
"Ma, ambilkan aku air mimum," kata Rudy yang kini sudah terbaring lemah di atas ranjang sudah satu bulan ini karena Rudy telah mengalami kecelakaan tunggal di jalan raya ketika laki-laki itu akan berangkat bekerja seperti hari-hari sebelumnya.
"Mas bisa ambil sendiri, mama lagi sibuk membaca koran," sahut Angel yang tidak mau mengambilkan Rudy segelas air. "Jangan manja Mas, kalau Mas terus-terusan begini siapa yang akan bekerja nanti untuk mengurus perusahaan. Mas tahu sendiri aku tidak berbakat di bidang apapun oleh sebab itu aku memberikan Mas kepercayaan itu."
"Ma, kalau aku sudah sembuh pasti akan segera masuk ke kantor lagi untuk bekerja tapi untuk saat ini aku nelum bisa. Karena mama bisa lihat sendiri, Mas mengambil segelas air minum saja belum bisa," ucap Rudy lirih. Dan tiba-tiba saja bayangan Rita dan Ranum menari-nari di pelupuk matanya. Ketika ia sakit begini Rita, wanita paruh baya itu akan selalu setia untuk menemaninya dan selalu melayani kebutuahannya. Tak lama Rudy kemudian mengingat kilas balik bebaerapa tahun yang lalu ketika Ranum masih duduk di bangku sekolah dasar.
πππ
"Bu, Ayah sakit sepertinya tidak bisa bekerja hari ini," kata Rudy memberitahu Rita.
"Iya tidak apa-apa Ayah, istirahat saja semoga besok Ayah kembali sehat lagi seperti sedia kala, untuk sekarang biarkan Ibu saja yang pergi mencari rongsokan dulu, karena Ibu lihat beras di dapur sudah habis." Rita kemudian menuntun Rudy untuk masuk ke dalam kamar yang hanya beralaskan tikar yang sudah sobek di lapisi dengan koran dan kardus. "Ayah kalau butuh sesutu pangil saja Ranum. Kebetulan hari ini anak kita itu libur karena hari Minggu."
"Baik Bu, tapi sebelum itu Ayah lapar dan haus." Rudy terlihat menunjuk leher dan perutnya.
"Ayah yang sabar ya, Ibu akan segera pulang dan membawa sarapan untuk Ayah dan Ranum." Meski Rita tidak yakin akan pulang membawa makakan tapi wanita itu harus bisa meyakinkan suaminya. "Ayah minum saja dulu, nanti makanannya memyusul belakangan." Dengan sekuat tenaga Rita menahan rasa sesak di dadanya yang pasti sebentar lagi rasa sesak itu akan berubah menjadi butiran bening. "Ayah yang sabar ya, suatu hari nanti pasti Ayah akan bisa makan makanan apa saja yang Ayah inginkan. Dan Ayah juga akan tidur di tampat yang sangat mewah. Tidak seperti ini lagi."
"Bu, jangan terlalu berharap hal yang tidak pasti." Rudy membalas ucapan Rita.
"Kita kan, tidak pernah tahu bagaimana nasip kita kedepannya Ayah. Sekarang kita susah begini tapi suatu hari nanti kita akan bisa hidup berkercukupan meski tidak kaya," timpal Rita.
"Semoga saja Bu, mungkin roda kehidupan pada kita macet, oleh sebab itu kita terus susah begini," celetuk Rudy dengan nafas yang sudah mulai terputus-putus. Karena laki-laki itu susah untuk bernafas.
__ADS_1
"Ibu berangkat dulu, Ayah tidur saja. Nanti kalau Ibu pulang baru bangun."
****
"Alhmdulillah, uang hasil jualan rongsokan tadi bisa buat beli dua nasi bungkus dan setengah kilo beras." Rita terlihat begitu senang. Karena telah berhasil membawa pulang dua nasi bungkus. "Satu untuk Ayah dan satu lagi untukku berdua dengan Ranum," lanjutnya lagi sambil berjalan menuju kamar dimana tempat Rudy sekarang berbaring. Akan tetapi ketika Rita akan sampi di kamar itu ia malah melihat Ranum sedang menyuapi Rudy. Membuat langkah kaki wanita itu terhenti di ambang pintu sambil bersembunyi.
"Apa Ayah sudah kenyang?" tanya Ranum ketika suapan terakhir masuk kemulut sang ayah.
Rudy mengangguk. "Terima kasih Ranum, karena kamu sudah memberikan ayah sepotong ubi yang kamu masak sampai perut Ayah sudah kenyang begini," kata Rudy yang kini terlihat sedang mengelus-ngelus rambut putrinya dengan penuh rasa sayang.
"Ranum senang, mendengarnya kalau Ayah sudah kenyang." Bibir Ranum tersenyum sambil memberikan Rudy segelas air. "Ayah minum dulu supaya tenggorkan Ayah tidak seret."
Ranum menunjuk ke arah belakang gubuk reotnya itu. "Ibu yang telah menanam ubinya tiga bulan yang lalu Yah, hanya ada beberapa batang saja yang sekarang tubuh subur, dan daunnya juga sering Ibu petik buat di jadikan lauk. Tapi sekarang sudah aku cabut satu jadi tanaman ubi Ibu menjadi berkuarang."
"Tidak apa-apa nanti Ibu pasti akan menanamnya lagi dan tidak akan memarahimu." Rudy pikir Ranum takut karena sudah mencabut ubi jalar itu. "Nanti biar Ayah yang akan mengatakan ini kepada Ibu. Sekarang kamu tidur saja nanti kalau Ibu pulang baru Ranum bangun."
"Aku mau menunggu Ibu saja Ayah, karena kata Ibu hari ini kita akan makan enak."
Mendengar itu Rita yang dari tadi bersembunyi segera mengusap air mata dan segera masuk untuk menghempiri Rudy dan Ranum.
"Maaf, karena Ibu pulang sore begini," ucap Rita yang membawa dua keresek. Dengan isi satu keresek beras dan satu lagi berisi nasi bungkus.
__ADS_1
Ranum sepontan bersorak kegirangan. "Hore, Ibu sudah pulang Ayah. Hore! Kita akan bisa makan enak." Ranum berlompat-lompat tanda gadis itu senang. "Malam ini aku akan makan nasi bungkus, ye, ye, ye β¦."
"Ranum, sekarang kamu ambil piring, kita makan sama-sama," ujar Rita.
"Ibu saja yang makan dan Ranum kalau Ayah sudah kenyang." Rudy mengangkat bajunya untuk memperlihatkan perutnya yang sudah hampir meledak padahal isinya hanya air dan sepotong ubi jalar.
"Yah, aku mau kita makan bersama-sama, tapi kalau Ayah sudah kenyang. Nanti saja deh, kita tunggu Ayah lapar lagi, ya Bu," seloroh Ranum. Yang berhasil menggundang gelak tawa dari Rudy dan Rita.
****
Di tengah malam Rudy tiba-tiba saja terbangun karena ia haus. "Bu, Ayah haus."
Rita langsung membuka mata ketika mendengar sang suami yang mau minum. "Ayah, tunggu sebentar Ibu ambil air dulu. Karena air di dalam botol itu sudah habis." Rita lalu bangun dari tidurnya sambil menatap Rudy dengan bibir yang selalu tersenyum. Meskipun ini yang sudah ke lima kalinya Rudy terbangun karena mau minum.
"Maafkan Ayah karena sudah mengganggu sistirahat Ibu."
"Itu kewajiban Ibu untuk melayani Ayah, apa lagi saat ini Ayah 'kan sedang sakit. Jadi, Ayah tidak usah merasa sungkan-sungkan dengan Ibu," sahut Rita sebelum wanita itu pergi ke dapur untuk mengambil air. "Apa Ayah lapar juga?"
"Tidak Bu, Ayah cuma haus," jawab Rudy sambil terus memperhatikan Rita. "Sekali lagi Ayah minta maaf telah merepotkan Ibu."
"Tidak ada yang namanya suami merepotkan istri, apa lagi ketika sang suami sakit." Rita menimpali Rudy.
__ADS_1