
Setelah makan makan selesai Daniel segera beranjak menuju ruang tamu. Karena saat ini pria paruh baya itu benar-benar ingin tahu siapa gadis yang sedang hamil itu.
"Cukup Papa dan gadis itu yang pergi ke ruang tamu, Mama, Al dan kamu Sayang, diam di sini," kata Daniel yang hanya ingin berbicara empat mata dengan Ranum.
"Tidak bisa, aku akan ikut! Jangan sampai mata Papa yang keranjang itu melirik istriku!" ketus Al menolak karena laki-laki itu tidak mau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Daniel. "Jika Papa masih tetap ingin bicara dengan Ranum saja, maka aku tidak akan membiarkan istriku untuk mengikuti Papa."
"Jangan lancang kamu Al!" bentak Daniel yang merasa tensinya selalu saja naik jika berhadapan dengan Al. "Morea dan Papa saling jatuh cinta, jadi wajar Papa menikah dengannya setelah dia menjadi janda! Oleh sebab itu tidak ada yang telah dirugikan dalam masalah ini," kata Daniel yang tidak terima kalau Al mengiranya akan jatuh hati kepada Ranum. "Otakmu ternyata isinya sangat licik! Pantesan saja Morea berpaling darimu!"
"Ranum, ikut dengan papa mertua kamu Nak, jangan dengarkan Al." Anggun lebih memilih mencari aman ketimbang suami dan putranya itu akan kembali berdebat. "Sana sayang, ikuti papa," kata Anggun lagi ketika melihat Ranum hanya menatap Al. "Tidak apa-apa, nanti Al akan mama urus."
Ranum yang melihat Al mengangguk ke arahnya langsung mengerti bahwa Al sudah mengizinkannya. "Kalau begitu, aku akan mengikuti papa dulu, Mas," ucap Ranum yang memanggil Al dengan nama panggilan mas.
"S*alan si Bagas! Bukannya menyuruhnya memanggilku sayang, dia malah nyuruh Ranum memanggilku mas, dasar! Awas kamu Bagas!" Al membatin sambil menatap Bagas yang sedang berdiri di dekat tembok paling ujung ruangan itu.
Kini Ranum sudah terlihat berjalan mengikuti langkah kaki Daniel dari belakang, sehingga membuat Al menjadi sedikit cemas. Karena laki-laki itu takut kalau Ranum tidak akan menjawab sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Bagas sebelum mereka berangkat ke rumah utama tadi.
"Jangan sampai gadis itu salah bicara, jika itu terjadi maka pria tua itu akan merasa senang karena dia menang." Lagi-lagi Al membatin.
__ADS_1
"Al kamu ikut Mama," ucap Anggun dan entah apa yang akan ia bahas dengan putranya itu.
***
"Siapa namamu?" tanya Daniel yang mulai membuka percakapan dengan Ranum.
"Nama saya Ranum, om," jawab Ranum singkat. Dan tanpa sepengetahuan Daniel saat ini gadis itu merasa sangat gugup. Dapat di lihat dari kedua telapak tangannya saling berpengangan dengen erat.
"Apa pekerjaan kedua orang tuamu?" Daniel menatap Ranum yang saat ini terus saja menunduk.
"Ibu saya sudah meninggal om, dan untuk Ayah saya dia adalah owner di salah satu produk kecantikan yang ada di Jakarta ini, Ayah saya juga memiliki usaha kuliner makanan yang cukup terkenal juga om." Ranum saat ini sedang berbohong sesuai apa yang telah diajarkan oleh Bagas tentu saja itu atas permintaan Al.
"Kebetulan saya juga bekerja sebagai desainer om, dan waktu itu saya dan Mas Al berada di satu acara pameran. Sehingga kami bertemu dan dari sanalah kami mulai menjalin hubungan." Ranum mengangkat wajahnya karena ternyata di telinga ada alat yang terhubung dengan Bagas. Sehingga Ranum diminta untuk tidak menunduk terus.
"Kenapa kamu mengajak putra saya untuk menikah secara diam-diam sehingga saya dan keluarga yang lain tidak tahu? Apakah ini semua rencanamu atau rencananya Al?"
"Maaf sebelumnya om, saya sama sekali tidak mengajak putra om untuk menikah secara diam-diam, karena saya merasa pernikahan kami ini tidak pantas untuk di rahasiakan. Akan tetapi Mas Al yang telah meminta saya untuk menyembunyikan pernikahan kami ini hanya karena … maaf sebelumnya jika perkataan saya akan membuat hati om merasa tersinggung." Ranum menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya perlahan sebelum melanjutkan kalimatnya.
__ADS_1
"Kami merahasiakan ini hanya karena Mas Al takut om akan menggagalkan rencana pernikahan kami, sebab kami sudah tahu tentang om yang terus saja menyuruh bahkan memaksa Mas Al untuk rujuk dengan Mbak Morea, akan tetapi karena Mas Al sudah tahu hubungan gelap om dan Mbak Morea sehingga menyebabkan Mas Al semakin membulatkan tekadnya untuk tidak memberitahu om dan ini semua tentu saja adalah rencananya Mas Al."
Mendengar itu Daniel langsung kesal karena ia merasa bahwa Ranum sudah diajari tentang apa saja yang harus terlontar dari mulut gadis itu sehingga Ranum terlihat sangat hati-hati sekali dalam menjawab setiap pertanyaan pria paruh baya itu.
"Jika sudah tidak ada lagi yang om tanyakan, saya mau pamit pulang dulu." Ranum ingin beranjak tapi suara Daniel membuatnya mengurungkan niatnya.
"Apa bayi yang kamu kandung itu, benar-benar darah daging Al?"
"Jangan tanyakan itu om karena yang pasti ini benar-benar darah daging Mas Al, buah cinta kami berdua. Yang harus om tanyakan …." Ranum lagi-lagi menjeda kalimatnya. Karena gadis itu saat ini sedang mendekat ke arah Daniel. "Yang seharusnya om tanyakan tentang kebenaran apakah Mbak Morena hamil atau hanya berpura-pura saja, karena setahu saya Mbak Morea mandul," bisik Ranum dengan tubuh yang gemetaran karena apa yang dikatakan oleh Ranum ini juga atas perintah Al. "Saya ingatkan, om harus hati-hati karena saya merasa Mbak Morea sedang mengincar sesuatu dari om," ucap Ranum yang tahu pasti saat ini Daniel sangat kesal. Karena memang itu rujuan gadis itu membuat pria paruh baya itu kesal, sekesal-kesalnya.
***
Di dalam mobil waktu di perjalanan pulang. Al tertawa puas karena ia merasa telah berhasil membuat Daniel kesal.
"Demi merayakan ini maka nanti malam aku akan mengajakmu makan malam, Ranum," kata Al setelah laki-laki itu puas tertawa. "Tidak apa-apa kita hanya mendapat setengah harta warisannya, daripada tidak sama sekali." Rupanya Daniel tidak mengingkari janjinya akan tetapi harta itu di bagi dua dengan calon buah hati Al dan Ranum.
"Tuan, saya merasa sudah sangat keterlaluan mengatakan semua itu kepada Tuan besar Daniel," ucap Ranum tiba-tiba tanpa berani menatap Al yang ada di sebelahnya.
__ADS_1
"Tidak ada yang mengatakan itu, justru kamu sudah berhasil membuat pria tua itu akan langsung bertanya kepada Morea. Ah, aku sudah tidak sabar apa yang akan si tua itu lakukan."
Ranum merasa Al benar-benar membenci Daniel, sehingga terlihat jelas laki-laki itu merasa senang hanya karena Ranum berhasil membuat Daniel kesal.