Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 48


__ADS_3

"Lho, Mama nggak jadi pergi?" tanya Al ketika melihat Anggun masih di kamar rawat inap Ranum.


"Kata Papamu, dia bilang besok saja karena katanya dia ada kerjaan mendadak di kantor," jawab Anggun sambil mengupaskan buah apel untuk Ranum.


Al mengepalkan tangannya dengan kuat di bawah sana bersamaan dengan itu rahang laki-laki itu mengeras. "Kurang ajar! Rupanya tua bangka itu rela membatalkan rencananya untuk pergi bersama Mama gara-gara Morea! Dan saat ini mereka sedang asik berduaan, ini tidak bisa dibiarkan!" geram Al di dalam benaknya.


Ranum yang menyadari mimik wajah Al berubah menjadi sedikit takut karena mengingat ketika Rudy marah wajah ayahnya itu juga hampir sama seperti ekspresi wajah Al saat ini. "Kenapa wajah Tuan Al berubah? Ketika mendengar kalau papanya membatalkan rencana untuk membawa mama Anggun pergi ke suatu tempat," gumam Ranum di dalam benaknya.


"Apa kamu bisa antar Mama pulang?" Anggun yang merasa sudah terlalu lama pergi dari rumah utama wanita itu sekarang ingin pulang saja. Karena ia juga sudah sangat puas seharian bersama dengan Ranum bercerita tentang Al sewaktu masih kecil hingga laki-laki itu beranjak dewasa. "Al, apa kamu bisa antar Mama pulang? Karena Mama takut Papa kamu nanti jadi curiga kalau Mama pulang terlambat, sebab Mama bilang sama Papa kalau sedang ada di rumah temen Mama."


"Bisa Ma, Mama mau diantar kemana saja aku akan siap mengantar Mama. Asal jangan mau ke planet pluto saja, itu tidak akan pernah bisa aku kabulkan," seloroh Al yang berusaha mengajak Anggun bercanda meskipun. Di dalam benak laki-laki itu ingin sekali memberi pelajaran ke sang ayah untuk saat ini karena telah berani mempermainkan perasaan Anggun, wanita yang sangat tulus mencintai laki-laki seperti Daniel. "Ayo Ma, nanti keburu malam," ajak Al.


"Iya, Al. Tunggu dulu Mama potong buah apelnya kecil-kecil dulu, supaya Ranum bisa langsung memakannya." Anggun rupanya benar-benar menerima Ranum sebagai istri Al. Meskipun wanita itu baru saja mengenal gadis itu, dapat dilihat dari hal kecil pun seperti ini wanita paruh baya itu sangat perhatian dengan Ranum sehingga rela mengupas apel satu-persatu hanya untuk Ranum. "Sering-sering makan buah-buahan dan makanan yang banyak mengandung zat besi agar calon cucu mama sehat-sehat di dalam sini." Sambil meletakkan spring apel yang sudah dipotong-potong di paha Ranum. Anggun mengelus-ngelus perut gadis itu sambil berkata, "Sehat-segar calon cucu Nenek, sampai kamu keluar nanti. Nenek berharap kamu laki-laki supaya papa kamu ada temannya." Anggun melihat mata Ranum yang sudah mulai ada genangan air mata.


"Jangan sedih, bumil dilarang sedih karena dedek bayi yang ada di dalam sini juga bisa ikut bersedih." Tangan wanita itu terulur dan menarik kedua sudut bibir Ranum sehingga senyum simpul terukir. "Nah, kalau begini kamu semakin cantik, dan pantesan saja Al bisa jatuh hati kepadamu, orang kamu diam saja tetap cantik apalagi kalau senyum bisa buat Al pingsan kali."


"Mama, ayo!" seru Al yang sudah berdiri di ambang pintu.

__ADS_1


Anggun menoleh ke arah pintu. "Iya, kamu duluan saja nanti Mama nyusul kamu belakangan."


"Mama ini bagaimana sih, tadi minta aku untuk mengantar Mama pulang sekarang Mama malah suruh aku duluan."


"Mama mau pamitan dulu sama Ranum, kalau kamu mau nunggu Mama kamu berdiri saja di sana." Anggun lalu kembali lagi menatap Ranum. "Mama, pulang dulu sayang, besok kalau ada waktu luang mama pasti akan datang lagi kesini." Anggun mencium kening Ranum sebagai tanda permintaannya. "Jaga calon cucu mama baik-baik, karena kelak dia yang akan membahagiakan kamu dan juga Al. Seperti Al yang saat ini telah membahagiakan mama dan papa."


*


"Mama harus janji untuk tidak akan menceritakan ini semua kepada Papa," kata Al sambil tetap fokus menyetir.


"Al, Papa kamu harus tahu kalau kamu sudah menikah meskipun kamu menikahi anak orang yang masih di bawah umur. Hanya karena Ranum mengandung darah dagingmu." Anggun ternyata berniat ingin memberitahu Daniel tentang Al yang sudah menikah. "Mama yakin, jika Papa kamu sudah tahu pasti Papa kamu tidak akan lagi menyuruh kamu kembali sama Morea."


Anggun ingin merahasiakan pernikahan Al dengan Ranum karena Anggun belum tahu watak serta karakter Ranum, akan tetapi setelah ia memperhatikan gerak-gerik Ranum ternyata gadis itu benar-benar baik sehingga membuat Anggun yakin kalau pasti Daniel juga akan bisa menerima Ranum sebagai menantu mereka. "Al, mau sampai kapan kamu akan menyembunyikan Ranum dari Papa kamu?"


"Aku tidak tahu entah sampai kapan itu Ma, intinya Mama tunggu saja aku pasti akan mempublikasikan Ranum sendiri dan pada saat itu juga, aku akan mengadakan pesta besar-besaran."


"Kamu tidak sedang membohongi Mama 'kan Al? Supaya Mama tidak jadi memberi tahu Papa kamu."

__ADS_1


"Pantang bagiku untuk berbohong Ma. Jadi, jangan pernah meragukan anak Mama ini." Al menoleh ke arah Anggun. "Percaya sama aku, Ma."


"Baiklah, Mama akan benar-benar merahasiakan ini dari Papa kamu." Pada akhirnya Anggun setuju untuk merahasiakan pernikahan Al dan Ranum.


***


"Apa Nyonya besar sudah pulang?" Bagas dan Sonia yang baru datang bertanya secara serempak kepada Ranum yang sedang mengunyah buah apel yang tadi di kupaskan oleh Anggun.


Ranum mengangguk karena gadis itu benar-benar tidak mau membuka suara. Ia juga kini mulai terlihat memakan buah apel itu lagi sambil terus menunduk.


"Perasaan tadi, pas sama Nyonya Anggun kayaknya Ranum ceria banget, nah pas giliran kita dia mulai dingin seperti es batu," bisik Sonia pelan di telinga bagas. "Apa kita berdua terlihat seperti s*tan di mata Ranum?"


Bagas yang mendengar itu menyenggol lengan Sonia. "Daripada kamu bertanya-tanya lebih baik kamu duduk di dekat Ranum dan hibur dia."


"Terus kamu mau kemana?"


"Aku harus pergi dulu, karena ada perintah dari Tuan Al yang harus aku jalankan." Bagas kemudian mendorong Sonia supaya semakin dekat dengan Ranum. "Aku pergi dulu, jaga Ranum baik-baik."

__ADS_1


Setelah Bagas pergi Sonia dengan hati-hati sekali mendekat kearah bed Ranum. "Apa itu di kupaskan oleh mamanya Tuan Al?" tanya Sonia sebagai basa-basi. Karena entah mengapa ia menjadi canggung begini sebab Ranum tidak seceria waktu pertama kali mereka saling kenal.


Ranum lagi-lagi menjawab dengan hanya mengangguk kecil.


__ADS_2