Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 88


__ADS_3

Ranum tidak bisa pungkiri kalau saat ini gadis itu merasa sangat bersalah pada Ryder. Meskipun ia mendengar sendiri kalau Ryder mengatakan tidak apa-apa tapi ia bisa tahu dari raut wajah laki-laki itu yang saat ini pasti sangat kecewa dengannya.


"Kita akan kembali bertemu jika takdir mempertemukan kita kembali," ucap Ryder pelan.


Air mata Ranum semakin deras mengalir karena ia merasa menyesal tidak mengatakan ini dari awal, dimana ia sedang hamil dan sudah menikah. "Ry, aku bersungguh-sungguh dalam meminta maaf, tolong terima kata maafku ini."


Ryder menutup mulut Ranum menggunakan jari telunjuknya. "Jangan katakan apapun lagi, dan simpan kata maafmu itu. Karena disini yang bersalah itu adalah aku, yang telah menaruh rasa pada istri orang." Ryder rupanya sadar diri kalau ia yang bersalah. "Akulah, laki-laki yang sangat lancang itu mengungkapkan isi hatiku kepadamu, akulah si b*doh itu."


"Aku yang bersalah, bukan kamu," ucap Ranum sambil menyingkirkan jari telunjuk Ryder dari bibirnya. Gadis itu sekarang terlihat menatap Ryder sehingga empat bola mata indah itu saling bertemu.


"Apakah kamu mencintaiku?" tanya Ryder secara tiba-tiba.


Ranum yang mendengar pertanyaan itu tidak menjawab, gadis itu hanya diam dengan air mata yang tidak bisa berhenti mengalir.


"Jawab aku, agar aku tidak merasa kalau cintaku ini bertepuk sebelah tangan." Ryder terlihat meraih tangan Ranum setelah ia mengatakan itu, tidak lama ia kemudian mencium punggung tangan gadis itu. "Jawab aku dengan jujur, supaya aku bisa menyuruhmu mengubur rasa itu, seperti apa yang akan aku lakukan setelah hari ini. Mengubur rasa yang sudah sejak lama singgah di hati ini."


Kepala gadis itu tiba-tiba saja mengangguk. "A-aku, ju-juga menaruh ra-rasa padamu," kata Ranum tiba-tiba dengan suara yang terbata-bata. Karena rupanya ia mulai menaruh rasa pada Ryder sejak laki-laki itu selalu ada untuknya waktu di sekolah. Akan tetapi karena ia sudah menjadi istri orang, oleh sebab itu Ranum hanya bisa menyimpan rasa itu sendiri. Dan tidak berani mengatakannya kepada Ryder akan tetapi hari ini gadis itu berani mengungkapkannya secara terang-terang seperti ini.


"Segera kubur rasa itu dalam-dalam Ranum, karena kita tidak akan pernah bisa bersatu. Ibarat aku minyak dan kamu air." Ryder tersenyum getir ketika ia mengatakan itu. "Dengarkan aku, kubur dalam-dalam rasa itu. Karena tugasmu sekarang cintai suamimu sepenuh hatimu, dan mulai sekarang kita akan menjadi sahabat selamanya." Ryder terlihat mengeluarkan liontin dari sakunya. "Aku hanya bisa memberikan kamu ini, sebagai kenang-kenangan. Karena aku juga mulai besok sudah pindah sekolah ke luar Negeri."


"Apa ini gara-gara aku?" tanya Ranum.


"No, Mama dan Papaku bercerai satu minggu yang lalu, oleh sebab itu aku terpaksa harus ikut pindah ke negara asal Mamaku," jawab Ryder sendu. "Sekarang bolehkah aku memakaikan liontin ini untukmu?"


Ranum mengangguk sebagai jawaban tanda setuju untuk Ryder.

__ADS_1


"Bila kamu merindukan aku, maka lihatlah liontin ini. Aku berharap dengan kamu melihatnya rasa rindumu itu kepada temanmu ini sedikit berkurang." Sambil memasangkan liontin itu di leher Ranum, Ryder berkata seperti itu. "Jangan pernah melupakan persahabatan kita."


***πŸƒπŸƒ


Satu bulan berlalu, kini Ranum kembali menjalani hidupnya seperti sedia kala dimana ia menjadi istri yang penurut, tapi siapa sangka gadis itu juga masih menyimpan rasa pada Ryder.


"Woy, ngelamun aja." Sonia yang baru datang membuat lamunan gadis itu menjadi buyar.


"Ngagetin aja," ucap Ranum sambil mengelus dadanya.


"Sorry, makanya jangan ngelamun." Sonia kemudian langsung duduk di sofa. "Oh ya, kapan pengumuman kelulusan di sekolahmu?"


Ranum terlihat menghitung menggunakan jari-jarinya, sebelum ia menjawab pertanyaan Sonia. "Sepertinya tinggal satu minggu lagi, kalau kamu kapan?"


"Masih lama, padahal aku sudah tidak sabar ingin menikah dengan Bagas," seloroh Sonia menjawab pertanyaan Ranum.


"Kira-kira kalau aku menikah dengan Bagas, kamu mau memberiku hadiah apa? Sebagai teman yang baik pasti kamu akan memberikanku hadiah yang sangat wow, luar biasa 'kan?"


"Kita akan kuliah di tempat yang sama. Jadi, jangan bahas masalah nikah-nikahan dulu," jawab Ranum menimpali Sonia. "Dan kelak, jika kamu menikah dengan Bagas pasti aku sudah memiliki pekerjaan, pada saat itu juga pasti aku akan mampu memberikanmu hadiah."


Tubuh Sonia merosot jatuh ke lantai. "Kamu benar, aku masih harus kuliah dan menjadi wanita karir," gumam Sonia pelan.


"Ingat kata-kata Bagas, kamu harus belajar yang ra …."


"Jin …," jawab Sonia sambil mengacak-ngacak rambutnya sendiri. "Bagas memang laki-laki yang sangat menyebalkan!"

__ADS_1


***


Saat Ranum dan Al sedang makan malam tiba-tiba saja perut gadis itu terasa sangat sakit. Sehingga Ranum terlihat menunjukkan raut wajah yang masam dan keringat dingin mulai membanjiri pelipis gadis itu.


Al yang melihat ekspresi wajah Ranum berubah dengan cepat bertanya, "Kamu kenapa? Apa ada yang sakit?"


Tangan gadis itu langsung melingkar di perut buncitnya. "Perutku, sangat sakit Tuan Al," jawabnya lirih.


Al langsung melepaskan sendok yang ia pegang dan dengan segera mendekati Ranum. "Apa mungkin kamu akan melahirkan?" Al kini mulai terlihat panik sendiri.


"Ini baru 7 bulan, mana mungkin aku akan melahirkan," ringis Ranum menjawab sang suami.


Al lalu dengan gerakan cepat menelepon Bagas, laki-laki itu ingin menyentuh Bagas untuk membawa dokter Siska ke rumahnya.


"Halo, Tuan Al, ada yang bisa saya bantu?"


"Bawa Dokter Siska sekarang juga kesini, karena tiba-tiba saja perut Ranum sakit." Suara Al terdengar jelas kalau laki-laki itu saat ini sangat panik.


Bagas yang mendengar itu langsung menyingkirkan Sonia yang saat ini sedang menjadikan p*hanya sebagai bantal. "Bawa saja langsung ke rumah sakit Tuan, karena tadi saya sempat menghubungi Remos, katanya Dokter Siska sedang pergi berlibur, dan tidak mungkin saya akan menyusulnya ke sana."


Mendengar itu Al tanpa pikir panjang mengangkat tubuh Ranum. "Baiklah, aku akam membawa Ranum kerumah sakit." Al lalu memutuskan sambungan telepon itu.


Sedangkan Ranum yang di gendong hanya bisa pasrah saja karena tidak mungkin menolak di saat perutnya semakin sakit. "Akhh, perutku. Sangat sakit sekali."


"Bersabarlah, kita akan pergi ke rumah sakit." Al lalu berjalan dengan langkah lebar meski saat ini ia menggendong tubuh Ranum. "Berdoalah semoga calon bayi kita tidak apa-apa di dalam perutmu."

__ADS_1


......................



__ADS_2