Noda Di Seragam SMA

Noda Di Seragam SMA
Episode 98


__ADS_3

Saat mereka akan tiba Ranum tiba-tiba memegang pa yu da ranya. "Aku mau pompa asi buat Agna dulu, kamu bisa masuk 'kan duluan," kata Ranum.


"Apa kamu akan memompa asi di dalam mobil ini?" tanya Sonia.


Ranum mengangguk sambil membuka suara. "Lalu, mau di mana lagi?"


Sonia menyilang kedua tangannya. "Di sini tidak boleh, di toliet itu tempat yang aku rekomendasikan untukmu memompa asi." Lalu Sonia membuka pintu mobil.


"Di dalam mobil saja, karena kata Tuan Al di toilet tempatnya bersarang para bakteri." Ranum menahan pintu yang akan di buka oleh Sonia dengan cepat. "Disini saja, karena kalau telat di pompa, maka asiku bisa membuat bajuku basah."


"Ya sudah, di belakang saja gih. Karena di belakang ada kelambunya." Sonia lalu membawa tas yang berisi dengan pompa asi itu ke belakang. "Turun dulu, mama mudanya Agna, habis itu langsung ke kursi yang ada belakang." Sona kembali membuka pintu yang di tahan oleh Ranum. "Silahkan mommy Agna …."


Ranum tersenyum melihat tingkah Sonia yang saat ini gadis itu malah membungkuk. "Terlalu berlebihan kamu i–" Kalimat Ranum menggantung karena ia tiba-tiba saja melihat laki-laki yang sangat ia kenal.


"Ry, sedang apa dia disini? Apakah dia juga akan kuliah disini juga? Tapi tunggu dulu, bukankah dia ada di luar Negeri? Lalu siapa yang aku lihat tadi? Apa mungkin saja aku salah lihat?" Deretan pertanyaan hanya mampu di ucapkan oleh Ranum di dalam benaknya saja, ketika ibu dari Agna itu melihat Ryder. "Ah, tidak mungkin. Aku tadi cuma salah lihat saja. Karena aku tidak pernah bertemu dengannya," lanjut Ranum memnatin sambil membuka matanya lebar-benar. Tapi sayang sosok laki-laki yang ia pikir adalah Ryder sudah tidak ada lagi.


"Hei! Kenapa kamu malah ngelamun? Jangan-jangan kamu ke sambet dedemit, kampus ini. Wah ini bahaya." Sonia melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ranum. "Num, kamu tidak sedang kesurupan 'kan?"


"Jangan ngaco deh, Sonia," kata Ranum yang menatap Sonia.


"Terus yang tadi kenapa tiba-tiba saja kalimatmu menjadi terputus?"

__ADS_1


Ranum mengangkat bahunya. "Aku sengaja, menggantungnya supaya kamu melanjutkannya," jawab Ranum asal-asalan. Karena ia tidak mungkin mengatakan kalau ia melihat Ryder yang berjalan di antara deretan orang-orang yang mungkin akan mendaftar kuliah sama seperti mereka.


"Ish, kamu ini hampir saja membuatku jantungan saja. Lain kali jangan begitu yang tiba-tiba melongo dengan mata yang melotot," ujar Sonia.


Ranum mengulas senyum tipis. "Tidak akan lagi. Tapi aku juga tidak berani janji."


"Jika begitu lagi maka aku akan membawa pak ustazd yang akan meruqyah, mama mudanya Agna ini," ucap Sonia bercanda gurau sambil nyengir kuda. Karena ia tidak bisa tertawa keras-keras gara-gara ada banyak sekali siswa dan siswi yang berlalu lalang di sekitaran parkiran itu.


"Sudah jangan bercanda, karena aku mau memompa asiku dulu. Biar bisa masuk ke dalam sana dengan tenang," kata Ranum menunjuk ruangan yang ada di depan mereka saat ini. "Semoga saja kita di terima Sonia."


"Amin, pasti kita akan di terima," sahut Sonia membalas ucapan Ranum.


***


"Apa yang sedang Tuan Al bicarakan dengan suster Flora, sehingga Tuan Al terlihat sangat senang sekali?" tanya Ranum pada dirinya sendiri. Karena ia baru kali ini melihat Al seakrab itu dengan seorang wanita. Di tambah ia juga baru kali ini melihat Al tertawa lepas sehingga laki-laki itu terlihat seeperti tidak memiliki beban sama sekali. "Apa Tuan Al, memiliki rasa pada suster Flo?" Dada Raum tiba-tiba merasa sakit ketika ia bertanya seperti itu kepada dirinya.


"Nyonya Ranum sudah pulang," ucap Flora beramah-tamah kepada Ranum ketika ia melihat ibunya Agna itu berjalan ke arah mereka karena kebetulan letak kamar yang di tempati Ranum sekarang ada di bawah bukan lantai dua lagi. "Sini Nyonya, Anda bisa ikut mengobrol bersama saya dan Tuan Al. Lagipula dedek Agna sudah bobok dengan sangat pulasnya. Jadi, Anda bisa bersantai-santai."


Ranum memaksakan bibirnya untuk tersenyum padahal suasana hati wanita itu sudah tidak karuan. Di tambah lagi ia melihat ada banyak sekali paper bag di dekat Flora. Dengan paper bag yang bertulisan Ezza Fashion dan itu pasti sudah bisa di tebak pasti isinya baju pengeluaran prusahaan Al atau bisa juga sebuah gaun.


"Aku mau ganti baju dulu Sus, lanjutkan saja mengobrolnya dengan Tu–"

__ADS_1


"Stok asi Agna di lemari pendingin sudah habis," potong Al tiba-tiba. Supaya Ranum tidak memanggilnya Tuan di depan Flora. "Kalau kamu sudah memompa asi, tolong catat tanggalnya dan segera taruh di kulkas," lanjut Al tanpa menatap Ranum.


"Ba-baik, aku akan menaruh asiku dulu, dan aku hanya mendapat dua botol kecil saja," sahut Ranum yang kemudian memutar arahnya ke dapur. Tapi lagi-lagi suara Flora membuat d*da Ranum bergemuruh.


"Terima kasih Tuan Al, karena Anda sudah membelikan saya baju dan gaun ini." Suara Flora terdengar sangat senang di indra pendengaran Ranum. "Lain kali, Anda jangan begini Tuan. Saya jadi merasa tidak enak hati."


"Tidak apa-apa, ini sudah menjadi tanggung jawabku. Karena kamu tidak memiliki baju ganti di sini. Dan untuk gaun itu bukankah kamu yang telah bercerita kalau kamu ingin sekali memiliki gaun hasil rancanganku, serta itu pengeluaran Ezza Fashion?"


"Benar sekali Tuan, karena saya selama ini hanya bisa mengagumi gaun-gaun cantik dan begitu indah hasil rancangan tangan Anda hanya dari majalah dan internet saja. Tapi sekarang saya bisa memiliki gaun itu berkat saya bekerja di rumah Anda."


"Nanti malam aku ada acara, apa kamu bisa menemaniku, hanya untuk malam ini saja?" tanya Al sehingga membuat langkah kaki Ranum terhenti.


"Sangat bisa sekali Tuan, dan kalau boleh saya tahu itu acara apa Tuan?"


"Acara pernilahan salah satu karyawanku," jawab Al tanpa ia tahu bagaimana perasaan Ranum saat ini. "Nanti malam, biar Bagas saja yang akan membawakan kamu gaun."


"Bukannya di papar bag ini ada gaun?"


"No! Nanti gaun yang lain." Al menjawab dengan suara yang sangat lembut. "Aku minta jangan mempermalukan aku nanti di sana."


"Mana mungkin saya akan mempermalukan Anda Tuan, pokoknya Anda tenang saja."

__ADS_1


"*Kenapa Tuan Al m*alah mengajak suster Flo? Kenapa tidak aku saja yang istrinya?" gumam Ranum bertanya di dalam benaknya.


__ADS_2