Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 41


__ADS_3

"Sejak adiknya meninggal, Ranum sekarang lebih banyak diamnya," ucap Sonia ketika ia berbicara dengan Bagas melalui video call. "Aku jadi tidak tahu harus berkomunikasi dengan cara apa lagi, karena jika aku bertanya dan mengajaknya ngobrol, Ranum sama sekali tidak merespon juga tidak menghiraukan aku," lanjut Sonia yang menceritakan Bagas sambil menatap Ranum yang sedang berdiri di dekat jendela, gadis itu terlihat sedang melihat pemandangan ibu kota Jakarta dari apartemen Al.


"Apa perlu aku memanggilkannya psikolog?" tanya Bagas secara tiba-tiba. Laki-laki itu rupanya juga sangat mengkhawatirkan keadaan Ranum saat ini.


"Boleh saja, tapi sebelum itu kamu tanyakan dulu ini kepada Tuanmu itu, jangan asal ambil keputusan sendiri Karena bagaimanapun Tuan Al adalah suaminya," kata Sonia memperingati Bagas supaya memberitahu ini semua terlebih dahulu kepada Al. "Kalau Tuan Al sudah setuju, kamu langsung saja menghubungi psikolog yang kamu kenal."


"Tapi bukannya psikolog hanya untuk orang yang kurang waras?" tanya Bagas.


"Seseorang yang harus ke pisikolog adalah seseorang yang mengalami kejadian traumatis, seperti kehilangan sosok tercinta, perceraian, atau kehilangan pekerjaan, terutama bila rasa sedih yang dirasakan tidak kunjung hilang." Sonia menjawab pertanyaan Bagas. "Apa sampai sini kamu paham? Karena bukan orang yang kurang waras saja yang harus ke pisikolog. Akan tetapi menurutku kamu memang sangat perlu memanggil seorang psikolog untuk Ranum juga, karena melihat Ranum begini terus, aku justru menjadi takut kalau mentalnya lama-kelamaan malah jadi terganggu. Mengingat dia sering kali menyebut nama adiknya ketika dia sedang mengigau. Ini berarti masuk ke dalam kata gori rasa sedih yang dia rasakan tidak kunjung hilang."


"Kamu benar juga, sepertinya aku memang harus benar-benar memanggil seorang psikolog. Tapi bagaimana kalau kamu saja yang pergi ke rumah sakit, untuk membawa Ranum ke dokter pisikolog, supaya dia bisa cepat di tangani, karena kalau kita menyuruhnya datang ke aparteman bisa saja dokter pisikolognya tidak punya banyak waktu mengingat dokter pusikolog sangat banyak pasiennya."

__ADS_1


"Iya, itu terserah kamu saja, yang terpenting sudah dapat persetujuan dari Tuan Al," balas Sonia menimpali Bagas.


***


Tepat pukul dua dini hari lagi-lagi Ranum terbangun karena ia bermimpi kalau adiknya Aish meminta tolong. Pada saat itu juga Ranum menangis histeris karena ia merasa kalau kematian adiknya tidak wajar. Sehingga suara tangisannya membuat Sonia langsung membuka mata.


"Ada apa Num? Kenapa kamu menangis?" Meskipun Sonia tahu bahwa Ranum tidak akan pernah menjawabnya akan tetapi gadis itu akan terus bertanya sampai Ranum benar-benar menjawabnya. "Cerita sama aku, apa yang kamu mimpiin sehingga membuat kamu sering kali menangis tepat pukul dua dini hari seperti saat ini?"


"Jika kamu begini terus bisa-bisa janin yang ada di dalam kandungan kamu tidak berkambang dengan baik Ranum, karena ibunya saja seperti ini setiap hari ketika malam menjelang." Sonia mencoba memeluk tubuh Ranum berharap supaya tangis gadis itu mereka akan tetapi bukannya mereda tangis Ranum semakin menjadi-jadi. Sehingga tangisan itu terdengar sangat memilukan. "Aku juga bisa terlambat datang ke sekolah lagi, gara-gara kamu Num yang begini terus," gumam Sonia pelan.


Ranum sebenarnya ingin bertriak sekencang-kencangnya, gadis itu juga ingin rasanya memberitahu keseluruh orang yang ada di dunia ini kalau adiknya, Aish meninggal karena ulah ibu tirinya. Tapi apa daya Ranum tidak mampu berkata apa-apa lagi karena ia tahu hukum di negara kanoha ini sangatlah tidak adil. Dimana segala sesutu bisa di selesaikan hanya dengan uang.

__ADS_1


Rupanya Ranum tahu ini semua dari Inem setelah gadis itu memaksa asisten rumah tangga ibu tirinya itu untuk memberitahunya tentang apa yang sebenarnya telah terjadi dengan Aish, Ranum waktu itu sampai rela datang ke kediaman Inem secara diam-diam hanya untuk mengetahui semuanya.


Kebetulan pada hari minggu Inem akan selalu saja pulang ke rumahnya, sehingga Ranum tidak menyinya-nyiakan kesempatan itu untuk menemui Inem di kediamannya langsung, dan ketika Ranum sampai di sana ia memohon hingga gadis itu bersujud di kaki Inem asalkan ia di ceritakan bagaimana kejadian yang sebenarnya.


Inem yang memang selalu sering merasa kasihan kepada anak majikannya itu pada akhirnya terpaksa menceritakan semuanya kepada Ranum akan tetapi dengan syarat, Ranum tidak boleh membocorkannya kepada siapapun. Karena jika itu sampai terjadi maka nyawa keluarga Inem akan dalam bahaya. Itulah yang membuat Ranum jadi lebih banyak diam karena ia tidak akan mampu melakukan apa-apa hanya untuk membela keadilan. Atas perbuatan ibu tirinya yang sangat tidak berperi kemanusiaan.


"Andai saja mulut ini mampu untuk membongkar kebusukan tente Angel mungkin aku tidak akan tersiska seperti ini! Akan tetapi apa daya aku hanya gadis melarat yang di nikahi oleh pemilik perusahaan Ezza Fashion hanya demi bayi dan hanya demi misi balas dendamnya!" Ranum menjerit hingga berteriak di dalam benaknya karena ia merasa tidak berguna menjadi kakak bagi Aish. "Aku tidak pantas menjadi seorang kakak, karena aku tidak mampu melindungi adikku sendiri," sambungnya lagi.


***


Sonia benar-benar sangat mengantuk karena jam istirahatnya pada malam hari selalu terganganggu sehingga pagi ini ia bangun kesiangan. "Tidak apa-apa aku libur satu hari, karena aku benar-benar sangat ngantuk," gumam gadis itu pelan. "Bagas, aku mohon jangan memarahiku karena mataku benar-benar tidak bisa di buka. Satu kali ini saja aku tidak masuk sekolah," kata Sonia yang berbicara kepada dirinya sendiri. Dengan mata yang masih terpejam sempurna, karena tadi ia membuka mata hanya untuk melihat jam saja. Akan tetapi ketika Sonia meraba ke sebelahnya untuk memastikan Ranum masih tertidur tiba-tiba saja Sonia langsung bangun dari tidurnya karena tangannya tidak bisa menemukan sosok tubuh gadis yang sedang hamil itu.

__ADS_1


"Ya Tuhan, pergi kemana dia? Aku pokoknya harus bergegas mencarinya sebelum Bagas menghubungiku." Ketika Sonia turun dari ranjang tiba-tiba saja kamar itu sudah dipenuhi oleh genangan air yang berasal dari kamar mandi. Saat Sonia melirik ke arah kamar mandi tiba-tiba saja gadis itu menjerit. "Darah! Tidak! Ini semua tidak boleh terjadi!" Sonia bergegas ingin membuka pintu kamar mandi itu. "Tidak! Ranum tidak boleh mati!" Sonia dengan kekuatan yang ia miliki segera berusaha mendobrak pintu itu. "Kenapa harus di kunci?!" teriak Sonia dengan air mata yang bercuran. "Buka! Ranum tolong buka pintu ini!"


__ADS_2