Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Di Rumah Al


__ADS_3

Mula-mula Angel merasa sangat malu tatkala Ranum memintanya untuk ikut pulang bersama ibunya Agna itu.


"Tante tidak apa-apa, hanya untuk malam ini saja karena besok pagi Mas Al akan membeli rumah untuk tante dan kak Bianca," kata Ranum sambil membukakan pintu mobil untuk wanita yang dulu sangat jahat pada dirinya itu. Namun, tidak ada niat sedikitpun wanita itu membalas perlakuan ibu tirinya itu.


Sehingga membuat Al sebagai suaminya merasa kalau Ranum, wanita yang luar biasa karena sangat jarang sekali ada orang sebaik ibunya Agna itu di muka bumi ini.


"Ayo tante dan kak Bianca masuk, karena sepertinya malam ini mau turun hujan, dapat dilihat dari langit yang tidak ada bintang dan bulannya," ujar Ranum. Dan tampak terlihat sangat jelas sekali kalau wanita itu begitu tulus dalam menolong Angel dan Bianca. Wanita itu juga tidak mengharapkan apa-apa, kecuali apa yang di lakukan ini dapat ditiru oleh dua wanita yang saat ini terlihat sudah masuk ke dalam mobil.


Sedangkan Al yang melihat Ranum akan masuk dengan segera membuka pintu untuk sang istri sambil berkata, "Silahkan masuk Tuan putri." Al terkeh-kekeh ketika ia mengatakan itu.


"Ish, Mas, aku ini malu," gumam Ranum pelan. Karena wanita itu takut jika Angel dan Bianca mendengar kalimat candaan sang suami saat ini. "Ayo Mas, sebelum Agna mulai merasa bosan melihat tingkah laku pasangan suami istri itu."


"Siap Tuan putri," celetuk Al menimpali sang istri. Laki-laki itu lalu terlihat bergegas juga ikut masuk ke dalam mobil. Sebab pvkvl sudah menunjukkan 23:10, membuat Al merasa harus cepat-cepat sampai di rumah, karena ia merasa Agna pasti saat ini tidak bisa tidur nyenyak di rumah Bagas dan Sonia.


Hening beberapa saat, hingga detik berikutnya Ranum kini terdengar membuka suara.


"Kak Bianca dan tante bisa ganti baju di rumah nanti ya, karena kebetulan tadi aku dan Mas Al sempat membeli beberapa baju, semoga saja tante dan kak Bianca suka dengan baju yang aku beli dan juga semoga ukurannya pas."


"Terima kasih Ranum, tante benar-benar merasa malu pada dirimu, karena kamu mau menolong tante dan Bianca. Padahal dulu tante sangat ja–" Kalimat Angel menggantung di udara karena Ranum dengan cepat memotongnya.


"Sudahlah tante, jangan ingat yang dulu. Kita semua hanya manusia biasa yang tidak luput dari salah dan kata dosa." Ranum terlihat menoleh ke belakang dimana Angel sedang memeluk Bianca yang sedang menangis karena gadis itu merasa senang kalau Angel, sang ibu benar-benar sudah dibebaskan.

__ADS_1


*


Setiba di rumah sederhana Al, Bianca dan Angel langsung saja keluar dari dalam mobil. Kedua wanita itu terlihat heran karena rumah Al terletak jauh dari ibu kota serta terlihat hanya ada beberapa rumah di desa terpencil itu.


"Kamu ajak mereka masuk dulu, karena aku mau mengambil Agna dulu," kata Al ketika laki-laki itu membuka pintu mobil untuk sang istri. "Jangan lupa juga bawa paper bag itu, dan langsung saja berikan pada mereka," lanjut Al yang kemudian berjalan menuju ke rumah Bagas. Karena laki-laki itu ingin mengambil putri kecilnya.


Ranum tadi sempat mengangguk ketika sang suami mengatakan itu.


"Maaf tante, kak Bianca, rumah Mas Al sederhana seperti ini, tidak apa kan, kalau tente malam ini beristirahat di sini?" tanya Ranum ingin memastikan. "Hm, kalau tante sama kak Bianca merasa tidak nyaman, biar aku menyuruh Mas Al membawa tante ke hotel saja."


"Tidak usah Ranum, ini juga tante sudah merasa senang," timpal Angel yang semakin merasa tidak enak hati dengan kebaikan Ranum. "Justru tante merasa, kalau tante sama Bianca cuma ngerepotin kamu saja Ranum," sambung Angel.


"Iya benar, kami berdua hanya merepotkan kamu Ranum," kata Bianca yang ikut-ikutan merasa tidak enak hati.


***


Pagi menjelang, Ranum terlihat sedang sibuk di dapur bersama Imah sedang membuat sarapan di pagi ini.


"Tinggal satu lagi Bi, tolong buatkan tante Angel sambal udangnya, karena itu kesukaan tante," ucap Ranum memberitahu asisten rumah tangganya itu. "Bibi tidak apa-apa 'kan, aku tinggal dulu sebentar?"


"Silahkan Nyonya, dan terima kasih karena Anda sudah membantu saya untuk memasak."

__ADS_1


"Bi Imah, selalu saja berterima kasih, kayak sama orang lain saja," balas Ranum menimpali. "Oh ya, jangan pedes-pedes ya, Bi sambal udangnya karena tante Angel tidak bisa makan yang pedas-pedas," sambung Ranum sebelum wanita itu pergi dari dapur itu.


Dan tidak lama setelah Ranum pergi Angel dan Bianca terlihat datang ke dapur. Mereka berdua berniat ingin membantu Imah untuk memasak.


"Selamat pagi Bi, apa ada yang bisa kami berdua bantu?" tanya Angel yang berusaha beramah tamah dengan imah.


"Nyonya, semuanya sudah matang tinggal sambal udangnya saja yang belum," jawab Imah dengan bibir yang tersenyum. "Dan Nyonya lebih baik, duduk saja di ruang makan, karena sebentar lagi pvkvl 07:23, jam sarapan Tuan Al dan Nyonya Rabum."


"Boleh kami bantu cuci piring saja?" Bianca malah menawarkan diri untuk mencuci piring.


Imah menggeleng tanda tidak setuju. "Non lebih baik duduk santai saja di sofa, karena ini semua pekerjaan saya." Senyum di bibir wanita paruh baya itu tidak memudar sama sekali. "Sana gih, nanti Nyonya Ranum bisa potong gaji saya kalau tahu Anda mau membantu saya untuk mencuci piring," seloroh Imah bercanda.


***


"Mas," panggil Ranum ketika ia melihat sang suami yang sedang memandikan putri mereka. "Sini biar aku saja yang mandiin Agna, Mas sekarang lebih baik mandi saja, biar kita bisa sarapan bersama-sama," ujar Ranum yang mendekati sang suami.


"Bagaimana kalau kita mandi bersama?" celetuk Al bertanya pada sang istri. Karena laki-laki itu sangat suka sekali melihat pipi Ranum yang merah seperti kepiting rebus. "Sekarang ya, selesai aku mandiin Agna, setelah itu aku akan titip Agna sebentar sama Bagas, kebetulan aku tadi sempat menghubungi Bagas dan Sonia untuk datang ke sini supaya kita bisa sarapan bersama-sama," lanjut Al.


Ranum menggeleng sambil mengulum senyum. "Apa yang tadi malam belum cukup, Mas?" tanya Ranum yang saat ini sedang berdiri di dekat pintu kamar mandi.


"Belum, karena adiknya Agna belum jadi," jawab Al begitu santai. Sambil memasangkan handuk untuk bayi 8 bulan itu. "Apa jawabanku yang tadi membuatmu puas?"

__ADS_1


"Tidak, karena Agna masih sangat kecil untuk mempunyai adik." Ranum menjawab pertanyaan sang suami. Sambil mengambil Agna dari tangan Al. "Sana mandi, jangan bahas masalah anak lagi," ucap Ranum yang kembali menyuruh sang suami untuk mandi. "Aku mau pakaikan baju untuk Agna dulu."


"Aku tunggu, pokoknya kita mandi bareng, kalau tidak mau maka aku juga tidak akan mandi," ujar Al.


__ADS_2