
Sudah dua hari ini Al di Negara A selama itu juga laki-laki yang sudah berstatus menjadi suami Ranum itu tidak pernah menghubungi sang istri. Beda halnya dengan Bagas yang hampir setiap ada waktu luang laki-laki itu akan menghubungi Sonia, kekasih hatinya itu seperti saat ini.
"Apa keadaanmu disana baik-baik saja?" Terdengar suara Bagas yang bertanya di seberang telepon.
"Sangat baik," jawab Sonia singkat.
"Kalau kabar Ranum bagaimana?"
"Ranum juga sudah lebih mendingan, dan mungkin dalam dua hari lagi Ranum sudah akan bisa masuk sekolah seperti sedia kala." Sonia, gadis itu menjawab Bagas tanpa mau menatap layar ponsel yang menampilkan Bagas yang sedang ada di ruang kerjanya.
"Katakan kepada Ranum, kalau Tuan Al tidak ada sempat untuk memegang ponsel makanya Tuan Al tidak pernah menghubunginya karena disini kami berdua sangatlah sibuk, hanya karena supaya kita cepat kembali ke Indonesia."
"Bilang saja kamu senang berlama-lama disana, karena pasti ada banyak gadis yang putih mulus dan sangat bening," kata Sonia yang malah berpikiran sampai ke sana. "Hanya sebagai alasan kamu saja yang bilang sibuk-sibuk demi cepat pulang, tapi nyatanya kamu berdoa supaya tugas kamu nggak selesai-selesai." Gadis itu memonyongkan bibirnya lima senti.
"Jangan mulai Sonia, karena memang benar apa yang aku katakan ini. Jadi, jangan berpikiran kalau aku ini telah berbohong." Bagas tidak terima ketika Sonia malah mengatakan itu kepada dirinya. "Sarapan, mandi, dan setelah itu kamu berangkat sekolah jangan kebanyakan bolos terus nanti kamu nggak lulus," ucap Bagas yang melihat ke arah belakang Sonia di mana Ranum sedang duduk sambil terus memegang ponsel baru itu saja. Tiba-tiba saja Bagas jadi kepikiran tentang Ranum yang mungkin saja mau berbicara dengan Al. "Aku tutup dulu ya, teleponnya nanti kalau ada waktu luang nanti aku akan menghubungimu lagi."
"Kebiasaan, aku tuh belum puas mengeluarkan suaraku ini, kamu malah mau memutuskan panggilan saja!" gerutu Sonia yang tidak mau kalau Bagas mengakhiri obrolan mereka di pagi ini.
__ADS_1
"Aku harus kerja supaya bi–"
"Bisa nafkahin kamu, dan calon anak-anak kita nanti," potong Sonia cepat. "Kalimat itu sudah basi karena sudah terlalu sering kamu ucapkan, Bagas!" Sonia memelototi Bagas dari layar ponselnya. "Jangan sampai kita nelpon berjam-jam, hanya untuk membahas masa depan dan pacaran bertahun-tahun tapi pada akhirnya kita berdua sama-sama jagain jodohnya orang, sehingga masa depan yang kita bahas hanya menjadi omong kosong doang. Satu lagi kalau kata si Fajar aku hanya datang sebagai tamu undangan."
Bagas sampai melongo mendengar deretan kalimat-kalimat yang diucapkan oleh bibir tipis Sonia. Gadis yang mampu membuat Bagas bertekuk lutut padanya. "Apa kamu lupa? Bahwa ucapan itu adalah doa?"
"Aku tidak lupa, andai saja aku sudah lelah dengan semua ini! Karena aku sudah ingin tidur sekamar dengan–" ucapan Sonia terputus gara-gara Bagas memutuskan panggilannya secara sepihak. "Dia memang laki-laki yang sangat menyebalkan!"
Ketika Ranum melihat Sonia yang sedang kesal tiba-tiba saja giliran ponselnya yang bergetar dan nama Altezza sebagai pemanggil tertulis jelas di sana. Membuat gadis itu merasa detak jantungnya semakin berdebar-debar. Dengan satu kali geseran Ranum langsung menjawab telepon yang dari Al.
"Selamat pagi, apa kabar kamu di sana?"
"Aku kurang baik, karena jam istirahatku tidak ada," jawab Al di seberang sana.
Ranum tiba-tiba saja terdiam setelah mendengar jawaban Al, karena gadis itu sepertinya tidak tahu lagi harus menanyakan tentang apa lagi.
"Kenapa kamu malah diam? Apa kamu tidak suka aku hubungi dan memberimu kabar?"
__ADS_1
"Bu-bukan be-begiru Tuan, akan tetapi aku tidak tahu harus menanyakan apa lagi. Karena kosa kataku sangatlah terbatas."
"Iya, sudah. Jika tidak ada hal lagi yang akan kamu tanyakan maka, aku akan mengakhiri panggilan ini," kata Al dan suara tutt langsung terdengar.
Ranum hanya bisa menghela nafas lalu membuangnya perlahan melalui hidungnya. "Ceplah pulang, karena aku sudah sangat ingin bertemu dengan, adikku Aish," gumam Ranum pelan.
***
"Selamat pagi Ranum," kata Siska yang selalu saja akan mengucapkan selamat pagi ketika wanita itu baru masuk di kamar Ranum.
"Pagi juga Dokter Siska," jawab Ranum sambil tersenyum melihat Siska yang baru datang.
Siska kemudian berjalan ke arah ranjang Ranum sambil bertanya, "Apa kamu belakangan ini bisa tidur dengan nyenyak? Dan apakah perut kamu tidak terasa nyeri lagi?"
"Iya Dok, tidurku setiap malam selalu nyenyak, dan perutku tidak pernah terasa nyeri lagi."
"Syukurlah, saya sangat senang mendengarnya, karena itu berarti kamu bisa masuk sekolah besok pagi, supaya kamu tidak ketinggalan jauh di setiap mata pelajaran." Siska rupanya tidak tahu kalau Ranum sudah sah menjadi istri Al yang hanya wanita itu tahu. Ranum telah di usir dari rumah Angel karena gadis itu saat ini sedang hamil dan Ranum di tolong oleh Al. Begitu kira-kira yang ada di dalam pemikiran dokter itu.
__ADS_1
"Dok, apakah Anda sudah memberitahu Ayahku kalau aku ada di sini?"
Siska menggeleng. "Tuan Al menyuruh saya merahasiakan ini semua dari siapapun, jadi kamu tidak perlu takut."