untuk tuannya itu. "Anda juga sebagai suaminya harus mendoakannya Tuan, jangan malah berpikiran yang bukan-bukan seperti saat ini."
"Itu kata dokternya Bagas bukan kataku!" ujar Al setelah mendengar ucapan Bagas. "Aku juga lama-kelamaan jadi bingung, kenapa dia menjadi begini? Apa mungkin ini ada kaitannya dengan kematian adiknya?"
"Saya juga tidak begitu tahu Tuan, tapi kalau menurut Sonia, ini pasti ada kaitannya mengingat Ranum sering mengigau dan selalu saja memanggil-manggil nama adiknya, Aish," jawab Bagas sambil terus saja melirik jam di pergelangan tangannya. "Ini sudah hampir 30 menit tapi kenapa dokter belum keluar juga?" Bagas bertanya kepada Al yang bersandar di tembok sambil terlihat laki-laki itu memejamkan mata.
"Aku juga tidak tahu Bagas, maka dari itu jangan bertanya kepadaku." Kepala Al terasa nyeri karena laki-laki itu juga rupanya tidak enak badan, oleh sebab itu ia memejamkan mata sambil memijat-mijat pelipisnya. "Masalah terus saja mengikutiku, sehingga aku merasa bahwa masalah adalah temanku." Al bergumam pelan.
***
__ADS_1
Sonia yang baru datang langsung saja meraung menangis ketika melihat Bagas dan Al sedang berdiri di dekat berangkar yang didorong oleh beberapa perawat. "Tidak mungkin, Ranum tidak mungkin mati!" Sonia menjerit histeris. Bayang-bayang Ranum saat mereka berdua tertawa bersama seolah-olah menari-nari di pelupuk matanya bagai reka adegan ulang yang terputar jelas di memori ingatannya. "Ranum tidak boleh mati!" Air mata Sonia semakin deras mengalir.
Al dan Bagas yang melihat serta mendengar ucapan Sonia. Sama-sama saling pandang karena mereka berdua kebingungan.
"Kenapa kamu diam saja Bagas? Dan juga Anda kenapa diam saja Tuan Al? Tolong selamatkan Ranum, jangan biarkan gadis yang malang itu meninggal." Sonia berlari ke arah Bagas dan dengan cepat memvkvl-mvkvl dada laki-laki yang masih tercengang itu. "Tolong jangan biarkan gadis yang sedang hamil ini meninggal!" Sonia menangis sejadi-jadinya.
"Hai, apa yang kamu katakan?" Bagas dengan cepat menahan kedua tangan Sonia.
"Kamu masih bertanya Bagas! Ini Ranum kan, dan aku minta kamu tolong selamatkan dia!" bentak Sonia dengan mata yang sudah mulai memerah karena sudah terlalu banyak air mata yang keluar. "Selamatkan dia …," ucapnya dengan suara serak. Karena ia mulai merasa tenggorokannya begitu kering.
"Melihat Ranum. Jadi, ini bukan Ranum?" tanya Sonia yang mengusap air matanya. Sambil mendongak meminta penjelasan kepada Bagas karena posisi mereka saat ini berhadapan. "Bagas …," panggil Sonia.
"Kalian boleh pergi membawa mayat ini, maaf karena saya sudah menahan kalian di sini." Bagas menyuruh dua perawat itu untuk kembali mendorong berangkar itu lagi.
__ADS_1
"Kalau begitu kami permisi dulu tuan," kata Dua perawat itu serempak, mereka juga kini mulai terlihat menjauh sambil berjalan mendorong berangkar itu.
"Bagas, jadi itu bukan Ra–"
"Iya, itu bukan Ranum. Makanya jadi orang jangan asal berteriak-teriak seperti orang yang sedang kesurupan," sergah Bagas dengan cepat. "Bertanya dulu, supaya kamu tidak membuang-buang air matamu." Tangan Bagas terulur lalu mengusap sisa lelehan air mata Sonia. "Sudah jangan menangis lagi, ayo kita pergi melihat Ranum," ajak Bagas meraih tangan kekasih hatinya.
"S*alan! Kamu kenapa tidak membetitahuku? Dan malah membiarkan aku membuang-buang air mata!" desis Sonia.
"Bagaimana bisa aku memberitahumu, sedangkan kamu berterik-teriak terus lalu bagaimana bisa aku memberitahumu kalau itu bukan Ranum, melainkan salah satu karyawan di perusahaan yang mati karena di t@brak. Kebetulan salah satu stap di perusahaan menghubungiku tadi, dan pada saat itu juga aku dan Tuan Al langsung menghentikan perawat yang tadi."
"Kamu sunguh menyebalkan Bagas, membiarkan air mataku mengalir hanya untuk menangisi orang yang tidak aku kenal!" gerutu Sonia sambil terus berjalan menuju ruangan Ranum.
Bagas terkekeh karena ia merasa lucu melihat keb*dohan yang di lakukan oleh pacarnya itu. "Lain kali, pastikan dulu bahwa orang yang kamu tangisi itu sudah benar. Jangan malah begini, di mana ujung-ujungnya aku yang kamu salahkan."
__ADS_1
"Ini memang benar salah kamu! Karena tidak langsung memberitahuku!"