
Ranum begitu kaget ketika melihat Al sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Pria itu semakin terlihat gagah meskipun 4 bulan lamanya di rumah sakit.
"Aku pulang, tidakkah kamu menyambut suamimu ini?" Al menaik turunkan alisnya ketika melihat Ranum hanya bisa mematung, sambil menyunggingkan senyum simpul laki-laki itu juga sangat senang melihat tubuh Ranum yang sudah mulai sedikit berisi.
"Tu-Tuan Al," panggil Ranum gugup. "Ba-bagaimana bi-bisa … An-Anda pulang?" tanya Ranum terbata-bata karena gadis itu sama sekali tidak mendapat imformasi dari Bagas maupan Sonia kalau suaminya itu sudah di perbolehkan untuk pulang.
"Jangan kaget begitu, aku bukan orang jahat seperti ibu tirimu." Al rupanya memilih mengalihkan topik pembicaraan dari pada menjawab pertanyaan sang istri. "Bagaimana kabarmu, apa kamu dan bayimu baik-baik saja?" Al bertanya sambil melihat perut Ranum yang sudah mulai membuncit.
Ranum yang di tanya hanya bisa mengangguk sambil mudur bebrapa langkah karena gadis itu sangat takut kalau sampai Al melukainya mengigat cerita Bagas kalau Al waktu itu ingin membvnvh Morea.
"Hai, kenapa kamu mundur? Apa jangan-jangan kamu tidak suka melihatku pulang?" Al yang melihat Ranum mundur semakin melangkahkan kakinya untuk mendekati gadis yang sedang ketakutan itu.
"Bukan begitu Tu-Tuan, tapi … ."
"Tapi kamu takut kalau aku akan melukaimu? Begitu?" Al rupanya sangat cepat menebak apa yang sedang ada di dalam pikiran Ranum saat ini. "Ranum, aku sudah sembuh, jadi jangan takut kepadaku," sambung Al yang tahu istrinya takut kepadanya.
Setelah mendengar itu Ranum tidak mundur lagi. Sekarang terlihat gadis itu menatap Al sehingga empat netra indah itu saling melempar pandangan satu sama lain.
"Boleh aku minta buatkan aku teh, karena entah mengapa aku sangat merindukan teh buatanmu," ucap Al secara tiba-tiba. "Tapi, jika kamu tidak mau tidak apa-apa. Jadi, aku tidak usah minum teh saja."
Ranum meremas ujung baju yang ia kenakan karena gadis itu tidak menyetok teh lagi setelah Al di rawat di rumah sakit waktu itu. Jadi, gadis itu tidak tahu harus menjawab Al apa karena di rumah itu benar-benar tidak ada teh sama sekali.
Rupanya setelah kejadian itu Bagas membeli sebuah rumah elit yang ada di perbatasan kota buat Ranum tempati atas permintaan Anggun. Dan Al bisa tahu rumah itu karena Bagas sendiri yang memberitahunya.
__ADS_1
"Tu-Tuan, maukah Anda menemaniku untuk membeli beberapa kotak teh?" Ranum menunduk ketika ia bertanya begitu.
Karena Ranum tidak yakin kalau Al akan mau menemaninya tapi di luar dugaan Ranum, laki-laki itu malah mengajaknya ke mini market yang paling dekat dengan perumahan elit itu.
"Pakai saja switermu, supaya kamu tidak kedinginan karena kita akan pergi membeli beberapa kotak teh," kata Al sambil mendekati Ranum. "Dimana kunci motorku? Dan tidak apa-apakan kita pergi pakai motor saja?"
Ranum tiba-tiba saja mengingat kalau Bagas membawa motor yang di maksud oleh Al ini satu minggu yang lalu, dan Bagas juga sempat memberitahunya kalau itu motor Al yang di ambil dari rumah utama.
"Semua kunci ada di dalam kamar itu Tuan, jadi Anda bisa mencarinya di sana," jawab Ranum dengan tangan yang menunjuk sebuah kamar yang sangat jarang ia masuki.
"Baiklah, aku akan mengambil kuncinya dan kamu bersiap-siaplah."
***
Jantung Ranum berdetak tidak beraturan ketika Al menyuruhnya memeluk tubuh laki-laki itu dari belang.
"Tuan Al, Anda kan, tidak ngebut dari tadi jadi aku tidak usah berpengangan saja," kata Ranum yang memang benar Al membawa motornya dengan sangat pelan sekali.
"Pegangan saja, aku lebih suka ngebut pas ramai, karena saat ini aku merasa sedang menantang maut," sahut Al membalas ucapan Ranum. "Jadi, pegangan yang kuat jika kamu mau merasan sensasi yang berbeda."
"Tuan, aku masih mau hidup jadi aku harap Anda jangan pernah mengajakku untuk menantang maut!" seru Ranum yang merasa Al sepertinya sengaja ingin membuat dirinya jantungan. "Hati-hati saja yang penting kita selamat sampai tujuan, jangan ngebut-ngebut kasihan anak kita yang di dalam perutku jadi ikutan takut."
Al yang mendengar itu langsung menghentikan motornya secara mendadak di pinggir jalan raya yang hanya di lalui beberapa motor yang berlalu lalang. "Apa itu benar-benar darah dagingku?"
__ADS_1
"Apa Anda meragukannya?" Bukannya menjawab Ranum malah bertanya balik.
"Bukan ragu aku hanya tidak yakin." Al menjawab dengan perasaan yang tidak karuan.
"Kata Ragu dan kata tidak yakin itu suatu hal yang berbeda Tuan."
"Sudahlah, jangan di bahas lagi, aku akan melakukan tes DNA demi mengetahui kebenarannya."
*
Setiba di mini market Al menyuruh Ranum membeli beberapa cemilan untuk di taruh di rumah mereka. "Ambil apa saja, aku tunggu di sana saja." Setelah mengatakan itu Al berjalan menjauh meninggalkan Ranum yang sedang memilih-milih makanan ringan dan beberpa bungkus roti. "Jangan lama-lama karena sebentar lagi mini market ini pasti di tutup!" seru Al sebelum benar-benar menghilang dari pandangn Ranum.
Beberapa menit berlalu ketika Ranum akan mengambil susu full cerem detik itu juga suara seseorang yang sangat pamiliar mengusik indra pendengarannya.
"Gembel bisa belanja di mini market rupanya, dapat duit dari om-om yang perutnya buncit 'kan? Sama seperti perutmu saat ini yang mengandung anak h@ram!" Bianca tertawa mengejek.
"Kak Bianca," panggil Ranum pelan.
"Sorry, aku tidak punya adik gembel sepertimu, jadi jangan pernah memanggilku dengan sebutan kakak karena aku memang bukan kakakmu!" ketus Bianca.
Andai saja Ranum tidak memiliki stok sabar mungkin Bianca sudah ia lawan. Akan tetapi Ranum sadar diri bahwa dirinya bukan siapa-siapa yang tidak berhak melawan bagaimanapun Bianca akan melukai perasaanya karena kata-kata Rita, ibunya selalu saja ia pegang teguh.
"Sabar memang menyakitkan Ranum, tapi percayalah buah dari kesabaran akan membuahkan hasil dimana kelak derajatmu akan di angkat hanya karena kesabaranmu dalam menghadapi ujian dalam kehidupan ini. Tetaplah merendah dan tetaplah bungkam meski orang lain berlomba-lomba melukai perasaanmu, karena Allah menyayangi hambanya yang tidak memiliki batas kesabaran."
__ADS_1
"Sok-sokan belanja di sini padahal tidak punya dui—" Kalimat Bianca terputus gara-gara seseorang memotongnya.
"Kamulah yang tidak punya duit! Hasil minta kepada orang tua saja di bangga-banggakan!"