
Ranum mencengkram baju Al ketika laki-laki itu akan membiarkannya sendiri di bawa oleh beberapa perawat untuk melakukan pemeriksaan.
"Aku takut Tuan, tolong temani aku," ucap Ranum lirih.
"Aku tidak bisa ikut masuk," tolak Al, sebab laki-laki itu tidak sanggup melihat Ranum dalam keadaan begini. "Semua akan baik-baik saja, kamu hanya akan diperiksa. Jadi, tenanglah." Al lalu melepaskan cengkraman tangan Ranum dari bajunya. "Semua akan baik-baik saja, Oke!" Al terlihat mengangguk dan meminta perawat itu untuk segera membawa Ranum ke ruang pemeriksaan.
"Tuan Al," panggil Ranum sambil menggeleng kuat karena gadis itu sangat takut.
"Tidak akan ada yang terjadi, tolong tenangkan pikiranmu dulu," ucap Al sebelum Ranum benar-benar dibawa masuk ke dalam ruang pemeriksaan.
Tepat setelah Ranum di bawa pergi terlihat Sona dan Bagas berlari menghampiri Al.
"Tuan, apa Ranum akan melahirkan?" tanya Bagas dengan nafas ngos-ngosan karena laki-laki itu tadi berlari mulai dari parkiran hingga di tempat Al yang masih saja berdiri saat ini. "Tuan, apa Ranum akan melahirkan?" tanya laki-laki itu bertanya sekali lagi.
"Usia kehamilannya baru 7 bulan, Bagas. Mana mungkin Ranum akan melahirkan," jawab Sonia dengan nafas yang juga ngos-ngosan karena tadi gadis itu ikut berlari. Ia menjawab karena melihat Al hanya diam saja. "Tapi … ada juga yang melahirkan di usia kandungannya 7 bulan," sambung Sonia, sehingga membuat Al menatapnya.
"Apa benar yang kamu katakan itu?" tanya Al tanpa menghiraukan Bagas.
"Iya, Tuan karena menurut artikel yang sering aku baca, gadis yang hamil saat umurnya masih muda bisa melahirkan di usia 7 bulan. Penyebabnya hanya satu yaitu faktor usia yang masih sangat muda apalagi umur Ranum saat ini 18 tahun." Meski Sonia sedikit gesrek tapi gadis itu sedikit tahu tentang masalah seperti ini. "Mengingat juga, dulu kandungan Ranum sangat lemah," sambung Sonia.
"Semoga saja Ranum tidak melahirkan sekarang," kata Al setelah mendengar penjelasan Sonia. "Aku berharap calon bayi yang ada di rahim Ranum kuat, sehingga bayi itu akan lahir tepat pada bulannya bukan sekarang," ucap Al penuh harap.
Bagas menepuk bahu Al. "Teruslah berdoa Tuan, semoga doa Anda didengar, karena doa seorang suami sangat cepat dikabulkan."
__ADS_1
Al menatap Bagas. "Aku dari tadi berdoa Bagas, bukan ceramah," celetus Al yang mengira Bagas hanya menganggapnya ngomong tidak jelas dari tadi. "Kamu juga, jangan hanya mengingatkan aku saja. Tolong berdoalah supaya Ranum hanya mengalami kontraksi palsu saja," ujar Al.
"Saya berdoa di dalam benak Tuan, karena tidak mungkin saya berdoa sampai membawa toa ke rumah sakit ini," timpal Bagas dengan santainya.
"Kamu sama Tuan Al ternyata sama saja," sahut Sonia berbisik di telinga Bagas, ketika mendengar percakapan Bagas dan Al. "Sama-sama tidak mau kalah dalam hal apapun."
"Kamu juga berdoa Sonia, karena gadis sepertimu doanya juga cepat di kabulkan," balas Bagas.
***
Anggun yang mendapat kabar dari Al dengan cepat ingin pergi ke rumah sakit, namun siapa sangka ketika ia akan masuk ke dalam dalam mobil Daniel malah menghalangi wanita paruh baya itu.
"Mama jangan pergi," ucap Daniel yang juga baru turun dari mobil.
"Dia cuma mengalami kontraksi palsu, sebab usia kandungannya baru saja 7 bulan." Daniel masih saja betah menghalangi Anggun agar wanita paruh baya itu tidak pergi ke rumah sakit. "Lebih baik Mama masuk saja ke dalam, karena jalan yang menuju rumah sakit sedang mengalami kemacetan gara-gara pohon tumbang."
"Aku hanya ingin pergi melihat keadaan Ranum, kenapa Papa takut sekali?" tanya Anggun yang merasa aneh dengan sikap Daniel.
"Gadis itu baik-baik saja, jadi Mama tidak perlu mengkhawatirkan dia. Dan seperti kata Papa tadi dia cuma mengalami kontraksi palsu," jawab Daniel yang sebenarnya saat ini laki-laki paruh baya itu takut jika Al memberitahu Anggun tentang Morea yang menjadi direktur utama di perusahaan Ezza Fashion. Membuat Daniel harus melakukan apa saja untuk saat ini supaya Anggun dan Al tidak bertemu dulu, sebab perusahaan Ezza Fashion itu masih atas nama Anggun sebagai pemiliknya.
"Papa jangan aneh-aneh, Ranum itu saat ini sedang mengandung pewaris keluarga kita ini. Jadi, jika sesuatu terjadi padanya maka kita yang akan rugi," balas Anggun menimpali.
"Morea juga sedang mengandung pewaris di keluarga kita Ma, maka dari itu Mama tidak perlu berlebihan mengkhawatirkan Ranum."
__ADS_1
Anggun menggeleng. "Aku akan tetap pergi." Setelah mengatakan itu Anggun masuk ke dalam mobil dan menyuruh sopirnya untuk menjalankan mobil itu.
"Gawat, Anggun akan tahu," batin Daniel. Yang tiba-tiba saja merasa takut.
*
Setiba di rumah sakit, Anggun dengan cepat menuju ke tempat Al saat ini berada. Wanita paruh baya itu tidak putus-putusnya berdoa atas kesehatan Ranum dan calon cucunya. "Semoga Ranum, dan calon cucuku tidak apa-apa, Ya Tuhan lindungilah mereka," ucap Anggun.
"Tante," panggil seseorang tiba-tiba dari arah samping.
Anggun terdiam sebelum menoleh ke arah sumber suara. "Ry, kenapa kamu bisa ada di sini? Bukankah kamu ikut dengan mamamu ke Vietnam?" tanya Anggun, yang ternyata rupanya masih ada hubungan kekerabatan dengan kedua orang tua Ryder.
"Papa saat ini sedang dirawat disini Tante, oleh sebab itu aku kembali lagi kesini dan aku baru sore tadi sampai Jakarta," jawab Ryder. "Kalau Tante kenapa bisa ada di sini?"
"Menantu Tante, saat ini dirawat di sini juga." Dan pada saat itu juga Anggun dan Ryder mengobrol. Tapi tidak lama Al malah datang.
"Mama, kenal dengan dia?"
Anggun yang mendengar Al bertanya seperti itu, langsung saja memperkenalkan Ryder. "Al, kenalkan ini Ryder, dulu mama dan papanya pernah membantu Mama saat dulu Mama sedang dalam keadaan terpuruk." Anggun menceritakan itu dengan sudut mata yang mulai berair. "Mungkin kalau tidak ada kedua orang tua Ry, Mama dan Papa tidak akan menjadi seperti sekarang ini," sambung Anggun.
"Kenalkan Om, aku Ryder," kata Ryder sambil mengulurkan tangan.
"Aku Al," balas Al tanpa mau meraih tangan Ryder. "Maaf, aku tidak punya waktu untuk berlama-lama disini."
__ADS_1
Anggun yang mendenger serta melihat tingkah laku Al merasa aneh, karena tidak biasa Al berbicara datar seperti ini kepada orang baru.