
"Apa sebenarnya yang ada di dalam isi otak gadis ini? Sehingga dia sampai melakukan ini semua. Apa dia sudah sangat bosan untuk hidup sehingga dia memilih bvnvh diri dengan cara begini?" Al terus saja bertanya-tanya kepada dirinya sendiri sambil memperhatikan wajah Ranum yang pucat pasi, meskipun warna kebiruan pada bibir gadis itu sudah mulai sedikit memudar.
"Aku rasa ada sesuatu yang sedang disembunyikan, sehingga dia menjadi begini karena tidak tahu harus bercerita dan berkeluh kesah kepada siapa." Al kini mulai melihat ke arah perut Ranum yang masih datar. "Jika benar yang di perutnya itu adalah darah dagingku, maka aku bersumpah akan menjaga gadis yang begitu malang ini hingga jantungku berhenti berdetak dan nafasku hanya sampai di tenggorokan." Tiba-tiba saja suara petir terdengar ketika Al selesai mengatakan itu. Sehingga ia merasa bahwa alam semesta telah mendengar sumpah janjinya yang tadi terlontar keluar dari mulutnya.
Tidak lama akhirnya terlihat dua pasangan kekasih yang lebih terlihat mirip kakak dan adik itu masuk secara bersamaan. Sehingga mereka bisa melihat Al yang sedang berdekap tangan sambil terus menatap Ranum yang masih terbaring.
"Tuan, biar saya dan Sonia yang menjaga Ranum, sekarang Anda boleh pulang dan beristirahat saja," kata Bagas yang membuka suara terlebih dahulu. "Saya juga sangat khawatir dengan keadaan Anda, yang sepertinya Tuan terlihat sedang kurang enak badan." Yang dikatakan Bagas memang benar bahwa Al saat ini kurang enak badan juga. Akan tetapi laki-laki itu terus berusaha untuk tetap terlihat biasa saja meskipun kepalanya terasa sangat nyeri.
"Kamu saja yang pulang Bagas, antar Sonia juga. Karena aku rasa Ranum sudah terlalu banyak merepotkannya sehingga sekolahnya sampai terlantar begini," sahut Al membalas ucapan Bagas. "Pulang gih, nanti kalau aku butuh sesuatu akan segera menghubungimu." Al benar-benar menyuruh Bagas untuk pulang. Namun, Bagas menggeleng kuat-kuat. "Kenapa? Aku sendiri yang memintamu untuk pulang Bagas, jadi turuti perintahku!"
"Tidak Tuan, bila perlu kita bertiga beristirahat saja disini, jadi di dalam ruangan ini ada empat orang dan lagi pula kamar rawat inap Ranum ini ruangannya VVIP bukan ruangan yang pakai kis," seloroh Bagas.
__ADS_1
Al baru sadar kalau ternyata kali ini ruang rawat inap Ranum adalah ruangan VVIP. "Kamu benar juga Bagas, sekarang biarkan Sonia saja yang beristirahat." Al kemudian menggeser tirai yang ada di belakangnya. Dan langsung terlihat di sana ada kasur yang ukurannya bisa untuk dua orang. "Sekarang kamu tidur saja Sonia, karena sepertinya matamu perlu beristirahat karena sudah terlalu bengkak, karena tadi kamu juga sempat menangisi orang yang salah," ucapan Al membuat Sonia mengingat lagi kejadian yang tadi.
"Itu semua gara-gara sekretaris sekaligus asisten Anda ini Tuan, yang tidak memberitahuku sehingga air mataku terbuang sia-sia hanya untuk menangisi orang yang salah," balas Sonia menimpali Al.
"Makanya kamu istirahat saja, biarkan Bagas beristirahat juga di sopa itu dan aku akan duduk di sini." Al menarik kursi yang ada di dekat bed Ranum. "Sana Bagas, dan kamu juga Sonia tutup kelambu ini. Supaya mata Bagas tidak ternoda melihat kamu yang seperti cacing kepanasan kalau sedang tertidur." Al mengatakan itu supaya Sonia tahu kalau di apartemennya itu ada cctv yang tersembunyi jadi Al tahu gaya tidur Sonia seperti apa.
***
Di tengah malam tiba-tiba saja Al terbangun sehingga laki-laki itu bisa melihat kalau Ranum masih belum membuka mata akan tetapi Al merasa aneh karena dari sudut mata gadis itu telah keluar air mata yang terus saja menetes. "Dia menangis? Apakah dia sekarang telah menyesali perbuatannya?" tanya Al di dalam benaknya.
__ADS_1
Tiba-tiba saja tangan Al terulur untuk mengusap air mata Ranum. "Bangunlah, kami bertiga yang ada disini sangat mengkhawatirkanmu," gumam Al pelan sambil terus mengusap air mata Ranum. "Bangun, dan ceritakan semuanya kepadaku supaya rasa yang kamu pendam di dalam hatimu menjadi sedikit berkurang, dan mungkin dengan cara itu senyum di bibirmu akan kembali terlukis," kata Al yang berharap Ranum membuka mata. Meskipun Al tidak terlalu begitu mengenal Ranum tapi laki-laki itu merasa kalau ia harus melindungi gadis yang sedang hamil ini. Meskipun kadang Ranum bisa membuatnya merasa kesal sewaktu-waktu karena sifat ceroboh dan b*doh yang dimiliki oleh istrinya itu, yang saat ini masih duduk di bangku SMA kelas tiga.
"Ranum, buka matamu dan buktikan kepada ayah, ibu tirimu serta kakak tirimu itu kalau kamu benar-benar akan bisa hidup tanpa mereka, karena jika mereka tahu kelakuan b*dohmu ini maka aku yakin mereka akan tertawa terbahak-bahak sebab mereka merasa kalau kamu telah kalah dan merekalah pemenangnya." Al tidak henti-hentinya memberikan Ranum kata-kata penyemangat. Meskipun ia tahu kalau Ranum tidak akan mungkin mendengarkan semua kata-katanya itu.
"Jadilah wanita yang kuat, wanita mandiri, dan wanita yang tidak mudah tertindas. Supaya orang lain tidak semena-mena dalam memperlakukanmu. Karena aku yakin semua yang aku sebutkan tadi sudah tertanam di dalam jiwamu, akan tetapi karena tidak ada yang mendukung serta memberikanmu kata-kata motivasi oleh sebab itu kamu tidak berani melakukannya. Sehingga ketika kamu direndahkan bahkan di caci maki kamu masih tetap diam saja. Aku jadi berpikir kalau hati kamu ini terbuat dari apa? Karena kenapa? Kalimat-kalimat pembelaan untuk dirimu sendiri sangat sulit keluar dari bibimu ini?"
Ketika Al masih saja terus berbicara tiba-tiba saja jari Ranum mulai bergerak. Akan tetapi laki-laki itu tidak menyadari itu semua, sehingga detik berikutnya mata Ranum mulai sedikit-demi sedikit terbuka. Namun, karena penglihatan gadis itu yang buram serta kepalanya juga terasa sakit. Pada akhirnya ia memutuskan untuk kembali memejamkan matanya.
"Kenapa aku masih hidup? Kenapa aku tidak mati saja? Karena aku merasa dunia beserta alam semesta ini sangat tidak adil bagiku," gumam Ranum yang berbicara di dalam benaknya.
"Ranum …," panggil Al lembut. "Buka mata kamu, dan lihat dunia ini masih sangat luas tidak hanya selebar daun kelor." Al lalu menyingkirkan beberapa helai anak rambut yang ada di dahi Ranum. "Ranum, bangunlah …," Al terus saja menyuruh Ranum bangun tanpa ia tahu bahwa gadis yang berstatus istrinya itu telah sadar. Sehingga ucapan Al semuanya dapat didengar oleh gadis itu. "Bangun, dan aku akan mengajarkanmu menjadi wanita yang berkelas, sehingga tidak akan ada satu orang lain pun yang akan berani kepadamu lagi."
__ADS_1