Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 38


__ADS_3

Pagi menjelang Ranum sudah akan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah akan tetapi saat dirinya masih sarapan tiba-tiba saja bel pada apartemen itu berbunyi menandakan bahwa ada yang datang. "Siapa yang datang pagi-pagi begini? Apakah itu Sonia yang malah balik lagi karena ponselnya ketinggalan?" Ranum berpikir lagi. "Tidak mungkin Sonia, karena kalau dia pasti sudah langsung masuk mengingat dia juga sudah tahu kode apartemen ini." Benar apa yang dikatakan Ranum bahwa yang ada di luar itu pasti bukan Sonia. "Aku lebih baik membuka pintu itu, siapa tahu itu adalah salah satu cleaning service yang akan membersihkan apartemen ini," kata Ranum yang kemudian beranjak dari sana. Karena gadis itu ingin membuka pintu.


Hanya beberapa detik akhirnya Ranum sampai di depan pintu akan tetapi sebelum ia membuka pintu itu ia sempat mengintip sedikit. Detik itu juga jantung gadis itu berdetak lebih kencang dari yang sebelumnya karena ia melihat Rudy sedang berdiri di sana bersama Angel, ibu tirinya yang jahat itu.


"Kenapa Ayah dan tante Angel ada di sini? Apakah Dokter Siska yang telah memberi tahu mereka?" Ranum bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. Dan tiba-tiba saja dadanya terasa sangat sesak. "Apa ada sesuatu yang terjadi dengan Aish? Oleh sebab itu Ayah mencariku sampai rela datang jauh-jauh ke apartemen Tuan Al?"


Bel terus saja berbunyi akan tetapi Ranum tidak berani untuk membukanya, karena ia takut kalau Rudy akan memarahinya lagi serta menamp*arnya seperti di rumah Angel beberapa minggu yang lalu. "Aku tidak boleh gegabah, karena kata Tuan Al kalau Aish baik-baik saja di rumah tante Angel. " Meski pikiran Ranum hanya tertuju pada adiknya akan tetapi ia berusaha untuk berpikiran hal positif. "Seperti kata Tuan Al juga, kalau ada yang datang selain Sonia dan Dokter Siska, aku tidak boleh membuka pintu. Jadi, aku harus menuruti apa yang telah disampaikan dan yang telah diperintahkan oleh tuan rumah kepadaku." Alhasil Ranum benar-benar tidak membuka pintu itu untuk Rudy dan Angel. Karena gadis itu merasa kalau firasatnya tidak enak jika akan membuka pintu itu.


Setelah hampir 30 menit Ranum menunggu, pada akhirnya Rudy dan Angel pergi juga dari sana. "Syukurlah, Ayah dan tante Angel pergi. Maafkan aku bukan aku tidak mau bertemu dengan kalian akan tetapi karena aku baru sembuh aku takut malah menjadi sakit lagi karena mendengar kalimat-kalimat pedas yang akan Ayah lontarkan kepadaku, serta Tuan Al melarangku untuk menerima tamu siapapun itu termasuk Ayah dan tante Angel yang jahat." Sesaat setelah mengatakan itu tangan Ranum terulur menekan kode untuk membuka pintu itu. Dan ketika pintu itu terbuka rupanya Rudy dan Angel masih ada di sana.


***


"Kapan semua ini akan selesai Bagas? Karena aku sudah merasa bosan berada di sini terus," kata Al yang masih sibuk menggambar beberapa bentuk gaun yang diminta oleh beberapa customer yang menghadiri acara pameran rancangan gaunnya satu hari yang lalu.


"Jika dalam satu Minggu ini Anda selesai membuat kerangka gaun sesuai yang dipesan oleh para costumer itu maka, kita akan bisa langsung pulang Tuan. Jadi, saya harap jangan kebanyakan mengeluh karena mengeluh hanya akan membuat semua pekerjaan yang ringan akan menjadi berat." Bagas laki-laki itu memang selalu saja berkata benar jika dalam mode serius begini. "Lebih baik Anda kerjakan sekarang, karena kalau tugas saya harus mengurus berapa pengeluaran biaya pengiriman semua gaun yang akan di kirim ke sini Tuan. Oleh sebab itu, saya belum bisa membantu Anda."

__ADS_1


Al mendesis kesal karena laki-laki itu benar-benar harus bekerja lebih keras lagi sendirian tanpa bantuan Bagas karena sekretarisnya itu juga saat ini sedang sibuk sama seperti dirinya. "Kalau begitu, keluar dari sini, jangan ganggu aku. Lama-lama kamu mirip dengan Daniel, pria tua yang sungguh sangat menyebalkan itu!"


"Itu ayah Anda Tuan, berarti Tuan besar lebih mirip dengan Anda." Setelah mengatakan itu Bagas langsung berlari karena ia tahu Al pasti akan memarahi dirinya.


"Awas kamu Bagas!!" teriak Al yang merasa menjadi kesal sendiri. "Bisa-bisanya dia menyamakan aku dengan laki-laki yang sangat menjijikkan itu, cuihh! Sungguh aku tidak sudi."


***


"Apa?!" Bagas begitu kaget ketika mendengar kabar dari Sonia kalau Ranum belum pulang sekolah hingga sore menjelang. "Apa kamu sudah mencarinya di sekolahnya?"


"Jangan mikir yang aneh-aneh Sonia, aku yakin Ranum tidak akan mungkin melakukan itu semua. Lebih baik kamu mencarinya ke rumah ayahnya nanti aku kirimkan alamatnya." Entah mengapa tiba-tiba Bagas malah berpikiran kalau Ranum datang kerumah Angel. "Hallo, Sonia apa kamu mendengarku?"


"Kirim saja cepat, supaya aku bisa cepat kesana karena mengingat cuaca pada sore hari ini sangat mendung. Aku takut basah kuyup sebab aku tidak membawa jas hujan."


"Aku putuskan panggilannya dulu, lalu aku akan langsung mengirim alamatnya dan kalau hujan turun segera berteduh jangan malah di gas terus motormu itu, bisa-bisa kamu nanti sakit kalau kehujanan," kata Bagas yang kemudian memutuskan sambungan teleponnya.

__ADS_1


"Siapa? Kok tumben wajahmu terlihat panik begitu?" Al yang baru saja selesai mandi mendekati Bagas karena laki-laki itu penasaran apa yang telah dibicarakan oleh Bagas tadi.


"Ranum, belum pulang sampai sekarang Tuan, dan kata Sonia nomor ponselnya tidak aktif." Bagas tidak bisa menyembunyikan masalah seperti ini kepada Al. Mengingat laki-laki itu adalah suaminya Ranum.


Al terlihat menyipitkan mata. "Apa gadis itu mau mencoba kabur dariku?" pertanyaan Al rupanya sama seperti pertanyaan Sonia tadi.


"Tidak mungkin Tuan, karena Ranum tidak senekat itu," jawab Bagas langsung. Karena ia tidak yakin kalau Ranum mau kabur dari Al.


"Lalu pergi kemana dia?"


"Anda tenang saja Tuan, karena saya sudah menyuruh Sonia untuk pergi mencari Ranum ke rumah ayahnya."


Al juga jadi berpikiran begitu setelah mendengar Bagas, mengingat percakapannya dengan Ranum ketika ia akan berangkat ke bandara. Dimana gadis itu menanyakan tentang kapan Al akan mengambil Aish.


"Beritahu aku kalau Ranum benar-benar berada di rumah ayahnya." Al lalu berjalan ke arah lemari. "Bisa-bisanya gadis itu tidak meminta izin terlebih dahulu kepadaku jika dia mau pergi ke rumah ayahnya itu," ucap Al.

__ADS_1


__ADS_2