Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 39


__ADS_3

Dunia Ranum saat ini benar-benar terasa mau roboh ketika melihat adiknya itu sudah terbujur kaku di atas bad rumah sakit, Ranum tidak pernah menyangka kalau adiknya, Aish benar-benar telah pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya sama seperti ibunya yang telah terlebih dahulu meninggalkan gadis yang tengah hamil itu. "Ini semua tidak mungkin terjadi, Aish tidak mungkin meninggal karena adikku sehat-sehat saja ketika aku meninggalkannya di rumah tante Angel. Lalu kenapa dia sekarang sudah terbujur kaku seperti saat ini?" tanya Ranum di dalam benaknya karena saking shocknya lidah gadis itu seolah-olah menjadi kelu. Sehingga terlihat hanya ada genangan air mata saja yang ada di pelupuk matanya.


Pada saat Ranum memeluk jasad adiknya detik itu juga tangisnya pecah sehingga lama-kelamaan tangisnya itu terdengar sangat memilukan, tubuhnya terguncang hebat bersamaan dengan itu Ranum menggendong tubuh mungil balita itu untuk ia bawa turun ke lantai sambil tetap meluk erat tubuh adiknya itu. "Apa yang telah Ayah lakukan kepada Aish? Kenapa dia bisa jatuh dari atas tangga?!" Suara Ranum menggema di ruang rawat inap itu, baru kali ini gadis itu berteriak histeris di depan ayahnya hanya karena adik satu-satunya yang ia sayangi kini sudah tidak ada lagi di dunia.


Ranun saat ini benar-benar merasa kalau Tuhan tidak adil kepada dirinya. "Kenapa Ayah diam saja? Jawab aku!" bentak Ranum yang mengusap rambut adiknya dengan lembut sambil mencium wajah balita itu beberapa kali. "Aish bangun jangan tinggalkan Kakak, aku mohon buka mata kamu sayang," kata Ranum sambil menggoyang-goyangkan tubuh Aish berharap agar balita itu bangun. Akan tetapi mustahil Aish akan bangun mengingat belita itu sudah meninggal dunia dari beberapa jam yang lalu.


"Tuhan kenapa tidak nyawaku saja yang Engkau ambil? Nyawa seorang berdosa sepertiku! Lalu Kenapa harus nyawa Adikku yang masih balita ini?" Ranum bertanya-tanya di dalam benaknya. Ranum juga kini terlihat semakin erat memeluk tubuh kurus balita itu.


"Sudah Mas, bawa saja jasadnya pulang, sudah tau balita itu mati masih tetap saja di bawa kesini," gerutu Angel secara tiba-tiba yang sedang berdiri di depan pintu. "Kamu ini hanya buang-buang bensin saja!"


"Iya, kita akan bawa dia pulang, tapi tunggu Ranum sebentar lagi. Dan nanti aku akan ganti uang kamu yang sudah kamu pakai buat beli besin tadi."


Angel mengangkat kedua bahunya. "Hm bukankah Mas sendiri yang berkata kalau Ranum itu bukan anak kamu lagi? Lalu kenapa ka–"


"Hanya untuk melihat adiknya saja untuk yang terakhir kalinya. Setelah itu dia tidak boleh ikut pulang bersama kita. Hanya boleh ikut ke pemakaman saja tidak menginjakkan kaki di rumah kita lagi," kata-kata Rudy yang sunguh benar-benar tega berkata begitu kepada putrinya sendiri. Hanya karena hasutan Angel pria paruh baya itu semkain membenci Ranum dimana gadis itu adalah darah dagingnya sendiri.

__ADS_1


"Kamu urus saja Mas, karena aku mau pulang duluan." Setelah mengatakan itu Angel langsung pergi. Karena saat ini ia merasa sangat senang sebab wanita itu telah berhasil menyingkirkan Aish, balita yang telah ia dorong dari atas tangga. Sekarang wanita itu sedang memikirkan cara untuk membuat Ranum bernasip sama seperti Aish, dan dengan tidak meninggalkan jejak sedikitpun.


Sedangkan Ranum masih menangis histeris gadis itu merasa benar-benar sudah tidak sanggup lagi untuk hidup karena orang-orang yang ia sayangi sudah pergi meninggalkannya.


"Taruh kembali Aish di atas bad itu, karena jasadnya mau saya bawa pulang. Dan untuk kamu tidak usah menginjakkan kaki kamu di ramah saya lagi."


Ranum mendongak hanya untuk menatap wajah sang ayah yang telah tega mengatakan itu kepada dirinya. Jika dulu Ranum memandang ayahnya dengan penuh kerinduan tapi beda halnya dengan sekarang gadis itu malah memandang ayahnya dengan tatapan yang begitu sinis menandakan gadis itu benar-benar sangat membenci ayahnya sendiri. "Akan aku buat Ayah menyesali ini semua!" teriak Ranum sebelum pandangan gadis itu menjadi buram.


***


Ketika Sonia masih saja mondar-mandir tiba-tiba ponselnya berdering. "Bagas …," gumamnya pelan ketika membaca nama pemanggil, dan tapa menunggu waktu yang lama Sonia mengangkat panggilan itu.


"Apa kamu sudah menemukan keberadaan Ranum?"


Saking khawatirnya dengan Ranum, Sonia sampai lupa memberi tahu Bagas kalau dirinya sudah menemukan Ranum yang sudah pingsan. Karena kebetulan pas ia baru datang Sonia langsung melihat sebuah ruangan tempat dimana Ranum sudah terbaring tanpa di temani oleh siapapun.

__ADS_1


"Sonia, apa kamu masih di sana?" Bukan suara Bagas lagi yang di dengar oleh Sonia melainkan suara Al. "Hallo … ."


"I-iya Tu-Tun," jawab Sonia terbata-bata. "Ranum sudah aku temukan, dan saat ini dia masih pingsan Tuan." Sonia tidak bisa memberitahu apa penyebab Ranum pingsan karena gadis itu tidak mungkin mengambil kesimpulan sendiri. Dan sebelum ia menanyakan langsung kepada Ranum.


"Kenapa dia bisa pingsan?"


"Begini Tuan saya sudah menemukan Ranum sudah ping–"


"Aish, jangan tingglkan Kakak!" Tiba-tiba saja suara Ranum yang berteriak histeris membuat ponsel yang di pegang oleh Sonia terlepas dari gengaman tangannya sehingga ponsel itu mati karena terjatuh. "Aish, maafkan Kakak." Ranum menangis dengan mata yang masih terpejamkan.


Sonia yang melihat akan hal itu perlahan mendekati bad itu, setelah itu ia menepuk-nepuk pelan pipi Ranum. "Ranum, bangun dan cerirakan kepadaku tentang apa yang telah terjadi kepadamu," kata Sonia berulang-ulang kali.


Sehingga tidak lama mata Ranum mulai terbuka sedikit demi sedikit. "Dimana adikku, Aish? Apa kamu melihatnya?" tanya Ranum kepada Sonia yang saat ini sedang melihat mata Ranum yang membengkak. "Sonia, aku bertanya apakah kamu melihat, Adikku?"


Gadis yang di tanya itu hanya bisa diam saja karena ia sama sekali tidak melihat Aish, adiknya Ranum itu.

__ADS_1


"Sonia, diamana Adikku? Tolong bawa Aish kembali kepadaku. Karena aku tidak mau belita itu meninggalkan aku sendirian di dunia ini." Ranum, gadis itu lagi-lagi hanya bisa menangis saja.


__ADS_2