Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 22


__ADS_3

"What! Tidak punya rumah? Lantas darimana kamu berasal?" Bagas tidak percaya dengan apa yang dikatakan Ranum, kalau gadis itu tidak punya rumah atau tempat tinggal. "Kalau begitu mari aku antar kamu ke kantor polisi saja, biarkan polisi yang akan mencari kedua orang tuamu, jika aku masih saja kamu anggap orang jahat," kata Bagas yang mengira kalau Ranum tidak mau memberitahunya di mana tempat tinggal gadis itu. Karena ia pikir Ranum masih berpikiran bahwa dirinya orang jahat.


"Bukan begitu, aku … aku, benar-benar tidak punya tempat ting–" Ranum menutup mulutnya rapat-rapat karena tiba-tiba sana rasa mualnya datang lagi.


"Kamu kenapa?" Bagas bertanya karena melihat Ranum menutup mulut dan memegang perut. "Apa kamu sakit?"


Ranum bukannya menjawab, gadis itu malah berlari ke kamar mandi kebetulan pintu kamar mandi itu sedikit terbuka jadi Ranum bisa tahu di sana letak kamar mandi yang ada di kamar Bagas.


Bagas yang melihat dan mendengar suara Ranum yang muntah-muntah langsung mengerutkan kening. "Kenapa gadis itu? Apa jangan-jangan dia masuk angin?" Bagas berusaha menebak-nebak sebelum ia menanyakan hal ini kepada Ranum, gadis yang telah ia temukan beberapa jam yang lalu. Tapi baru saja ia akan bangkit dari duduknya ponselnya tiba-tiba saja bergetar dari sakunya. "Tuan, Al. Ada apa dia menelponku?" Dengan cepat Bagas menggeser tombol hijau.


"Dari mana saja kamu? Ini Tuanmu sedang mabuk berat. Segera datang dan bawa dia pulang!"


Bagas yang mendengar suara wanita itu begitu cempreng segera menjauhkan ponsel itu dari telinganya. "Bisa tidak kalau kau menelponku itu tidak usah berteriak-teriak, karena aku tidak budek!" sahut Bagas mendesis karena kesal.

__ADS_1


"Kamu memang tidak budek tapi … ." Sonia nama gadis yang menelpon Bagas itu dengan ponsel Al, menggantung kalimatnya karena ia mendengar suara Ranum yang muntah-muntah. "Sedang apa kamu? Dan suara siapa yang muntah-muntah itu?!" Suara Sonia terdengar semakin naik sepuluh oktaf.


Bagas lagi-lagi terpaksa menjauhkan ponselnya dari telinganya. Ia lalu menoleh ke arah kamar mandi dimana Ranum yang masih saja muntah-muntah.


"Hai, br*ngs*k! Suara wanita yang sedang muntah-muntah itu siapa?" Sonia bertanya lagi karena mendengar Bagas tidak menjawabnya.


"Bukan siapa-siapa, Sonia. Kau tunggu saja aku disana. Jangan biarkan para je la ng itu mendekati Tuan Al," ujar Bagas yang tahu pasti saat ini banyak para kupu-kupu malam yang sedang berusaha menggoda Al dalam keadaan mabuk. "Apa kau mendengarku, Sonia?"


"Tidak! Aku tidak mau menjaga Tuanmu ini, dasar laki-laki kurang ajar ternyata kalian semua sama saja!" ketus Sonia yang berpikir kalau Bagas sedang bersenang-senang dengan wanita lain. "Kamu menyuruhku menjaga kehormatanku untukmu, sedangkan kamu sedang asik menanam benih pada wanita lain, cih dasar munafik!" gerutu Sonia karena gadis yang seusia dengan Ranum itu merasa Bagas menghianati cintanya.


***


"Aku pikir kamu tidak akan datang!" ketus Sonia. Ketika melihat Bagas baru saja datang.

__ADS_1


"Dimana Tuan Al?"


Sonia menunjuk Al yang sedang ia ikat di atas ranjang, sehingga membuat Bagas membulatkan kedua bola matanya karena kaget melihat penampilan tuannya itu.


"Apa yang kau lakukan?"


"Ya, seperti apa yang kamu lihat saat ini. Aku mengikatnya karena Tuanmu itu terus saja memberontak ingin menodai diriku," jawab Sonia yang rupanya enggan untuk menatap Bagas. "Bawa dia pulang cepat! Karena jam kerjaku jadi terbuang sia-sia hanya untuk menjaga Tuanmu ini!" Sonia benar-benar tidak mau menatap muka kekasih pujaan hatinya. "Pulang sana! Wangi wanita simpananmu saja sampai kamu bawa kesini! Sungguh sangat menjijikkan sekali."


Bagas yang sedang malas berdebat sama sekali tidak menanggapi semua kalimat yang terlontar dari mulut Sonia. Bagas lebih memilih mendekati ranjang tempat Al diikat.


"Jika terus begini kita akhiri saja hubungan ini! Aku tidak mau mati karena menahan rasa kesal dan dongkol setiap saat. Oke aku memutuskan kita tidak punya hubungan lagi titik!" Sonia menghentakkan kakinya setelah itu ia akan pergi tapi Bagas dengan cepat menahannya. "Lepas! Aku tidak sudi di pegang oleh laki-laki yang sudah menggunakan tangannya untuk memegang wanita lain aku jijik!"


"Ikut aku, dan kau bisa melihat wanita yang kau dengar muntah-muntah di telepon tadi." Bagas dengan suara tegasnya mengatakan itu. "Aku tidak suka menjelaskan semuanya panjang lebar, karena lebih baik aku membuktikan bahwa semua tuduhan kau itu semuanya tidak benar."

__ADS_1


"Jika maling di negara ini mengaku maka penjara full, sudahlah aku tidak membutuhkan bukti apa-apa. Sekarang kamu pulang saja karena mulai sekarang kita tidak punya hubungan apa-apa lagi." Sonia menepis tangan Bagas dengan kasar.


"Dasar keras kepala!"


__ADS_2